Manfaat Bermain Dakon

Telah lama permainan modern melengserkan permainan tradisional. Ank-anak lebih akrab dengan permainan digital daripada dakon, bentikan, gobag sodor, egrang, halma, bahkan catur. Terkadang bukan karena tidak menarik, tetapi karena memang benar-benar belum kenal dan belum tahu. Saya sering mendengar kata,

Generasi 90-an punya masa kecil paling membahagiakan.


Tidak salah meski tidak 100% benar. Generasi 90-an mengalami 2 masa sekaligus, sehingga mengenal permainan tradisional dan permainan digital sederhana. Saya ingat pernah menyewa gimbot Rp 250 per hari. Tetapi setiap hari saya juga bermain kasti, betengan, gundu, ular-ularan, dan lain-lain. Masa yang luar biasa menurut saya. Anak – anak saya termasuk kids zaman now yang beruntung. Mereka sangat akrab dengan game online dan media sosial tetapi tetap bermain secara fisik. Memang tak sebanyak zaman saya, tetapi di rumah kami menyediakan catur untuk me time mereka.

Dakon berasal dari kata dhaku (bahasa Jawa) yang artinya mengakui milikinya. dari zaman kerajaan Mataram dimainkan oleh anak-anak. Dipercaya, asal muasal permainan dakon dari saudagar Timur Tengah dan Afrika yang berdagang ke nusantara.

Papan dakon menyerupai lumbung padi dengan 7 lubang di setiap sisi yang menghadap peserta. Di pojok kanan dan kiri ada 2 lubang yang lebih besar dan berfungsi sebagai lumbung simpanan. Namun ada juga papan dakon yang memiliki 9 atau 11 lubang di setiap sisi, meskipun tidak lazim. Ukuran papan dakon biasanya tak jauh dari P.50 x L.20. Untuk bermain dakon, setiap lubang (selain lumbung) diisi 7 biji sawo kecik setiap lubangnya. Jika tak ada sawo kecik, bisa diganti biji apapun. Sekadar catatan kecil, sebenarnya sawo kecik agak sulit dimainkan dan sangat melatih kehati-hatian saat membaginya. Memang ada filosofi mendalam di permainan dakon ini.



Tak jauh dari rumah juga ada rumah belajar yang memiliki banyak permainan tradisional. Dengan adanya rumbel ini, Destin dan Binbin bisa bermain dakon, egrang, gobaksodor/sundamanda. Bagi saya, lingkungan memang sangat penting bagi anak, dan kami bersyukur tinggal di desa yang masih lekat tradisi Jawanya. Dakon atau congklak menjadi salah satu permainan Binbin permainan tradisional ini dahulunya dimainkan para putri keraton. Alat yang dipakai biasanya papan dakon dan biji sawo kecik. Ternyata permainan ini bisa menjadi terapi kesabaran dan permainan menyenangkan bagi para putri raja/istana kala itu. Permainan sederhana ini memang punya filosofi yang mendalam. Kali ini saya tidak membahas filosofi dan makna dakon/congklak. Saya hanya ingin membahas manfaatnya saja. 

Berikut ini manfaat Dakon/Congklak:

1. Melatih berhitung. Sebelum memulai, anak-anak diminta mengisi lubang dakon. Setiap lubang dakon diisi dengan 7 biji dakon atau biji sawo kecik. Saat mengisi ini anak belajar berhitung.

2. Melatih kejujuran. Anak akan belajar mengisi lubang dakon sesuai tata caranya dan tidak bermain curang.

3. Mengatur strategi. Kalah dan menang permainan ini kadang ditentukan oleh ketepatan memilih biji yang ada. Meski tak menghitung, namun pemain akan memperhitungkan langkahnya

4. Belajar teratur. Adanya peraturan dalam permainan memberi anak pemahaman bahwa peraturan adalah apa yang harus dipatuhi.

5. Belajar berhemat, karena dakon seperti pengaturan keuangan. Anak harus pandai menimbang mana lubang yang dihabiskan atau diisi.

 

Cara bermain dakon:

  1. Dua pemain melakukan pingsut untuk menentukan urutan melakukan langkah.

  2. pemain memilih satu lubang yang bijinya dibagikan terlebih dahulu. biji dibagi rata kecuali lumbung lawan. Ia harus membagi sampai seluruh biji habis.

  3. Jika biji habis di lubang yang ada bijinya, ia harus melanjutkan pembagian sampai benar-benar habis dan berhenti di lubang yang kosong atai di lubang lawan.

  4. Lawan akan melakukan hal serupa sampai semua biji habis, masuk ke lumbung.

  5. Jika saat membagi biji ternyata habis di lumbung, pemain akan bisa melanjutkan permainan seperti cara kedua.

  6. Pemain yang memiliki biji terbanyak yang menang.

  7. Jika ada biji yang kurang, akan diisi 1 biji dan disebut kacang. Lubang ini harus diisi lawan ketika membagi biji dakon.

  8. Pemilik kacang berhak menjadikan lubang kacang sebagai lumbung atau membaginya.

Komentar

  1. oh dakon itu congklak saya kira apaan hehehe. kalau gak salah saya juga pernah ngalamin maen congklak kira-kira waktu masih umur 5 tauan

    BalasHapus
  2. Hai mbak.. salam kenal..
    Aku masih sering main dakon kalo pas di rumah nenek. Bijinya pake biji buah sirsat. Kadang kalo ada 1 atau 2 biji ilang, pake duit koin 100 atau 500 perak, yang penting bijinya pas.. *maksa.. ?

    BalasHapus
  3. Wihh dakone keren mbak susi ....jadi inget masa kecil

    BalasHapus
  4. Salken Mbak Mifta.
    Iya, biji sirsat bisa jadi alternatif asyik. Asyiknya permainan jadul bisa pakai bahan alam apa saja

    BalasHapus
  5. Unik ya. Hehehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Punya pengalaman serupa?
Berbagi kisah, yuk...