Pijat Kaki Berbahasa Inggris

Beberapa hari ini saya punya begitu banyak kesibukan. “Rasanya seperti mengejar ekor sendiri,” keluh saya beberapa kali karena memang tidak segera selesai. ‘Hilal’ penyelesaian terasa sangat jauh. Adakalanya saya menyegaja piknik sejenak agar tidak panik. Agar tetap cantik.

Tapi… mau tidak mau, berimbas ke badan saya juga. Saya jadi mudah lelah dan mudah tertidur pulas sebelum waktunya.


Kemarin, usai salat Magrib, Binbin menawarkan diri memijat dengan kaki. Istilah kami orang Jepara adalah ‘ngidaki’. Tumben, pikir saya. Biasanya harus meminta dahulu.
Tanpa ba bi bu… saya siapkan badan. Lumayan banget…

Kalau badan pegal semua dan kelelahan, pijat kaki begini memang surge banget. Apalagi berat badan Binbin terbilang pas; tidak ringan, tetapi tidak berat. Mas Destin yang lebih besar karena sudah SMP paling pas pijat kaki bagian paha. Alhamdulillah, kedua anak saya semuanya mau membantu kebugaran mamanya. Mama yang bugar = masakan yang lebih lezat dan mudah mengiyakan permintaan. Hahahaha…


“wah… kamu ingat zaman masih TK sering memijat Mama sambil menghapal angka 1 – 200 dalam bahasa Inggris, Mas Binbin?” tanya saya dengan mata berbinar.
“Ingat,” jawabnya, “Tapi sekarang sudah lupa.”
“Kenapa tidak mencoba lagi. Yuk… yuk… yuk….” ajak saya dengan semangat.
One… two… three… four… five… six… seven… eight… nine… ten… eleven… twelve…

Kami mulai menyebutkan angka bergantian. Setelah mendapat seratus, Binbin pamit ke depan. Saya yan merasa nyaman, tiba-tiba sangat mengantuk. Dan tak butuh waktu lama, langsung tertidur. Padahal saat itu masih belum Isya’. Hahahaha…. Saat terbangun jam 2 dini hari, saya menyesal karena gagal mengerjakan 1 tantangan. Padahal saya berencana meraih 3 badge, I love Math, Excellent dan Outstanding Performance. Ya sudahlah. Nasi sudah jadi bubur. Terpenting bagi saya adalah menyelesaikan minimal 10 hari tantangan.

Hari ini, saya agak selo, karena hanya mencuci baju seabrek sambil menulis pesanan buku yang sudah jelang DL. Saya tidak berkebun, tidak ada kegiatan keluar, dan yah… bisa dikatakan, it’s a normal day. Kecuali memang baju yang saya cuci sangat banyak. Tapi kan mesin cuci yang mengerjakan sebagian besar. Saya Cuma membilas saja agar cepat. 7 kali gilingan mesin cuci 7 kilo, Buuuk…. Hihihihi….
Daaan.. bersyukurlah saya, Binbin mau membantu saya kembali. Pemijat kaki in action. Dan cerita kemarin diulang lagi.

One… two… three… four… five… six… seven… eight… nine… ten… eleven… twelve…
Kalau malam ini saya tidak tertidur… itu karena saya sudah minum kopi, makan malam dengan oseng pare, dan makan camilan.
Saatnya mengejar ekor sendiri eh mengejar DL. Bantu saya dengan doa ya.

Komentar

  1. wah dulu aku juga suka begitu saat anak2 masih kecil, sekarang mah man abisa mereka sudah berat semua dan tentunya kalau sdh besar mah suka malas, tapi yg besar kalau lagi pulang masih suka aku suruh tarik rambut sampai aku tetidur

    BalasHapus
  2. Semoga lancar dan dimudahkan semua urusannya, bun..

    ?

    BalasHapus
  3. Aah...mba Susi ikutan kuliah Bunda Sayang..
    Aku kemarin juga gagal. Padahal sudah setor.
    Hanya setornya borongan ((gak dicicil)) malah gagal.

    Heuhuu...sedihnya.


    MashaAllah,
    hebatnya mas Binbin.

    Semoga terus selalu menjadi anak yang sholih dan berbakti kepada kedua orangtua.
    Aamiin.

    BalasHapus
  4. Mbak Lendy mah sudah di atasku banget

    BalasHapus

Posting Komentar

Punya pengalaman serupa?
Berbagi kisah, yuk...