Follow Instagram @susierna1 ya

Rabu, 29 November 2017

Mengajarkan Si Kecil Mengelola Uang Saku

November 29, 2017 4 Comments
Kemarin saya berbagi cerita dan membagi tips menentukan uang saku bagi anak. Kali ini saya ingin mengajarkan pada Binbin cara mengelola uang sakunya.


Uang saku adalah miniatur gaji ketika besar nanti. Pilihannya dalah menghabiskan sekaligus, menabung untuk kebutuhan besar kelak atau mengelola agar bisa digunakan untuk usaha. Semua kembali pada kecerdasan finansial. Dan ternyata, ini juga melibatkan habit atau kebiasaan sejak kecil. Jadi bukan pengetahuan yang tiba-tiba dikuasai. Anak juga perlu dikenalkan konsep uang dan financial planning.


 
Hari ini saya agak bingung membagi waktu. Saya baru ketemu anak-anak pada sore hari karena berkegiatan di luar. Ketika pulang pun langsung gercep merapikan rumah, memenuhi pesanan Binbin agar memasak kolak, dan membuat menu makan malam. Masih diselingi mengecek kebun mini karena tadi ditinggalkan seharian. Hua…h. Alhamdulillah lelah yang bahagia. Jelang Isya ke rumah saudara yang kemarin kehilangan bapak. Sampai di rumah jam 8 malam, yang praktis semuanya sudah tidak kondusif. Kedua putra saya biasa tidur jam20.30 WIB, atau maksimal jam 21.30 WIB. Saya hanya punya 30 menit. Cukup dan dicukup-cukupkan.

Anak selalu meng-copy ucapan dan tindakan orangtuanya. Makanya, penting bagi ibu dan bapak untuk mengenalkan pada konsep yang tepat melalui teladan. Tak terkecuali pada konsep dan nilai uang. Ini adalah beberapa tips mengajarkan anak mengelola uang saku, yang bisa dimulai dengan :Anak selalu meng-copy ucapan dan tindakan orangtuanya. Makanya, penting bagi ibu dan bapak untuk mengenalkan pada konsep yang tepat melalui teladan. Tak terkecuali pada konsep dan nilai uang.

Ini adalah beberapa tips mengajarkan anak mengelola uang saku, yang bisa dimulai dengan :
  1. Menjelaskan apa itu uang dan fungsinya. Uang adalah alat pembayaran dan alat pertukaran yang digunakan dalam memenuhi kebutuhan. Uang juga merupakan identitas dan kebiasaan hidup.
  2. Mengenalkan kebutuhan dan keinginan.  Keduanya sangat mempengaruhi seberapa besar uang yang dikeluarkan anak.
  3. Mengenalkan konsep menabung untuk mendapatkan hasil yang lebih besar
  4. Mengenalkan bonus sebagai miniature upah kerja jika semua pekerjaan rumah dikerjakan dengan baik.
  5. Membelanjakan dengan cermat; karena butuh, bukan karena ingin.
  6. Mengenal neraca debit – kredit sederhana agar anak tahu berapa ‘kekayaan’ yang mereka miliki.
  7. Mengenal investasi dengan cara membuat uang saku yang telah ditabung menjadi modal usaha. Misalnya anak memberi camilan dan menjualnya.
Nah, itu adalah cara mengajarkan anak mengelola uang sejak kecil. karena waktu kami tidak banyak, kami akan melanjutkan besok pagi. Bagaimana kisah kami dalam mengenalkan matematika pada anak? Kemali ke sini besok ya.

Selasa, 28 November 2017

Menetapkan Uang Saku yang Paling Pas

November 28, 2017 8 Comments

Berapa uang saku yang paling tepat bagi anak SD?


Berdiskusi dengan anak tentang uang saku bisa terjadi kapan saja, terutama saat anak merasa sudah saatnya mendapat sangu yang lebih tinggi. Wajar, sih, menurut saya. Dan kami sudah beberapa kali membicarakan bersama. Biasanya diawali dengan permintaan tambahan uang jajan.
Untuk uang saku, saya dan suami sudah menyepakati sejumlah yang kami anggap pantas bagi anak seusia Destin dan Binbin. Destin sudah kelas 1 SMP dan Binbin sudah kelas 4 SD.
Saat menetapkan jumlah uang harian, kami sudah mempertimbangkan beberapa poin khusus sesuai lingkungan tinggal kami, yaitu:
1. Jarak rumah dengan sekolah dan bagaimana cara mereka sekolah.
2. Harga makanan di sekolah mereka
3. kegiatan hari itu - jumlah jam pelajaran.
4. Biaya lain-lain di sekolah seperti fotokopi atau jimpitan.
Pertimbangan kami tidak sebanyak teman-teman di kota. 4 poin di atas sudah mencakup semua.

Destin


Destin berangkat sekolah diantar jemput oleh bapaknya. Jaraknya agak jauh dan tidak memungkinkan baginya untuk naik sepeda. mengendarai motor sendiri juga bukan opsi meski beberapa teman melakukannya. Parkir di luar sekolah, sehari hanya Rp 1000,- memang menarik  minat para orangtua untuk mengizinkan anak SMP-nya naik sepeda sendiri. Kalau saya... no... no... no... no discussion either. 

Asyiknya sekolah di kota kecil memang segalanya serba murah. Jajan juga demikian. Setelah mempertimbangkan 4 poin di atas, kami menyepakati uang saku sejumlah Rp 7000,- di luar kebutuhan lain seperti fotokopi atau iuran (jika ada).

Untuk mengetahui berapa jumlah uang saku yang pas untuk anak SD, perlu identifikasi lingkungan dan kebutuhan anak

Binbin

Setiap hari Binbin ke sekolah naik sepeda. Jarak dengan sekolah hanya 400 meter saja, dan melewati jalan kampung. Karena sekolah di kampung, jajan di sana sangat terjangkau. Nasi goreng masih Rp 1000,- se porsi kecil. Jajan juga masih lima ratusan. ;)
Uang saku Binbin Rp 5000,- dikurangi jimpitan kelas Rp 500,- sampai Rp 1000,-. Jimpitan model begini sebenarnya tidak diperbolehkan, namun sekolah memberitahu bahwa uang tersebut untuk tabungan piknik di kelas enam. Semoga saja memang demikian.
Nah, mengenai pertimbangan ketiga, jam pelajaran, akhirnya, setelah diskusi beberapa kali, tidak akan dikurangi atau dilebihi. Namun jika ada les, kami memberi uang ekstra tanpa diminta

Kesimpulan

Tak peduli berapa pun uang saku dan usia anak, yang paling penting adalah mengajarkannya mengelola uang. Untuk Mas Destin, dia sudah terbiasa mengatur uang sakunya dengan baik. Sebagian untuk jajan, sebagian lagi untuk celengan dan biaya tidak terduga. Meski ia boleh meminta kapan pun biaya tidak terduga, namun si remaja tanggung ini memang hebat dalam mengelola uang sakunya. Hasil tabungan hariannya sangat lumayan.
Wayang sekotak tak ada yang sama, begitu pepatah Jawa. Adiknya Binbin lebih ekspresif dan banyak gerak. Kebiasaannya ini membuat uang sakunya lebih sering habis daripada tersisa. Dahulu, setiap pulang sekolah ia selalu meminta uang jajan. Setelah saya mengajarinya memecah uang saku dan membagi sesuai post, akhirnya semakin lumayan. Dua kali istirahat, dua kali jajan. Sisanya untuk cemplungan di rumah. Memang tidak mudah dan banyak gagalnya, tetapi saya percaya, perlahan pasti bisa disiplin seperti masnya.

Uang saku yang dikelola anak di sekolah berbeda dengan uang jajan di rumah. Tentu ada posnya sendiri. Tetapi, untuk uang jajan sore hari, masih optional. Jika saya tidak bisa membuatkan camilan atau memang anak ingin membeli jajan yang dihentikan tetangga. Tiap sore ada jagung rebus, cilok, dan bakso yang lewat.  Bahagianya saya, tidak setiap hari mereka membeli. Ya kali... karena mereka makan snack kering yang disiapkan mamanya tuk teman menulis. :D

Senin, 27 November 2017

Bermain Sundamanda Sambil Belajar Matematika

November 27, 2017 0 Comments
Engklek (bahasa Jawa tengah) atau Sonda (Jawa Timur) ternyata merupakan permainan yang dikenal di beberapa belahan pulau di nusantara. Jawa, Sumatra, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi memiliki permainan ini. Beberapa istilah lain: sonda, sundamanda, engklek, angkle, angkling, obak.

Ternyata ada kata Zondag-Maandag dalam bahasa Belanda, yang menggambarkan perebutan sawah antara pribumi dan Belanda. Besar kemungkinan permainan ini merupakan sindiran kepada pemerintah kolonial yang menguasai Indonesia 350 tahun tersebut. Tetapi, lagi-lagi saya menemukan fakta yang unik bahwa di Inggris pun ada permainan ini dan mananya hopskotch. 


Nah.. ternyata sebuah permainan bisa membawa kita jalan-jalan jauh ke negeri Barat sana. Dan, menarik sekali ketika kita mau sesekali melihat sejarah yang ada di belakang kita. Bukankah begitu?


Cara Bermain:
  • Pemain pingsut atau hompimpah untuk menentukan urutan pemain
  • Setiap pemain punya gacok
  • Berdasarkan urutan, pemain melakukan pelemparan gacok. Hasil lemparan harus ke kotak berangka 1, dan tidak boleh keluar kotak.
  • Pemain melewati semua bidang dengan satu kaki. Dalam perjalanan kembali, ia harus mengambil gacoknya kembali. Semua dilakukan dengan sebelah kaki saja, kaki yang lain dilipat ke atas

Perlengkapan:
  1. Gacok/gancuk berupa kereweng (potongan genteng/keramik). Jika tidak ada, bisa potongan batu.

  2. Kapur untuk membentuk bidang permainan engklek

  3. Tanah/bidang datar untuk bermain.

Jumlah pemain: Minimal 2 orang, maksimal tidak terbatas, meski idealnya 5 anak.


  • Larangan: tak boleh berjalan, tak boleh jatuh, tak boleh melewati garis, tak boleh melewati kotak milik lawan (jika nanti sudah terjadi proses klaim kotak). Jika salah satu terjadi, ia digantikan pemain lainnya.

  • Jika berhasil, ia boleh bermain lagi dengan melempar ke kotak nomor 2 dan mengulang seperti sebelumnya.

  • Jika ia berhasil melewati semua kotak, ia mendapat hak istimewa atau hak ekslusif mengklaim kotak. Caranya, dengan melempar gacok dalam posisi membelakangi. Kotak yang masuk adalah miliknya dan taka da yang boleh melewati.

  • Penentuan pemenang adalah pemiliki kotak terbanyak.
Seperti itulah cara bermain engklek atau sundamanda

Minggu, 26 November 2017

Menyambut Aha Moment Dengan Bahasa Cinta

November 26, 2017 0 Comments
Selama menjadi orangtua, saya mengalami banyak sekali diskusi panjang yang sering tak selesai. Bukan karena lack of skill tetapi lebih ke maturity. Anak tak selalu menjadi subyek penanggungjawab minimnya kedewasaan. Terkadang malah kami sendiri yang menjadi subyeknya.tak mudah, sungguh, mengakui bahwa saya terkadang kalah dengan ego sendiri. Tetapi saya senang hati berlindung dengan kalimat’ Parenting is never ending learning


Nah, problematika paling krusial di Omah Susindra adalah GADGET. We are so addict to it. Kami sadar betul bahwa gawai telah memperbudak kami – di saat tertentu.kami butuh meninggalkannya perlahan. Yang perlahan ini kadang terlupakan sejenak. Oh Gusti…. Ini perjuangan yang entah sampai kapan baru bisa dimenangkan. Saya sangat menyadari bahwa DnB, dua anak saya, terkadang sulit mengerti bahwa sebagai blogger influencer di media sosial, dan ibu pembelajar di komunitas Ibu Profesional, saya harus sering memegang Android. Sebagai penulis, saya sering duduk anteng di depan laptop, berjam-jam, kadang lupa diri.

Sore ini, seperti sore yang biasanya, anak-anak memegang gadget. Destin dengan tablet dan Binbin dengan laptop. Saya dan suami pun tak mau kalah. Kami memegang android kami dan bersosialisasi di WaG. Ah.. sore yang sangat khas. Bagaimana mengubahnya menjadi sesuatu yang baru? Saya pandang 3 laki-laki kecintaan yang sedang asyik memegang gadget. Tiba-tiba Binbin si bungsu bertanya, “Mama, air mendinginkan ruangan ya?”

Sore ini, seperti sore yang biasanya, anak-anak memegang gadget. Destin dengan tablet dan Binbin dengan laptop. Saya dan suami pun tak mau kalah. Kami memegang android kami dan bersosialisasi di WaG. Ah.. sore yang sangat khas. Bagaimana mengubahnya menjadi sesuatu yang baru? Saya pandang 3 laki-laki kecintaan yang sedang asyik memegang gadget. Tiba-tiba Binbin si bungsu bertanya, “Mama, air mendinginkan ruangan ya?”

Aha! Saatnya diskusi!Dan kami pun terlibat kegiatan mencari informasi bersama dan bergantian menjelaskan.

Apakah semudah itu? Tentu tidak.
Ada 2 poin utama melandasi kesuksesan forum komunikasi sore lalu.
1. Ide diskusi dimulai dari anak, sehingga mereka mempunyai motivasi dari dalam.
2. Bahasa cinta DnB adalah bahasa sentuhan.

Jadi, saya langsung mendekatinya dan memeluk sebagai tanda bahagia mendengar idenya. Perihal itu, saya merujuk pada Bahasa Cinta Anak menurut Gary Chanpan & Ross Campbell dari buku The Five Love Languages of Children. Saya mendapatkannya dari review & camilan kuliah Bunda Sayang level 1 Komunikasi Produktif.

Berikut cara memberikan bahasa cinta pada anak yang lebih suka berupa Sentuhan Fisik:

  • Saat bertemu dan berpisah dengan si kecil, berilah pelukan.
  • Saat si kecil stres, beri belaian untuk menenangkannya.
  • Peluk dan cium si kecil saat ia tidur malam dan bangun pagi.
  • Setelah mengajar disiplin pada si kecil, beri pelukan sejenak dan jelaskan bahwa pengajaran yang diberikan adalah untuk kebaikannya dan Anda tetap sayang padanya.
  • Saat memilih hadiah untuknya, beri benda yang dapat ia pegang/peluk, seperti bantal, boneka, atau selimut.
  • Saat menghabiskan waktu bersama si kecil, seperti menonton televisi bersama, duduklah berdekatan dengannya, sambil berpelukan.
  • Sering-seringlah bertanya padanya apakah ia mau digandeng atau dipeluk.Apabila ia terluka, pegang dan peluk mereka untuk memberi kenyamanan
Cukup banyak, kan, contoh membahasakan cinta pada anak. Coba kenali deh, apa bahasa cinta ananda. Kalau penasaran, silakan googling ya.

Pijat Kaki Berbahasa Inggris

November 26, 2017 4 Comments
Beberapa hari ini saya punya begitu banyak kesibukan. “Rasanya seperti mengejar ekor sendiri,” keluh saya beberapa kali karena memang tidak segera selesai. ‘Hilal’ penyelesaian terasa sangat jauh. Adakalanya saya menyegaja piknik sejenak agar tidak panik. Agar tetap cantik.

Tapi… mau tidak mau, berimbas ke badan saya juga. Saya jadi mudah lelah dan mudah tertidur pulas sebelum waktunya.


Kemarin, usai salat Magrib, Binbin menawarkan diri memijat dengan kaki. Istilah kami orang Jepara adalah ‘ngidaki’. Tumben, pikir saya. Biasanya harus meminta dahulu.
Tanpa ba bi bu… saya siapkan badan. Lumayan banget…

Kalau badan pegal semua dan kelelahan, pijat kaki begini memang surge banget. Apalagi berat badan Binbin terbilang pas; tidak ringan, tetapi tidak berat. Mas Destin yang lebih besar karena sudah SMP paling pas pijat kaki bagian paha. Alhamdulillah, kedua anak saya semuanya mau membantu kebugaran mamanya. Mama yang bugar = masakan yang lebih lezat dan mudah mengiyakan permintaan. Hahahaha…


“wah… kamu ingat zaman masih TK sering memijat Mama sambil menghapal angka 1 – 200 dalam bahasa Inggris, Mas Binbin?” tanya saya dengan mata berbinar.
“Ingat,” jawabnya, “Tapi sekarang sudah lupa.”
“Kenapa tidak mencoba lagi. Yuk… yuk… yuk….” ajak saya dengan semangat.
One… two… three… four… five… six… seven… eight… nine… ten… eleven… twelve…

Kami mulai menyebutkan angka bergantian. Setelah mendapat seratus, Binbin pamit ke depan. Saya yan merasa nyaman, tiba-tiba sangat mengantuk. Dan tak butuh waktu lama, langsung tertidur. Padahal saat itu masih belum Isya’. Hahahaha…. Saat terbangun jam 2 dini hari, saya menyesal karena gagal mengerjakan 1 tantangan. Padahal saya berencana meraih 3 badge, I love Math, Excellent dan Outstanding Performance. Ya sudahlah. Nasi sudah jadi bubur. Terpenting bagi saya adalah menyelesaikan minimal 10 hari tantangan.

Hari ini, saya agak selo, karena hanya mencuci baju seabrek sambil menulis pesanan buku yang sudah jelang DL. Saya tidak berkebun, tidak ada kegiatan keluar, dan yah… bisa dikatakan, it’s a normal day. Kecuali memang baju yang saya cuci sangat banyak. Tapi kan mesin cuci yang mengerjakan sebagian besar. Saya Cuma membilas saja agar cepat. 7 kali gilingan mesin cuci 7 kilo, Buuuk…. Hihihihi….
Daaan.. bersyukurlah saya, Binbin mau membantu saya kembali. Pemijat kaki in action. Dan cerita kemarin diulang lagi.

One… two… three… four… five… six… seven… eight… nine… ten… eleven… twelve…
Kalau malam ini saya tidak tertidur… itu karena saya sudah minum kopi, makan malam dengan oseng pare, dan makan camilan.
Saatnya mengejar ekor sendiri eh mengejar DL. Bantu saya dengan doa ya.

Kamis, 23 November 2017

Manfaat Bermain Dakon

November 23, 2017 5 Comments
Telah lama permainan modern melengserkan permainan tradisional. Ank-anak lebih akrab dengan permainan digital daripada dakon, bentikan, gobag sodor, egrang, halma, bahkan catur. Terkadang bukan karena tidak menarik, tetapi karena memang benar-benar belum kenal dan belum tahu. Saya sering mendengar kata,

Generasi 90-an punya masa kecil paling membahagiakan.


Tidak salah meski tidak 100% benar. Generasi 90-an mengalami 2 masa sekaligus, sehingga mengenal permainan tradisional dan permainan digital sederhana. Saya ingat pernah menyewa gimbot Rp 250 per hari. Tetapi setiap hari saya juga bermain kasti, betengan, gundu, ular-ularan, dan lain-lain. Masa yang luar biasa menurut saya. Anak – anak saya termasuk kids zaman now yang beruntung. Mereka sangat akrab dengan game online dan media sosial tetapi tetap bermain secara fisik. Memang tak sebanyak zaman saya, tetapi di rumah kami menyediakan catur untuk me time mereka.

Dakon berasal dari kata dhaku (bahasa Jawa) yang artinya mengakui milikinya. dari zaman kerajaan Mataram dimainkan oleh anak-anak. Dipercaya, asal muasal permainan dakon dari saudagar Timur Tengah dan Afrika yang berdagang ke nusantara.

Papan dakon menyerupai lumbung padi dengan 7 lubang di setiap sisi yang menghadap peserta. Di pojok kanan dan kiri ada 2 lubang yang lebih besar dan berfungsi sebagai lumbung simpanan. Namun ada juga papan dakon yang memiliki 9 atau 11 lubang di setiap sisi, meskipun tidak lazim. Ukuran papan dakon biasanya tak jauh dari P.50 x L.20. Untuk bermain dakon, setiap lubang (selain lumbung) diisi 7 biji sawo kecik setiap lubangnya. Jika tak ada sawo kecik, bisa diganti biji apapun. Sekadar catatan kecil, sebenarnya sawo kecik agak sulit dimainkan dan sangat melatih kehati-hatian saat membaginya. Memang ada filosofi mendalam di permainan dakon ini.



Tak jauh dari rumah juga ada rumah belajar yang memiliki banyak permainan tradisional. Dengan adanya rumbel ini, Destin dan Binbin bisa bermain dakon, egrang, gobaksodor/sundamanda. Bagi saya, lingkungan memang sangat penting bagi anak, dan kami bersyukur tinggal di desa yang masih lekat tradisi Jawanya. Dakon atau congklak menjadi salah satu permainan Binbin permainan tradisional ini dahulunya dimainkan para putri keraton. Alat yang dipakai biasanya papan dakon dan biji sawo kecik. Ternyata permainan ini bisa menjadi terapi kesabaran dan permainan menyenangkan bagi para putri raja/istana kala itu. Permainan sederhana ini memang punya filosofi yang mendalam. Kali ini saya tidak membahas filosofi dan makna dakon/congklak. Saya hanya ingin membahas manfaatnya saja. 

Berikut ini manfaat Dakon/Congklak:

1. Melatih berhitung. Sebelum memulai, anak-anak diminta mengisi lubang dakon. Setiap lubang dakon diisi dengan 7 biji dakon atau biji sawo kecik. Saat mengisi ini anak belajar berhitung.

2. Melatih kejujuran. Anak akan belajar mengisi lubang dakon sesuai tata caranya dan tidak bermain curang.

3. Mengatur strategi. Kalah dan menang permainan ini kadang ditentukan oleh ketepatan memilih biji yang ada. Meski tak menghitung, namun pemain akan memperhitungkan langkahnya

4. Belajar teratur. Adanya peraturan dalam permainan memberi anak pemahaman bahwa peraturan adalah apa yang harus dipatuhi.

5. Belajar berhemat, karena dakon seperti pengaturan keuangan. Anak harus pandai menimbang mana lubang yang dihabiskan atau diisi.

 

Cara bermain dakon:

  1. Dua pemain melakukan pingsut untuk menentukan urutan melakukan langkah.

  2. pemain memilih satu lubang yang bijinya dibagikan terlebih dahulu. biji dibagi rata kecuali lumbung lawan. Ia harus membagi sampai seluruh biji habis.

  3. Jika biji habis di lubang yang ada bijinya, ia harus melanjutkan pembagian sampai benar-benar habis dan berhenti di lubang yang kosong atai di lubang lawan.

  4. Lawan akan melakukan hal serupa sampai semua biji habis, masuk ke lumbung.

  5. Jika saat membagi biji ternyata habis di lumbung, pemain akan bisa melanjutkan permainan seperti cara kedua.

  6. Pemain yang memiliki biji terbanyak yang menang.

  7. Jika ada biji yang kurang, akan diisi 1 biji dan disebut kacang. Lubang ini harus diisi lawan ketika membagi biji dakon.

  8. Pemilik kacang berhak menjadikan lubang kacang sebagai lumbung atau membaginya.

Kamis, 16 November 2017

Anak Nakal vs Ridho Orangtua

November 16, 2017 3 Comments
Minggu pagi itu Andi duduk terpekur di depan mainannya. Tangannya memajumundurkan mobil lego yang paling disukai. Namun, matanya tampak tidak fokus ke mainan. Dia seakan tidak berada di situ. Jika biasanya ia berceloteh seakan sedang piknik ke suatu kota. Bermain pura-pura, seperti saat diajak berlibur ke waterboom favoritnya di Jepara. Pagi ini, Andi lebih diam dari biasanya.


Hasna, sang ibu sesekali menengok Andi yang sedang bermain. Ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Menu hari ini masih menunggu. Wortel yang baru terpotong separuh belum bisa diteruskan. Rita, anak batitanya baru saja berhenti menangis karena kakinya terluka oleh pecahan beling. Setelah dibujuk 30 menit, ia terlelap. Ia masih harus membersihkan “kekacauan” yang dibuat Andi pagi itu. Entah apa yang membuat anak laki-laki berusia 5 tahun itu tiba-tiba ingin membuat kopi dan susu untuk keluarga. Bisa apa dia? Pikir Hasna. Ada-ada saja. Malah menyusahkan. Ada saja kerepotan yang diperbuatnya. Tiada hari tanpa dibuat jengkel, karena ada saja yang dilakukan Andi. Mulai dari bangun tidur sampai akan tidur lagi. Tak jarang Andi membuat mereka terharu, karena tiba-tiba menyiram tanaman tanpa diminta. Tapi ia juga pernah membuat ayahnya murka Karena Andi menyiram tambulampot sawo dengan susu jatah paginya. Alasannya, agar sawo cepat berbuah.

Ibu, pernahkah peristiwa seperti ini terjadi di rumah? Anak kecil kita tiba-tiba ingin membuat minuman namun malah mengotori dapur. Susu dan gula tumpah ke mana-mana. Atau malah seperti Andi yang pagi itu ingin membuat kopi. Saat mengisi air panas, tangannya terkena dan gelas kopi lepas. Beling gelas beserta isinya berantakan di lantai, mengenai kaki si anak. Masih terkaget oleh suara gelas pecah dan teriakan mengaduh Andi, tiba-tiba Rita, adiknya, menangis kejer karena kakinya terkena beling. Kekagetan Hasna berubah menjadi reaksi murka. 5 tahun dan bikin kopi? INI PASTI MENIRU SI AYAH! Lalu, suami yang masih asyik mencuci kendaraan di depan rumah juga ikut disalahkan. Lebih parahnya lagi, sudah lama kedua orangtua Andi melabelinya sebagai ANAK NAKAL.

Jika saja Hasna tidak bereaksi buruk dan mau bertanya, mungkin ia akan sangat terharu. Pagi itu, Andi ingin membantu ibunya membuatkan kopi untuk ayah. Ia juga sudah membuat susu hangat untuk dirinya dan Rita. Ia ingin membantu ibunya, namun baru tahu jika air dispenser yang biasa dipakai ayah ibu membuat kopi ternyata sangat panas. Namun keinginannya itu malah membuat ayah ibunya sangat murka, dan lebih buruk lagi, Rita terluka.

Dalam kehidupan sehari-hari, orangtua sering disibukkan dengan pekerjaan harian yang terasa berputar, tak pernah habis. Tak jarang orangtua merasa terjebak dengan kewajibannya. Ia tidak bangga menjadi orangtua. Maka, tanpa sadar, ia mengkerdilkan potensi anaknya dengan bereaksi spontan seperti Hasna di atas.

Tak ada yang mudah dengan peran menjadi orangtua. Namun bukanlah hal yang sulit juga jika dilakukan dengan ikhlas. Siklus di atas merupakan siklus yang dibuat oleh Ibu Septi Peni Wulandani bersama suami, saat mereka membicarakan tentang fenomena kids zaman now yang beberapa di antaranya memberi image negatif. Padahal, adakalanya, orangtua yang tak bisa memberitahu pada anak. Bukan anaknya yang salah, ia hanya belum tahu. Makanya, PR orangtua harus memberitahu tanpa rasa bosan dan jenuh.

Bekal utama menjadi orangtua dalam mendidik anak 'nakal' sebenarnya tidak sebanyak yang dibayangkan. Ada 3 pedoman utama, yang bisa dipasang di mana saja dan kapan saja, yaitu:
  1. Menerima
  2. Memaafkan dan berdialog
  3. Melupakan kesalahan
Hanya tiga ini saja, tapi dahsyatnya luar biasa.

Mengkerdilkan potensi anak?

Setiap anak lahir membawa instalan karakter, potensi, bakat, dan minat yang unik. Mereka istimewa. Tiada satu pun ciptaan Allah yang cacat dan tiada berguna. Setiap daun yang jatuh memiliki takdirnya. Semua anak yang terlahir telah tercatat di lauh mahfud. Mana mungkin Allah menciptakan anak yang nakal? Lebih tepatnya, Allah menciptakan anak yang punya banyak akal. Label nakal yang kita berikan, biasanya karena harapan ibu/ayah kepada anak tidak sama dengan kenyataan. Saat usia yang sama, orangtua bisa melakukan A, si anak ternyata belum. Atau, di masa kecil, ia begitu sering disebut nakal sehingga lisannya akrab dengan kata ini. Saat mengatakan anak nakal, biasanya, anak malah semakin nakal. Mengapa?

  1. Kata adalah doa. Terutama kata yang terucap dari orangtua.
  2. Ekspektasi orangtua dan ucapannya berbeda. Contohnya anak sedang melompat-lompat di atas kursi sofa. Alih-alih menyatakan, “Duduk yang baik, sayang. Itu berbahaya,” orangtua mengatakan “Jangan nakal! Nanti kamu jatuh!”
    Jadi, lebih baik ucapkan apa yang diinginkan, sehingga anak tahu.
  3. Tidak jelas definisi nakal. Apa pun yang dilakukan anak disebut nakal. Makanya, mereka akan mencari tahu, nakal itu apa dengan mencoba sesuatu untuk mengetahui reaksi orang di sekitarnya.
Fakta menunjukkan bahwa tak ada anak yang nakal. Yang ada adalah anak yang tidak tahu jalan mana yang harus dipilihnya, tidak tahu aturan mana yang harus dipatuhinya sehingga ia memilih caranya sendiri yang tidak tepat menurut nilai – nilai umum.

Senin, 13 November 2017

Saya Susi Susindra

November 13, 2017 0 Comments
Tak perlu menunggu sempurna untuk menjadi berguna
Hai..
Assalamualaikum! Ahlan wa sahlan!
Terima kasih sudah mampir di blog keluarga Susindra.
Nama saya Susi Ernawati, Mama duo DnB Susindra.
Ketahuan kan... darimana asal Susierna?
Yep. Itu nama lain saya selain Susi Susindra
Pasti sudah tahu blog utama saya. Yoih!



Menurut Destin dan Binbin, saya ibu yang baik, kadang galak, banyak perintah, banyak ngomong, banyak menulis, banyak gerak, tapi sering juga duduk berjam-jam. Kalau sudah begitu, biasanya mereka jadi anak mandiri.
  • Masak sendiri
  • Dolan sendiri
Intinya... Mama sudah tidak cool lagi kalau sudah di depan laptop.
Diajak bicara juga sering minta diulang.



Sabtu, 11 November 2017

Bangga Menjadi Ibu

November 11, 2017 0 Comments
Banyak kisah sehari-hari di rumah yang bisa dimaknai dengan kata. Sebagian saya bagi agar bisa dijadikan tetenger bagi diri sendiri maupun bahahan sinau bagi pembaca blog ini.

Tak ada kata mudah untuk menjadi ibu bahagia. Semua adalah proses. proses menjadi, dan selalu diawali dari kata MAU

Semua berawal dari MAU


 For Things to Change I must Change First.
 Kalimat ini begitu mengena di hati ketika pertama kali  mendapatkannya. Teman-teman 'satu bulu' dengan saya pasti paham, siapa yang pertama kali menggaungkannya.
Benar.

Bu Septi Peni Wulandani

Selama mencoba memahami kalimat itu, saya mendapatkan banyak hal menarik. Salah satunya adalah komitmen BERUBAH yang kadang bersembunyi. Tak mudah lho, ketika sudah menetapkan diri - bahasa kerennya membuat kurikulum perbaikan diri - lalu tiba-tiba malas mendera. Nah, jika ini terjadi, jurus yang perlu dikeluarkan adalah...

OJO KALAH KARO WEGAH 
Jangan kalah dengan malas. 

Mudah? 
Eh siapa bilang. Beratnya bisa berton-ton. Tapi bisa juga seringan bulu. Hehehehe

Inti posting ini apa sih? Dari tadi muter-muter. Hahahahaha....

Terang saja. Karena saya hanya punya sedikit waktu tetapi harus memposting 3 cerita di sini. Hmm.... Saya tulis langsung saja deh. Yang penting jadi dulu dan bisa dinikmati. Nanti jika sudah senggang saya lengkapi dengan banyak informasi. 
Sepakat?

Asyik... 

Yang penting Sobat Susierna mau kembali lagi untuk sinau bareng di blog SInau Bareng Omah Susindra. Kami usahakan yang terbaik agar kamu tidak kecewa. Pokoknya, jika ingin belajar parenting menjadi Orangtua yang serius tapi santai (ORTU SERSAN) dan dicintai anak... sering-sering balik ke sini. 

Karena

Banyak kisah sehari-hari di rumah yang bisa dimaknai dengan kata. Sebagian saya bagi agar bisa dijadikan tetenger bagi diri sendiri maupun bahahan sinau bagi pembaca blog ini. 

Tak ada kata mudah untuk menjadi ibu bahagia. Semua adalah proses. proses menjadi, dan selalu diawali dari kata MAU.

Sampai jumpa di posting selanjutnya!