Follow Instagram @susierna1 ya

Jumat, 01 Maret 2019

Cara Menyapih Botol

Maret 01, 2019 2 Comments
Banyak ibu yang memutuskan, secara sengaja atau tanpa sengaja, memberikan botol hingga akhirnya anak tak mau lagi menyusu langsung dari payudara ibunya. Istilahnya bingung puting. Jika sudah demikian, ibu hendaknya memikirkan rencana menyapih anak paling lambat sejak usia 1,5 tahun. Mengapa? Karena menyapih dari botol itu sangat tidak mudah.



Melepas dot atau botol jauh lebih sulit daripada menyapih dari ibunya sendiri. banyak kisah sukses, tapi mungkin lebih banyak yang terlambat. Beberapa anak baru berhasil lepas dari botol saat sudah memasuki usia sekolah. Tentu Bunda tak ingin hal ini terjadi, kan?

Menurut saya, sejak usia 6 bulan sebaiknya bayi sudah bisa disapih dari botol. Saat itu ia sudah bisa duduk dan bisa minum dari gelas minum bayi, juga sudah bisa menyedot dari botol minuman yang menggunakan sedotan. Jadi tak ada alasan menyapih anak hingga usia 2 tahun seperti Menyapih dari ASI.

Beberapa orangtua khawatir anak tak mau minum susu lagi jika disapih dari dot atau botol. Alasannya adalah reaksi rewel anak. Sehari atau dua sudah cukup tuk menilai kegagalan dan penundaan. Bunda harus tahu bahwa minum ASI atau sufor dari botol atau dot memiliki beberapa risiko yaitu:
  1. bingung puting sehingga tak mau lagi menyusu pada bundanya
  2. bayi sering tersedak karena posisi menyusui yang salah
  3. kerusakan gigi karena setelah minum lupa dibersihkan atau diberi air putih
  4. lidah putih karena infeksi

Baca: 7 Alasan Ibu Tidak Mau Menyusui Bayinya

Proses menyapih bayi tidak mudah dan tidak instan, baik yang ASI maupun botol. Harus secara pelan-pelan dikenalkan dengan alat baru dan dengan cara menyenangkan. Alat baru yang saya maksudkan adalah cup feeder dan atau gelas bayi. Kenalkan jenis gelas ini saat bayi mulai berusia 6 bulan. Dengan cara menyenangkan. Jangan ada keterpaksaan dari pihak bayi/anak. Anak harus fun saat melakukannya dan harus bertahap. Konsisten adalah kuncinya. 

Pada awal-awal, sangat lazim jika bayi meminta dot. Saat ini, beri porsi setengah botol dan setengah gelas agar tidak mengagetkan bayi. Kurangi pemakaian dot secara bertahap sampai bisa tuntas sama sekali tidak memakainya. Angka 6 bulan bukanlah angka yang wajib diikuti, karena bundanya pun harus siap melakukannya. Jangan sampai berhenti di jalan. Baru siap di usia 1 tahun? Mengapa tidak? Meskipun saya tetap sarankan secepatnya saja. 

Selamat mencoba cara saya menyapih botol dan dot ini.


Rabu, 27 Februari 2019

7 Alasan Mengapa Tidak Menyusui

Februari 27, 2019 6 Comments
Menyusui adalah kegiatan yang harus dilakukan para ibu setelah melahirkan bayunya. ASI merupakan cairan hidup yang memiliki banyak antibodi untuk imunitas anak sejak lahir sampai dewasa. ASI juga membuat bayi lebih cerdas karena memiliki formulasi terbaik bagi manusia. Dan, ASI juga membuat proses bonding ibu dan anak lebih kuat sehingga anak menjadi pribadi yang nyaman di mana saja, tidak rewel, serta memiliki empati yang tinggi. InsyaAllah.



Ada 7 alasan yang biasa digunakan para ibu untuk tidak menyusui:

1. Harus kembali bekerja - bukan alasan krn bisa pakai ASI perah. Kantor juga mulai menyadari peran penting ini dan memberikan waktu serta ruang khusus bagi busui untuk memerah. Asi bisa tahan di suhu ruang (ber-AC) selama 8 - 8 jam. Di suhu tanpa AC bisa tahan 4 jam.

2. ASI tidak keluar lagi. Sebenarnya makin sering dihisap, makin banyak ASI yang keluar. Jika produksi ASI menurun atau terhenti, bisa jadi salah teknik menyusui, dan atau jarang disusukan.

3. Bayi tidak mau menyusu. Biasanya terjadi karena bingung puting. Ibu sejak awal menggunakan dot sebagai media menyusukan. Hal ini bisa dicegah dengan tidak memberi dot. Bisa dengan cup feeder atau dengan sendok. Jika telanjur bingung luting, bisa diterapi dengan cara menghentikan penggunaan dot. Latih anak minum dengan sendok sampai setengah kenyang lalu susui anak. Bayi yang biasa meminum dengan dot akan kesulitan minum langsung dari outing ibunya. Makanya perlu dilatih. Susu yang keluar dari dot biasanya lebih deras dan mudah. ASI yang keluar dari puting ibu yang agak lama tidak menyusui, volumenya akan mengecil dan sedikit. Bayi juga perli dilatih meminum ASI sampai payudara ibunya kosong.

4. Puting ibu lecet dan kesakitan. Beberapa busui menghentikan memberi ASI ketika puting susunya lecet parah dan memberi obat. 1 hari masih bisa denhan risiko produksi ASI berkurang cukup tajam, tapi jika 2 atau 3 hari, biasanya payudara akan membengkak bahkan terjadi masitis sehingga semakin sakit. Berhenti menyusui juga biasanya disertai memberikan botol pada bayi dengan risiko bayi bingung puting dan memilih botol daripada ASI.

5. Hamil lagi. Menyusui saat hamil memiliki risiko ibu kehilangan banyak nutrisi yang seharusnya dibutuhkan oleh janin dan ibu yang sedang hamil. Bayi yang minum ASI juga bisa mengalami diare karena tidak kuat dengan tingginya hormon estrogen ibunya. Hal ini membuat beberapa dokter menyarankan berhenti memberi ASI, kecuali sang ibu dapat meminimalisir risiko di atas sehingga ibu, bayi dan janin sehat dan berkecukupan nutrisinya.

6. Takut bentuk payudara kendor dan turun. Beberapa perempuan sangat memperhatikan penampilan tubuhnya sehingga rela tidak menyusui agar tetap memiliki tubuh proporsional. Faktanya, menyusui tidak membuat payudara kendor dan turun. Bentuknya akan kembali lagi setelah selesai menyusui.

7. Menderita HIV atau Hepatitis B. Dua penyakit ini memang dilarang menyusui bayinya dan harus diganti dengan susu formula.

Minggu, 22 Juli 2018

Rabu, 18 Juli 2018

Belajar Memasak dari Cookpad

Juli 18, 2018 0 Comments
Saya termasuk ibu yang senang memasak sesuatu yang unik, dan Cookpad Indonesia adalah salah satu situs andalan saya dalam belajar memasak. Cookpad adalah salah satu situs mencari resep masakan yang menjadi andalan saya. Kebanyakan makanan tradisional saja, karena saya tak terbiasa dengan menu internasional. Terbukti, beberapa kali diner ala Barat, saya sulit mengapresiasi menunya. Lebih sering berputar pada steak dan steak. Menu ala Italia sudah saya tutup dari entah kapan karena sering tidak cocok dengan lidah saya.


Salah satu menu yang paling sering saya Tanya adalah cara membuat ayam goreng ala KFC. Ini menu kesukaan anak, tetapi saya belum menemukan resep yang pas dan mirip. Jadi, memang harus terus mencari dan mencoba. Demi anak-anak juga.

Menu lain yang sering saya akses adalah menu membuat jajanan sederhana. Yang tiba-tiba diminta anak, atau yang sedang banyak dijual di sekitar mereka. Itu salah satu cara agar menjadi ibu yang dirindukan anak dan suami.

Cookpad adalah layanan berbagi resep berbagi resep terbesar di dunia, menyediakan wadah bagi setiap orang di seluruh dunia untuk berbagi dan mencari resep dengan cara mudah, rapi dan menyenangkan. Bisa dikatakan, hampir semua resep ada di sana. Bahkan resep tradisional. Saya belum aktif di situs ini. Masih sebatas mencari resep dan praktik. Padahal, jika mau membuat usaha berbasis makanan, situs ini sangat cocok untuk dijelajah. Apalagi salah satu visi Cookpad Indonesia adalah untuk memberdayakan semua perempuan Indonesia melalui memasak. Visi yang bagus, kan?

Apa saja yang dapat kita peroleh di Cookpad?

  1. Mencari menu masakan lebih mudah berdasarkan kategori bahan dan tingkat kemudahan
  2. Bisa menulis resep, membaginya, atau recook (memasak resep teman dan menulis kembali resepnya)
  3. Jutaan menu Indonesia bisa dicoba, termasuk resep kekinian yang dijual di sekitar sekolah anak
  4. Tampilan antarmuka situs cookpad ramah pengguna
  5. Ada resep terpopler seperti layaknya blog dan media sosial
  6. Dashbor Cookpad ramah pengguna, sehingga mereka yang mengaku gaptekkers bisa tetap berbagi resep dengan bahagia.
  7. Jutaan pengunjung harian, karena sangat ramah SEO. Silakan coba cari resep tertentu, resep di Cookpad akan muncul di laman pertama dan biasanya paling atas.

Nah… apakah AyBund ingin ikut berkontribusi di Cookpad atau hanya jadi silent reader seperti saya? Monggo-monggo mawon. Yang jelas, belajar memasak dari Cookpad itu sangat menyenangkan.

Selasa, 17 Juli 2018

Google Translate: Menerjemahkan Bahasa Asing dengan Cara Asyik

Juli 17, 2018 0 Comments
Google Translate menjadi salah satu aplikasi belajar harian saya. Cara asyik bagi saya, yang sering menerjemahkan literatur berbahasa asing ke dalam bahasa Indonesia untuk studi pustaka. Ada saja buku-buku sejarah berbahasa nggris dan Belanda yang harus saya baca dan pahami. Menggeluti dunia sejarah, membuat saya harus banyak membaca. Buku-buku sejarah paling banyak berasal dari luar negeri. Wajar saja, karena saat itu, budaya menulis di nusantara belum be gitu besar. Bukan hanya sebagai negara terjajah, karena saat negara kita masih berupa nusantara dan belum kedatangan bangsa Eropa pun, bukti tertulis sangat sulit ditemukan. Beberapa babad yang bisa dijadikan sumber sejarah lokal pun, biasanya berupa roman dengan nama-nama yang disamarkan. Beberapa berupa Bahasa sanepo, dan dilagukan dengan rima tertentu. Belum lagi, penanggalan sangat jarang diberikan. Budaya animisme masih kental, sehingga adakalanya nama-nama tokoh disamarkan dengan nama binatang. Bahkan tulisan sejarawan kulit putih pun harus benar-benar disaring karena sudut pandang dan budaya kita berbeda. Yah, itulah tantangan sejarawan.

terjemahan Kartini: Feiten en ficties karya C. Vreede-De Stuers
Contoh literatur yang saya baca. Saya kombinasikan ketiga bahasa ini untuk lebih baik dalam memahami artikel yang sebagian besarsaya dapatkan dari e-resources.perpusnas.go.id. Tulisan lengkapnya dapat dibaca di artikel: Membaca Jutaan Buku Digital dari Seluruh Dunia? Bisa!

Sebagai salah satu aplikasi belajar harian, mau tak mau, saya harus menulisnya. Mungkin AyBund juga membutuhkannya. Bagi AyBund yang tidak butuh, harap jangan anggap sepele aplikasi ini. Tingkat akurasinya terus bertambah. Saya yang pendidikan Bahasa Inggrisnya hanya sampai SMA pada tahun 1997 sangat terbantu. Bagaimana dengan Bahasa Belanda?

Saya tak pernah belajar Belanda, sedangkan sebagian literature yang saya baca berbahasa Belanda. Itulah salah satu alasan terbesarnya. Saya bisa pusing tujuh keliling mencari cara menerjemahkan jika tak ada aplikasi ini. Menyewa tenaga penerjemah juga akan sangat mahal dan tak terjangkau.

Nah, saat menerjemahkan artikel berbahasa Belanda, saya menggunakan Google Translate dari Bahasa Belanda ke Bahasa Inggris. Akurasi penerjemahan bahasa Belanda ke Indonesia belum bagus. Berbeda dengan penerjemahan bahasa Belanda ke bahasa Inggris yang jauh lebih baik.

Nah.. inilah peran Google Translate bagi saya sebagai salah satu aplikasi belajar saya yang wajib dan sangat membantu. Semoga bermanfaat.

Senin, 16 Juli 2018

Tips Menjaga Anak Tetap Aman di Dunia Maya

Juli 16, 2018 0 Comments
Sebagai bagian dari keluarga multimedia, kami, suami istri Susindra tak bisa mencegah anak-anak masuk ke dalam dunia maya atau dunia digital. Sejak mereka baru lahir pun jejak mereka sudah ada di data kependudukan yang dititipkan pula di dunia digital. Apalagi, melihat kedua orangtuanya berada di dunia yang gemerlap ini. Maka yang dapat kami lakukan adalah menjaga anak-anak tetap aman di dunia maya.


Pada kisah sebelumnya, saya berkisah tentang bagaimana kami mengedukasi anak dalam bersosialisasi di dunia maya melalui Facebook. Kami menetapkan batasan-batasan. Tak hanya itu,, perjanjian online pun kami berlakukan. Bagaimanapun, saya menganggap cara ini lebih lentur dan mengikuti zaman.
Nah, di posting sebelumnya tentang Buku Digital Literasi pun, saya telah memberitahu tentang akses memiliki beberapa puluh buku digital mengenai literasi digital secara gratis. Nah, saya tertarik memasukkan salah satu isi buku Seri Literasi Digital berjudul INTERNET SEHAT: Pedoman Berinternet Aman, Nyaman, dan Bertanggungjawab karya Relawan TIK bernomor ISBN 987-602-51324-1-4. Buku ini dijual di toko buku dan telah digitalkan secara resmi untuk semua kalangan. Kali ini saya membuat mengambil intisarinya saja dan menyesuaikan dengan kebutuhan anak saya.

Ada 7 tips menjaga anak tetap aman di dunia maya yang dapat kita praktikkan bersama, yaitu
1. Masuklah ke dunia online mereka. Keterlibatan orangtua di dunia online anak sangat penting, seperti layaknya orangtua harus mengenal teman bermain anak dan lingkup gerak mereka.
2. Buat aturan. Tak ada kebebasan tanpa batas, meskipun dunia online memang tanpa batas. Justru karena itulah, maka orangtua perlu membuat batas yang jelas. Buat aturan bersama yang dipasang di dekat tempat anak mengakses internet.
3. Ajarkan tentang privasi di dunia maya. Mengajarkan privasi membuat anak tahu batas informasi yang dapat dibagi. Ajarkan anak untuk:
a. Tidak memberikan data pribadi: foto, nama lengkap, nomor telpon, alamat email, alamat rumah, alamat sekolah, dan privasi lainnya.
b. Tidak membuka email/inbox orang yang tidak dikenal.
c. Segera laporkan ke orangtua jika ada pesan yang mengganggu
d. Menolak bertemu teman yang belum dikenal
4. Area online anak haruslah di tempat terbuka di dalam rumah. Kami melarang keras anak membuka HP dan laptop di kamar, agar tetap dapat memantau aktivitas mereka.
5. Menjadi sahabat online anak. Saya selalu siap membantu anak menapaki dunia maya dan menggandeng mereka agar tidak tersesat di belantaranya. Anak yang tahu bahwa orangtuanya adalah sahabatnya baik di dunia nyata maupun maya, akan lebih percaya diri dan santun dalam menjalani kedua kehidupan ini.
6. Setting gawai ke mode pencarian aman. Setiap perangkat sebenarnya telah memiliki penyaring. Kita tinggal mengaktifkan saja mode pencarian amannya. Tetapi untuk berjaga-jaga, saya tetap memantau aktivitas online anak dan mengajarkannya agar tidak scroll ke bawah tetapi kreatif bertanya jika belum mendapatkan jawabannya.
7. Kenali situs dan aplikasi yang aman untuk usianya. Ini sangat penting. Bisa dikatakan, saya tak pernah mau tertinggal dari anak, untuk urusan peronlinenan. Mereka mengakses apa, saya harus punya jawaban dan sanggahan jika ternyata tidak cocok. Saya selalu mengupgrade diri agar anak tidak tersesat. Menjadi cahaya harus bisa tahu jalan di depan agar tidak menyesatkan. Bukankah begitu?

Nah… itulah beberapa tips dari saya dan buku Internet sehat untuk AyBund yang memiliki keluarga multimedia namun masih khawatir mencemplungkan diri dan keluarga ke dalam dunia maya. Mengenali medan adalah salah satu tips aman menjaga anak tetap aman di dunia maya. Karena internet aman dan nyaman bagi anak adalah sebuah keniscayaan.

Minggu, 15 Juli 2018

Buku-Buku Digital Literasi yang 100% Gratis

Juli 15, 2018 0 Comments
Alangkah senangnya jika punya buku-buku tentang digital literasi, ya. Aybund pastilah merasakan urgenitas memiliki buku-buku ini karena beberapa kejadian anak-anak menulis tentang sesuatu yang sangat menakutkan di beberapa media. Saya termasuk ibu yang sibuk menjawab apa itu “agama Bowo”, “bagaimana cara Bowo mendapatkan uang”, “kenapa membayar untuk foto dengan Bowo”, dan seputar dunia Tik Tok yang menarik minat anak-anak pra remaja saya. Bukan minat punya aplikasi ini atau terlibat di dalamnya, tapi kenapa bisa begitu.


“Agama Bowo… mungkinkah ada agama semacam itu dan bagaimana bisa terjadi” adalah titik kritis mereka. Anak-anak pra remaja saya itu melihat apa yang terjadi di dunia digital begitu wow dan memukau. DAN MEREKA INGIN MEMPUNYAI UANG TAMBAHAN DARI DUNIA DIGITAL seperti Bowo. Secara logika, wajar jika anak melihat kemudahan dan gelimang harta pada 'teman' seusia memantik semangat. Di sinilah peran saya sebagai orangtua yang harus jeli dan bisa pelan-pelan memasukkan value keluarga dan etika tak boleh berbenturan dengan mimpi yang sedang mereka rangkai.

Masuk dunia digital, siapa yang belum masuk ke dunia digital? Putra saya sudah berada di sana sejak kecil. Sudah punya Facebook entah sejak tahun kapan saya lupa, karena saat itu saya membolehkan mereka bermain game, dan Facebook menjadi salah satu penyedia games online yang aman versi saya dan suami. Tentu dengan aturan ketat yaitu hanya untuk games, penerimaan teman harus seizin kami, hak pantau akun 100% (kami boleh membukanya malam hari untuk mengecek aktivitas mereka, termasuk inbox dan grup) dan tak boleh menulis status atau menulis hal/kata kasar di sana.


Bagaimana pun kami menyadari bahwa dunia digital, sebagaimana dunia nyata, diakses dan digunakan oleh semua jenis manusia. Orang-orang jahat bisa menggunakan wajah asli atau berkedok. Dan itu sangat mengkhawatirkan. Terlebih, otak logika anak baru tersambung 100% di usia 25 tahun. Jadi, anak baik pun bisa ikut-ikutan menulis hal buruk karena tak menyadari apa yang ia lakukan. Contoh ternyata adalah kasus komentar anak-anak tanggung berbau kencur yang mendewakan sosok Bowo. Saya terkejut dengan perubahan batas malu anak-anak usia SMP yang menyatakan mau diper**sa Bowo, yang mau menjual harta termahalnya demi… dan bahkan mau menjual ibu/neneknya untuk Bowo. Di sinilah, peran orangtua sangat diperlukan. Namun orangtua saja tidaklah cukup. Sekolah, pemerintah, dan lingkungan harus membentuk kolaborasi yang indah. Perlu lebih banyak buku-buku digital literasi yang dapat dibaca anak. Dan mau tak mau, buku digital menjadi salah satu media membaca favorit mereka.

31 Januari 2018 lalu, beberapa stakeholder yang bekerja sama dalam pembentukan situs penyedia buku-buku digital literasi. Mereka telah lama merasa prihatin dengan pertumbuhan angka pengguna internet, yang tidak dibarengi dengan pengetahuan dasar. Ada 137 juta pengguna internet, 50%-nya adalah digital native, yang masuk tanpa persiapan, karena orangtuanya pun tak punya persiapan. Mereka menceburkan diri di dunia ini dan tersesat bersama. Beberapa di antara mereka melupakan kesantunan beretika. Maka, belasan series buku literasi digita untuk semua umur ini diharapkan dapat menambah pengetahuan semua pengguna internet. Mari kita manfaatkan bersama-sama. Silakan mengakses Literasi Digital ID dan bebas baca/unduh serta bagi ke masyarakat lainnya. Jika di HP sudah ada Google Drive, file akan terunduh di sana tanpa membebani penyimpanan/storage HP.




Kita orangtua sebagai generasi X, Y, atau Z, mungkin bisa mengatakan bahwa buku riil lebih nyaman. Bau buku lebh sedap. Mata lebih sehat. Posisi membaca bisa nyaman. Tapi anak-anak generasi Z yang kita lahirkan bukanlah makhluk yang sama. Mereka penghuni asli dunia digital, yang dengan sendirinya lebih nyaman dengan segala bentuk digital. Maka, situs LITERASI DIGITAL bisa menjadi solusi bagi mereka (dan kita Ayah Bundanya). Ada beberapa puluh buku tentang digital literasi yang dapat dipilih, diunduh dan dibaca. Semuanya gratis. Situs ini tidak hanya untuk anak-anak, karena ebook siap unduh juga untuk semua usia. Buku-buku dari penerbit mayor didigitalkan untuk kita belajar bersama. Beberapa buku ini bisa kita beli versi cetaknya di toko buku. Asyik, kan? Tunggu apalagi.