Follow Instagram @susierna1 ya

Sabtu, 30 Desember 2017

Kemandirian Anak, Mengapa Perlu Dilatihkan dan Dikuasai

Desember 30, 2017 12 Comments
Ada banyak ilmu parenting yang tertulis di buku, media cetak lain, maupun di dunia digital. Kehadirannya menjadi salah satu jawaban atas tingginya permintaan dari para orangtua yang mencari ilmu pengasuhan anak. Sangat mudah bagi orangtua zaman sekarang untuk tersesat di belantara ilmu parenting. Saya pun pernah mengalaminya. Semasa menjadi ibu muda, di tahun 2004 – 2015, saya sering membeli buku dan tabloid, juga majalah. Tentu saja, demi ananda tercinta. Juga untuk meningkatkan kepercayaan diri menjadi pengasuh utama. Baru 2,5 tahun ini, saya benar-benar menikmati proses belajar parenting melalui komunitas Ibu Profesional. Terutama sekali setelah mengikuti Matrikulasi dan fitrah keibuan saya dibangunkan dengan sukarela.


Pasca lulus matrikulasi, saya belajar di kelas Bunda Sayang untuk belajar teori pengasuhan anak yang seru karena diberi tugas mengasyikkan, yaitu mengobservasi perkembangan anak sesuai tema yang disiapkan para fasilitator. Nah, dari sinilah, saya belajar kembali, teknik menjadi ibu yang didengarkan anak. Jadi ibu yang asyik. Jadi ibu yang tahu cara membangun fitrah anak sesuai usianya.

Dua anak saya tidak lagi imut-imut. Mereka dua anak yang sudah masuk ke fase kedua dalam perkembangan anak. Familiar dengan kata 7 tahun pertama, 7 tahun kedua, 7 tahun ketiga? Yap. Karena dalam Islam, fase perkembangan anak terbagi 3 yaitu:

Usia 0 – 7 tahun adalah usia raja
Usia 8 – 14 tahun adalah usia pembantu
15 – 21 adalah usia wazir atau menteri

Ada sedikit salah kaprah ketika anak usia 0 -7 tahun diperlakukan sebagai raja yang dimanja dan diturut apa saja kemauannya. DI dunia nyata, raja memiliki banyak kewajiban dan larangan. Mereka punya banyak kesempatan sekaligus batasan. Di saat inilah sudah seharusnya anak mulai dilatih kemandiriannya.

Anak saya sudah berusia 9 dan 13 tahun. Mereka berada di fase pembantu. Jadi, tugas kemandirian mereka lebih banyak dan harus tuntas.

Saya sangat menikmati proses mengubah mereka menjadi anak-anak yang mandiri pasca mendapatkan ilmu tentang kemandirian anak. Menyenangkan sekali melihat mereka dengan senang hati melakukannya, dan sampai sekarang telah menjadi kebiasaan atau habit baru. Kadang ada resisten kecil, karena anak bosan melakukannya. Saya memaklumi dan tetap mengajak mereka melakukannya. Kali ini dengan ditemani. Lebih tepatnya, saya turut serta bersama mereka. Sejauh ini, alhamdulillah, hasilnya sangat terasa.

Mas Destin, 13 tahun, memiliki tugas utama yaitu memasak nasi, membuat minuman pagi, memberi makan ayam, dan menyiapkan semua keperluan sekolahnya sendiri. Beberapa hari sekali membantu mencuci pecah belah dan menjemur serta melipat pakaian. Tugas harian lainnya adalah memastikan rumah dan adik aman saat kedua orangtuanya tak ada di rumah, juga mengatur keuangan (uang jajan) yang dia kelola untuk berdua.

Mas Binbin, 9 tahun, sudah bisa menyiapkan kebutuhan sekolahnya sendiri, membersihkan rumah (sapu dan pel) serta menjadi menteri pengairan (memastikan stok air minum selalu ada untuk seluruh keluarga).

Keduanya memiliki tugas mengurus rumah secara normal, ketika saya ada atau tidak, dengan memastikan semua listrik dan colokan aman, kamar mandi bersih, air di kamar mandi terisi, centelan baju lebih rapi, bisa memasak sederhana, membaca buku atau artikel setiap hari, saling menjaga satu sama lain dan membuat karya-karya sederhana. Tiap hari mereka sudah memiliki jadwal harian yang masih base on time.

Bisa dikatakan, misi awal saya membuat mereka lebih mandiri dan mengenali kebutuhan diri sudah berhasil. Bukan keberhasilan mutlak, tetapi jauh lebih baik daripada sebelumnya. 

Mengapa kita harus mandiri?
Mengapa kemandirian anak harus dibentuk?

Kemandirian anak sangat erat kaitannya dengan membentuk konsep diri positif. Terutama membentuk rasa percaya diri karena anak telah selesai dengan dirinya sendiri. Ia tak diliputi keraguan apakah dirinya cukup berharga bagi orang lain. Anak mandiri akan tahu bahwa ia akan baik-baik saja di kondisi apapun. Di sinilah kepercayaan diri mereka terbentuk. Dan, di saat yang lain, ketika melihat ada teman yang kesulitan, ia akan dengan percaya diri membantu.

Pada awalnya, tepatnya 2 tahun lalu, saya diliputi rasa gelisah, karena anak-anak laki-laki saya belum mandiri. Pakaian masih asal taruh di mana saja. Mandi harus disuruh. Dan masih banyak ketidakmandirian lainnya yang meresahkan. Rasanya ada yang salah, pikir saya. Ketika si sulung meminta masuk pesantren ketika SMP, duar! saya seperti terkena ledakan kesadaran baru. Saya terlambat mengenalkan kemandirian.

Sejak saat itu, saya mulai membuat proyek melatih kemandirian. Ketika mengikuti kuliah Bunda Sayang, saya semakin pede melatih anak. Ada ilmunya!

10 keterampilan dasar tersebut adalah:

1. Menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya
2. Keterampilan literasi
3. Mengurus diri sendiri
4. Berkomunikasi
5. Melayani orang lain
6. Menghasilkan makana
7. Perjalanan mandiri
8. Memakai teknologi
9. Transaksi keuangan
10. berkarya.

Kemandirian erat kaitannya dengan konsep diri atau citra diri. Anak (atau orang dewasa) yang mandiri akan memiliki konsep diri yang positif. Mereka menjadi anak yang lebih bahagia dan nyaman dengan diri dan lingkungannya.

Apakah tugas saya selesai?
Tentu saja tidak! Masih terus berproses, sesuai usianya. Mereka masih di fase kedua. Ingat?

Yuk Aybund, anak-anaknya dilatih kemandirian sesuai usianya. Coba pelajari checklist perkembangan anak. Jika anak masih berusia dini, coba cari tulisan teman-teman saya yang lain tentang kemandirian anak.

Jangan khawatir akan kesulitan melatih ke anak. Cuma butuh 3 kunci, kok: KONSISTENSI, MOTIVASI, & TELADAN.

KONSISTENSI bisa didapatkan dengan mengenalkan anak pada jadwal harian atau daftar tugas, lalu pastikan anak melakukannya. Konsisten bukan hanya untuk anak tetapi juga untuk orangtuanya. Lakukan perlahan dengan improvement yang terencana. Pastikan anak secara ajeg atau konsisten melakukannya.
Sulit? Jangan lupakan motivasi.

MOTIVASI, bisa berupa motovasi intrinsik dan ekstrnsik. Memotivasi anak dari dalam dengan memberitahu mengapa keterampilan tersebut harus dikuasai dan apa manfaatnya bagi kehidupannya. Beri contoh-contoh tokoh yang telah berhasil. Puji semua keberhasilan anak secara berimbang (dan pastikan saat sendirian untuk mencegah anak besar kepala). Motovasi ekstrinsik bisa berupa hadiah kecil yang disukai anak, dan bisa apa saja seperti ke rumah nenek, ke rumah teman, boleh meminjam smartphone berapa menit, membeli sesuatu yang disukai, diberi tambahan uang jajan, boleh memilih kegiatan week end bersama, dan masih banyak lagi.
Anak kadang masih mlintir? Coba cek keteladanan. Apakaha ayah bunda melakukannya atau asal suruh? hihihi

TELADAN, adalah contoh paling riil yang bisa ditiru dan menyemangati anak dari dalam. Jika ayah bunda menjadi teladan atas apa yang diajarkan anak, semua akan lebih mudah bagi anak. Karena mereka punya cermin untuk melihat betapa baiknya jika keterampilan tersebut tercapai. Ingat selalu, anak mungkin bisa salah memahami arti, tetapi Anak Tak Mungkin Salah Meng-copy Perbuatan Orang Terdekatnya

Selamat melatih Kemandirian Anak!

Kamis, 28 Desember 2017

Duh Anakku Susah Diminta Belajar!

Desember 28, 2017 0 Comments
Anak kok susah banget belajar, ya?” tanya seorang ibu kepada saya. Jawaban saya yang pertama kali tentu saja tersenyum. Selain menenangkan diri juga menyiapkan jawaban mengapa anak sulit belajar.


Menjawab pertanyaan seperti itu tak bisa langsung buka buku dan menjawab. Harus mempelajari dulu. Tapi sebelum bertanya atau menjawab, coba isi quisioner kecil ini deh:

1. Apakah ayah/bunda menyuruh anak belajar?
2. Apa yang dilakukan saat anak belajar?
3. Apakah ayah/bunda menemani anak belajar?
4. Jika anak bertanya, apakah jawaban ayah/bunda memuaskan?
5. Jika anak kesulitan dengan materi, apakah dibantu atau hanya disuruh baca bab yang dipelajari?
6. Apakah cahaya ruangan belajar bagus?
7. Apakah ada reward setelah anak belajar?
8. Apa bentuknya?

Setalah menjawab dengan jujur, mari kita mengenal anak underachiever atau anak dengan prestasi di bawah.

Anak cerdas berasal dari rumah. Sekolah hanyalah pemicu dan pemantik. Bahan dasarnya harus sudah ada dan sudah siap distimulasi agar potensi dan prestasi mereka di sekolah melejit. Maka, jika prestasi anak kurang bagus, bisa jadi kita yang kurang menstimulasi. Psst… saya termasuk orangtua yang kurang menstimulasi anak sehingga lahirlah tulisan ini. Yuk kita perbaiki bersama.

AyBund, jumlah anak underachiever di Indonesia cukup banyak. Ini sungguh fenomena yang menyedihkan dan harus dikurangi dengan penuh semangat dan itikad. Saya cukup terkejut dengan fakta jumlah anak yang tidak naik kelas. Anak saya sendiri pun pernah hampir mengalaminya dulu. Huhuhu.. Ini pengalaman yang sangat membekas. Alhamdulillah guru mau menaikkan anak karena melihat nilai tesnya 8 dan 9 semua. Bahkan tertinggi adalah matematika, 9,8. Hanya salah satu soal saja. Kenapa tak naik kelas? Karena saya tidak memeriksa buku tulisnya, sehingga tak tahu jika anak jarang mengerjakan tugas. So… ini salah saya sendiri.

Nah, saya jadi ingat dengan hasil penelitian 23 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1994, Konggres PGRI mengejutkan dunia pendidikan ketika merilis prosentase ketertinggalan kelas di Indonesia yang cukup besar, yaitu:
Anak kelas satu 16,7 %
Anak kelas dua 12,4 %
Anak kelas tiga 10,6 %

Jumlah tersebut termasuk besar dan mengkhawatirkan. Dan saya masih yakin jika jumlah tersebut belum membaik dengan signifikan, meski saya tak menemukan hasil penelitian yang lebih baru. Semoga segera ada dan dirilis secara publik agar semua tahu dan mau bahu membahu mengatasi fenomena gunung es ini.


Faktanya, anak-anak yang tidak naik kelas, sebagian diantaranya memiliki IQ yang tinggi. Namun karena satu dan banyak hal lainnya, prestasi sekolahnya sangat rendah. Para ahli pedagog menyebut mereka, anak underachiever atau anak cerdas-berbakat berketidakmampuan belajar. Biasanya terjadi pada keluarga yang abai pada proses belajar anak di sekolah. Anak dibiarkan tidak belajar dan asyik bermain. Anak-anak ini akan kaget dan kecewa saat nilainya buruk. Beberapa lagi menjadi sangat malu dan tanpa sadar mengamini label ‘bodoh’ yang disematkan orang-orang di sekitarnya.



Menurut buku Growing Up: Usia 7-9 Tahun, Anak-anak semacam ini memiliki karakteristik:

1. Mempunyai perasaan negatif terhadap semua (atau hampir semua) jenis pelajaran di sekolah. Mereka selalu merasa bosan di sekolah
2. Menampakkan sikap tidak matang dalam arti social. Ia kerap sulit berteman atau menjauhi sosialisasi dengan teman sebaya.
3. Bersikap defensif dan hanya mau belajar hanya jika ada yang mau membantu (learned helplearner)
4. Kadang mereka amat pelupa, ceroboh dan disorganized.

Jika putra dan putri AyBund punya 4 kecenderungan di atas, sudah saatnya berusaha lebih keras membersamai anak saat belajar. Itu tandanya alarm darurat sudah berbunyi.

Saya punya cara sederhana yang masih saya upayakan sampai sekarang. Disiplin membersamai anak memang tak mudah. Percayalah. Semangat saya juga up and down banget. Tahu tapi lupa. Lupa dan menyesal. Duh.. ini benar-benar PR, dan perubahan memang harus dilakukan semua. Anak, orangtua, dan guru.

Tips ala saya:
1. Konsultasi dengan guru, apa saja kesulitan anak belajar dan bagaimana solusinya
2. Perbaiki ruang belajar anak, terutama penerangan.
3. Minta ayah untuk mengambil peran juga
4. Beri camilan kesukaannya
5. Selalu siap jadi fasilitator belajar anak
6. Jika anak bertanya, ajak menemukan jawaban bersama-sama (anak underachiever sering meminta ini)
7. Pantau terus hasil belajarnya.
8. Pelajari gaya belajar anak dan jadikan acuan cara belajar.
a. anak visual akan suka corat-coret
b. anak auditori lebih suka dibacakan materinya
c. anak kinestetik perlu bergerak saat belajar
9. Beri reward sesuai bahasa cinta anak. Bahasa cinta ada 5, yaitu:
a. Kebersamaan/waktu berkualitas
b. Kata-kata
c. Sentuhan fisik
d. Hadiah
e. Layanan

Hmm.. pasti penasaran. Perihal gaya belajar anak, akan saya bahas lebih lengkap di posting lain. Sedangkan tentang bahasa cinta anak, bisa dibaca di Memahami Bahasa Cinta Anak dan Keuntungannya.

Selamat mencoba, Ayah Bunda…..

Memahami Bahasa Cinta Anak dan Keuntungannya

Desember 28, 2017 5 Comments
Setiap anak-anak memiliki bahasa cinta sendiri-sendiri. Orangtua perlu mengenali dan memperlakukan anak sesuai bahasa cintanya. Jika sudah tahu kunci ini, komunikasi dengan anak menjadi lebih mudah. Proses mengajarkan atau membiasakan anak dengan kewajiban sehari-hari menjadi lebih mudah dan tanpa banyak perlawanan. Memaksakan anak, apalagi menghukum bisa membuat anak trauma. Kita hanya akan menciptakan Ghost Parenting baru.


Tak terhitung, jumlah orangtua yang mengaku kesal dengan anak karena sulit diberitahu, disuruh, atau diajari sesuatu. Ini adalah PR terbesar orangtua, dan misteri terbesar juga.
“Sudah diberitahu ratusan kali, belum juga paham atau dikerjakan,” kata Ibu A.
“Halah, Mbak, percuma, sampai berbusa-busa,” keluh Ibu B.
“Tiap pagi harus bangunkan beberapa kali, sampai bosan,” curhat si ibu C.
“Bagaimana caranya didengar anak?” tanya ibu D




Jawaban saya, secara seloroh:
Jika orangtua mengaku sudah ratusan atau ribuan kali memberitahu anak, tetapi tidak dipahami, bukan anaknya yang salah, tetapi orangtuanya yang kurang kreatif melakukannya.

(Susierna Susindra)


Sebenarnya ada cara berkomunikasi yang efektif dan produktif dengan anak. Tetapi itu bukan bahasan kita saat ini. Saya beri bocoran saja, ya. Keterangan lengkapnya bisa cari di posting lainnya. Hehehe

1. Keep information short and simple
2. Berbicara dengan ramah pada anak
3. Hanya katakan apa yang diinginkan, hindari mengatakan yang tidak diinginkan
4. Fokus ke depan, bukan masa lalu
5. Ganti kata ‘tidak bisa’ menjadi kata ‘bisa’
6. Fokus pada solusi, bukan masalah
7. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan
8. Ganti nasihat dengan cerita pengalaman
9. Ganti kalimat interogasi dengan kalimat observasi
10. Buat kalimat empati daripada mengkritik
11. Ganti kalimat perintah dengan pilihan

Woho… ada banyak juga ya, jenis kalimat produktif yang Pasti didengar dan dituruti anak. Tapi, AyBund harus sabar menunggu untuk contoh-contoh kalimat yang tepat. Tiap satu poin harus dibahas sendiri agar gamblang.

Kita kembali ke BAHASA CINTA ANAK YA. Ciri dan cara Mengenali bahasa cinta anak:
a. Jika anak mengutarakan rasa sukanya secara lisan seperti ‘Aku suka mama’ atau ‘Terima kasih, Ma, makanannya enak sekali’besar kemungkinan ia lebih suka bahasa cinta berupa KALIMAT DUKUNGAN/PUJIAN. Anak tipe ini sering bertanya pendapat orang lain tentang banyak hal seperti, ‘Gambarku bagus, Ma?’ atau ‘Aku belajar A atau B?’
b. Jika anak senang memberi ibunya hadiah kecil, besar kemungkinan bahasa cinta dominannya HADIAH
c. Jika anak lebih senang ditemani saat melakukan banyak hal, bahasa cintanya ‘WAKTU BERSAMA’. Bentuknya bisa juga berupa keluhan, ‘Kapan kita pergi bersama?’ atau ‘Sudah lama kita tidak makan bersama’ padahal baru 2 hari.
d. Jika anak sering meminta dibantu padahal sudah bisa, anak juga senang membantu pekerjaan kita, besar kemungkinan bahasa cintanya adalah PELAYANAN. Bantu sewajarnya atau hanya bantu persiapan saja, lalu semangati anak agar mengerjakan sendiri.
e. Jika anak sering meminta dipeluk atau memberikan pelukan, besar kemungkinan bahasa cinta anak adalah SENTUHAN.


Dari contoh di atas, kiranya sudah jelas ya, jika bahasa cinta anak ada lima, yaitu:
1. Kalimat dukungan/pujian
2. Hadiah
3. Waktu bersama
4. Pelayanan
5. Sentuhan fisik

Memahami bahasa cinta ini membuat tugas kita mengajarkan atau membiasakan kewajibannya secara lebih mudah. Saya contohnya. Putra saya ada 2, dengan bahasa cinta yang berbeda.

Destin
1. Dia senang membelikan saya jajanan kesukaannya.
2. Membawa pulang makanan kesukaan saya
3. Jika jalan-jalan dan melihat bunga, ia mengambilkan untuk saya.
4. Jika dipuji, dia merasa tidak nyaman bahkan kadang dengan cepat mematahkan.
5. Jarang mau ditemani saat belajar.
6. Kadang lebih senang memasak sendiri apa yang diinginkan.
7. Kadang tidak merespon positif pelukan
Maka jelas, ia mempunyai bahasa cinta berupa hadiah. Saya pun beberapa kali diam-diam memberikan hadiah kecil berupa makanan atau benda yang mungkin ia suka.

Binbin:
1. Semangat jika disuruh dengan memakai panggilan sayang seperti:
“Anak sholeh, bantu Mama menyapu, ya”
“Anak Ganteng bisa mengerjakan soal sendiri”
“Kamu pintar, pasti bisa, Yuk dikerjakan bersama.”
2. Jika dipuji, ia merasa sangat senang dan akan rajin sekali mengerjakan tanpa diminta.
3. Sering menyatakan ‘Aku sayang Mama’
4. Sering bertanya apakah apa yang dikerjakan bagus atau tidak
5. Menganggap hadiah sebagai hal biasa, bukan reward perbuatan baik
6. Kadang lebih suka mengerjakan sendiri daripada dibantu.
7. Senang jika dipeluk
Binbin memiliki bahasa cinta berupa kalimat pujian atau dukungan.

Memahami bahasa cinta membuat orangtua tahu, cara ‘menaklukkan’ anak dan dipatuhi. Yuk.. coba pelajari bahasa cinta anak….
Oh ya, saya pernah menulisnya di …..


Tips memperlakukan anak sesuai bahasa cintanya (Sumber dari materi kuliah Bunda Sayang Institut Ibu Profesional dan pengembangan sendiri):

1. Bahasa cinta berupa kalimat dukungan/pujian:

  • Saat menyiapkan bekal si Kecil, masukkan nota kecil berisi kata-kata mendukung.

  • Tiap si Kecil melakukan prestasi, tunjukkan kebanggaan Anda dengan kalimat membangun seperti, “Mama bangga adik bermain secara adil dalam pertandingan tadi.” Atau “Kakak baik sekali tadi membantu adik …”, dan sebagainya.

  • Simpan hasil karya si Kecil, seperti lukisan atau tulisan, dan pajang – dengan tambahan kata-kata mengapa karya tersebut berkesan bagi Anda.

  • Biasakan untuk mengucapkan, “Mama/ Papa saying kamu” tiap kali berpisah dengan si Kecil atau ketika menidurkannya di malam hari.

  • Saat si Kecil sedang bersedih, bangun kembali kepercayaan dirinya dengan mengucapkan alasan-alasan yang membuat Anda bangga padanya.

2. Bahasa cinta berupa hadiah:

  • Kumpulkan hadiah-hadiah kecil (tidak perlu mahal) untuk diberikan kepada si Kecil di saat-saat yang tepat.

  • Bawa permen atau snack kecil lainnya yang dapat Anda bagikan kepada si Kecil saat sedang bepergian.

  • Berikan makanan kesukaan si Kecil, Anda bisa memasaknya sendiri ataupun mengajak si Kecil ke restoran kesukaannya.

  • Saat menyiapkan bekal si Kecil, selipkan hadiah kecil untuknya.

  • Buatkan semacam permainan teka-teki, di mana si Kecil berkesempatan menemukan hadiah dari Anda.

  • Daripada membelikan si Kecil hadiah ulang tahun yang mahal, buatkan pesta ulang tahun meriah di tempat yang ia sukai.

3. Bahasa Cinta berupa waktu bersama
  • Daripada Anda meluangkan waktu bersama si Kecil setelah menyelesaikan aktivitas sehari-hari, coba Anda melibatkannya dalam aktivitas-aktivitas, seperti belanja ke supermarket, memasak, mencuci piring, dan sebagainya.

  • Saat si Kecil ingin bercerita, hentikan sejenak aktivitas Anda saat itu untuk benar-benar menatapnya dan mendengarkan apa yang dikatakannya.

  • Ajak si Kecil memasak bersama, seperti membuat kue atau snack lainnya.

  • Tanyakan pada si Kecil tempat-tempat yang ingin ia kunjungi, dan apabila ada kesempatan, beri kejutan dengan mengajak mereka ke tempat-tempat tersebut.

  • Biasakan untuk meminta si Kecil untuk bercerita mengenai harinya di sekolah atau pun aktivitas-aktivitas lainnya yang telah ia lakukan.

  • Saat mengajak si Kecil bermain di taman atau tempat lainnya, mainlah dengan mereka daripada hanya duduk menontonnya.

  • Apabila Anda memiliki lebih dari satu anak, tetapkanlah jadual bermain dengan masing-masing anak secara individu tanpa melibatkan yang lain.

  • Hal yang sering kita lakukan adalah kurangnya komunikasi dan kebersamaan yang semu. Coba kita tengok ketika Anda berada di meja makan atau di restoran, meskipun ada kebersamaan di sana, namun semua dengan keasyikannya masing-masing, dengan gadgetnya. Komunikasi dan kebersamaan yang berkualitas tidak ada. Buat aturan ketika di meja makan dan makan bersama semua tidak boleh ada seorang pun yang membawa ponsel.

4. Bahasa cinta berupa pelayanan
  • Temani dan bantu si kecil pada saat sedang mengerjakan PR.

  • Saat si Kecil sedang bersedih atau mengalami kesulitan, buatkan makanan kesukaannya.

  • Daripada menyuruh si Kecil tidur, gendong atau gandeng mereka ke tempat tidur.

  • Saat si Kecil sedang bersiap-siap berangkat ke sekolah, bantu mereka dalam memilih pakaian yang akan dikenakan pada hari itu.

  • Mulai ajarkan si Kecil untuk mengasihi orang lain dengan memberikan contoh membantu orang lain atau memberi sumbangan kepada orang yang kurang mampu.

  • Saat si Kecil sedang sakit, naikkan semangatnya dengan menyiapkan film kesukaan mereka, membaca buku kesukaannya, atau memasak sup yang paling disukai si Kecil.

  • Dalam menyiapkan sarapan, makan siang atau malam – selipkan makanan penutup atau snack kesukaan mereka, seperti es krim, misalnya.

5. Bahasa cinta berupa sentuhan fisik

  • Saat bertemu dan berpisah dengan si Kecil, berikan ia pelukan.

  • Apabila si Kecil sedang mengalami stres, belai kepalanya untuk menenangkan mereka.

  • Peluk dan cium si Kecil saat ia tidur malam dan bangun pagi.

  • Setelah mengajarkan disiplin pada si Kecil, berikan mereka pelukan sejenak dan jelaskan bahwa pengajaran yang telah diberikan adalah untuk kebaikan mereka sendiri dan bahwa Anda masih sayang kepadanya.

  • Saat memilih hadiah untuk si Kecil, pilih benda yang dapat ia pegang/ peluk seperti boneka, bantal atau selimut.

  • Saat sedang menghabiskan waktu bersama si Kecil, seperti menonton TV bersama, duduk berdekatan dengannya sambil berpelukan.

  • Seringlah bertanya apakah si Kecil ingin digandeng atau dipeluk.

  • Apabila si Kecil terluka, pegang dan peluklah mereka untuk memberikan kenyamanan.

Alhamdulillah komplit sekali ya posting kali ini. Tumben banget sangat panjang. Hahaha….

Selamat membersamai anak dengan bahagia, Ayah Bunda….
Jangan lupa tuk sering-sering kembali ke sini untuk menemukan tips pengasuhan anak ya!

Selasa, 26 Desember 2017

Cerdas Tapi Tidak Naik Kelas. Mungkinkah?

Desember 26, 2017 0 Comments
Sabtu lalu, DnB terima rapor. Sama seperti jutaan anak sekolah lain di seluruh negeri. Kami ngeri-ngeri sedap dengan hasil belajar mereka berdua. Penurunannya lumayan sekali. Akhirnya kami memakai standar, "Yang penting nilainya di atas KKM". Alhamdulillah, dengan melihat Kriteria Ketuntasan Minimal, kami melihat nilai mereka dengan perasaan yang lebih positif. Memang di atas KKM semua.  Tiba-tiba saya kepikiran membuat posting tentang Anak Cerdas Tapi Tidak Naik Kelas agar orangtua tidak cemas dengan hasil belajar anak, dan lebih berperan aktif dalam proses belajar anak.


Adakalanya, kita perlu mempersiapkan diri agar tidak terlihat kecewa di depan anak. Tentu saja, kami tak memberitahu bahwa batasannya KKM. Woho... itu penurunan drastis. Itu hanya exit door agar bisa menerima hasil belajar anak dengan baik. Tentu saja otak langsung bekerja bagaimana solusi agar nantinya lebih baik. Juga menganalis apa saja yang membuat mereka mendapat nilai segitu.

Kami berpantang mencela hasil belajar anak karena yakin bahwa ada kekecewaan di hati mereka. Cukup gali saja agar anak menemukan rasa itu sehingga berjanji akan lebih baik lagi. Lagian, nilai di bawah KKM bukan berarti anak bodoh kok. Bisa jadi:

1. Anak belum siap belajar
2. Orangtua tidak berperan aktif ketika belajar di rumah
3. Guru kurang bisa membuat anak tertarik dengan ilmu yang disampaikan.

3 elemen ini memang harus bekerja sama agar hasil belajar anak lebih maksimal

Setiap anak cerdas. Saya yakin itu. Masing-masing kecerdasan memiliki bidang berbeda. Tak heran jika Gardner membagi menjadi 8 kecerdasan anak, dan kemudian ditambahkan 1 lagi kecerdasan yaitu kecerdasan spiritual.


Ayah bunda tentu hapal dengan 8 kecerdasan majemuk ala Howard Gardner:

1. Kecerdasan linguistik (word smart)
2. Kecerdasan logika-matematika (number smart)
3. Kecerdasan visual spasial (picture smart)
4. Kecerdasan kinestetik (body smart)
5. Kecerdasan interpersonal (people smart)
6. Kecerdasan intrapersonal (self smart)
7. Kecerdasan Naturalis (nature smart)
8. Kecerdasan musik (music smart)


Jika AyBund berhasil memetakan tipe kecerdasan anak, ia akan memiliki cetak biru potensi dan prestasi yang bisa digali. Coba kenali satu-satu melalui simulasi dan stimulasi. Keduanya mutlak diperlukan bagi perkembangan anak.
Simulasi adalah suatu proses peniruan dari sesuatu yang nyata beserta keadaan sekelilingnya (state of affairs).

Stimulasi adalah dorongan atau rangsangan, yang lebih lengkapnya berarti suatu kegiatan yang dilakukan untuk merangsang kemampuan dasar anak agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Nah, kami sadar sekali bahwa simulasi dan stimulasi kami belum maksimal. Jadi, kami, kedua orangtuanya, punya andil yang cukup besar pada turunnya prestasi hasil belajar DnB. Apalagi kami sadar sejak awal bahwa keduanya anak pandai tetapi kurang terasah kecerdasannya. Istilah kerennya gifted-learning disabled. Keadaan ini membuat mereka menjadi anak under achiever. Sedih, ya. Harus dibenahi bersama-sama nih.

Pada kenyataannya, di sekolah, hampir selalu ada anak yang tidak naik kelas karena satu atau berbagai sebab. Anak yang tinggal kelas ini tidak selalu memiliki IQ rendah. Beberapa anak ber-IQ tinggi juga bisa mengalaminya.

Pada tahun 1994, Kongres PGRI pernah merilis data mengejutkan Jumlah Anak yang Tinggal Kelas. Dari seluruh anak di Indonesia, setiap tahun ada 16,7% siswa kelas satu yang tinggal kelas. Meski sudah 23 tahun berlalu, dan prosentase berubah, namun tak menutup celah ‘bahaya’ yang bisa terjadi pada anak-anak di dekat kita. Karena, anak cerdas pun bisa tinggal kelas.
Bagaimana bisa begitu?


Dunia pedagog – pendidikan anak – mengenal istilah anak ‘underachiever’ atau anak yang tidak terpenuhi potensi kemampuannya. Catat dan di-bold, ya. Anak yang tidak terpenuhi potensi kemampuannya. Para ahli memberi sebutan lain yaitu gifted-learning disabled atau anak cerdas-berbakat berketidakmampuan belajar.

Di jurnal Learning disabilities, Brody dan Mils menyatakan, pada dasarnya anak memiliki kelebihan dan ketidakmampuan sehingga terjadi kesenjangan prestasi dan potensi. Sementara Conny menyatakan, prestasi dan kinerja anak jauh berada di bawah potensinya. Ibarat kendi air besar, diisi sedikit air. Anak kurang mendapat pengarahan sesuai kebutuhannya. Misalnya suka menulis tak ada yang mengarahkan, suka musik tak ada arahan dan atau fasilitas. Atau yang paling umum, orangtuanya tidak peduli dengan sekolah anak.

Jadi… jika anak tidak naik kelas, ada baiknya orangtua introspeksi diri, karena mungkin, telah abai dengan kebutuhan belajar anak.

Jadi... anak cerdas pun bisa tak naik kelas. Tak mau ini terjadi, kan, AyBund?

Yuk bersamai anak belajar!

Minggu, 17 Desember 2017

Membumikan Matematika di Rumah

Desember 17, 2017 0 Comments
Saya bukan ahli matematika. Saya bahkan termasuk golongan yang sudah kliyengan dulu jika diajak membahas matematika. Saat anak meminta bantuan mengerjakan soal matematika, reaksi pertama saya adalah, “Papa… bisa membantu? Please?”


Keengganan saya dengan pelajaran matematika sudah terlihat sejak anak memasuki kelas 3. Soal di buku dan LKS terlalu sulit. Begitu pendapat saya. Bahkan, beberapa kali saya membagi soal kelas 4 yang menurut saya melampaui usia. Lalu, teman-teman saya akan menjawab dengan sabar dan memberi rumus. Senangnya memiliki teman-teman baik di facebook.

Meski saya tak suka pelajaran matemtika, melipir cantik jika dimintai tolong membantu anak mengerjakan soal, tetapi saya sering bermain games matematika. Saya tahu anak-anak saya menyukainya. Mereka sangat terbiasa dengan matematika di kehidupan sehari-hari dan kami bersenang-senang dengannya. Matematika ala saya sangat sederhana dan saya sudah membaginya:
6. Ada matematika di tumpeng

Permainan-permainan sederhana - permainah prematematika- membuat anak menyadari bahwa matematika adalah bagian dari hidup, sehingga tak hanya terbiasa, anak-anak pun akan suka,


Mengapa saya menggunakan games untuk membumikan matematika? Alasannya sederhana saja. Manusia adalah Homo Luden. Mereka suka bermain. Bermain membuat proses belajar menjadi mudah. Dan semua menyukainya. Alhamdulillah, sejak sekolah, Destin dan Binbin selalu memilih belajar matematika jika saya beri opsi boleh belajar yang mereka sukai. Nilai-nilai mereka pun termasuk tinggi.

Karena mereka sudah berusia 9 dan 13 tahun, sudah saatnya mengajarkan mereka cerdas finansial juga. Tema ini juga masuk dalam rencana membumikan matematika.


Tiba-tiba, saya ingat cerita Munif Chatib tentang putrinya Bela. Penulis kecil ini pernah terindikasi hambatan diskalkulia karena trauma dengan matematika. Gurunya melabeli bodoh ketika mendapat nilai 40. Seram, ya. Ini adalah tragedi yang menyedihkan. Dan penyebabnya adalah, karena guru/sekolah memisahkan matematika dengan kehidupan sehari-hari.

Yuk Kita membumikan matematika, mulai dari rumah.

Minggu, 10 Desember 2017

Duh.... Jawab Apa Ya...

Desember 10, 2017 3 Comments
“Mama, artis yang itu sih, Ma, kok mau ya jadi pelakor?’
“Papa, kenapa Kamboja kejam sekali pada pengungsi Rohingya?”
“Ma, ML itu apa?”
“Kapan aku punya anak?”
(ilustrasi maya)

Akan tiba masa ketika anak bertanya topik berat setelah mendengar percakapan orang dewasa tentang suatu topik tertentu seperti suasana politik dan lainnya. Apalagi jika informasi tersebut didapatkan dari kedua orangtuanya.


Sudah lazim kiranya, jika pasutri banyak berdiskusi. Duduk santai, bersama kopi dan camilan sederhana. Percakapan ngalor ngidul, mulai dari kegiatan anak di rumah, pekerjaan hari ini, berita si X, sampai isu hangat tentang ‘Papa dan mobil Pajero’, misalnya.

Adakalanya orang tua lupa bahwa ada anak kecil di sekitarnya yang memiliki otak mirip spons, menyerap apapun informasi. Nyaris tanpa filter. Tentu saja, penyerapan disesuaikan usia dan kemampuan otak. Usia 0-24 bulan misalnya, semua informasi diserap 100% masuk ke bawah sadar. Usia di atasnya, saringan informasi mulai terbentuk perlahan, seiring dengan datangnya kemampuan baru, yaitu BERIMAJINASI. Namun jangan bayangkan seperti otak anak usia belasan tahun. Belum.

Saya ingat, di usia TK, Destin dan Binbin bertanya tentang banyak hal – sebagian besar sangat mengejutkan dan membuat takjub, sebagian lagi sulit saya jawab sehingga meminta tempo. Jangan anggap berat karena semua orangtua mendapatkan jatah pertanyaan, sesuai penyerapan informasi anaknya.

Sebelum terjadi peristiwa bersejarah semacam ini, yuk cermati tips menjawab pertanyaan sulit anak yang saya sarikan dari berbagai sumber, kulwap dan video parenting. Saya tidak menuliskan di sini karena saya ganti dengan kalimat dan pemahaman saya sendiri.

1. Jangan menanggapi pertanyaan anak dengan jawaban negatif apalagi melarangnya. Ibarat topik diskusi sudah digelar, pemateri harus bisa menjawab sesuai kemampuan. Jawablah dengan memperhatikan tips di bagian bawah tentang Cara menjawab pertanyaan sulit anak’ ng selanjutnya.

2. Jangan menghindar, apalagi jika apa yang ditanyakan anak pernah kita lakukan. Jika memang tidak siap, bisa meminta tempo ke anak beberapa menit dengan dalih menyelesaikan pekerjaan penting yang dikerjakan sekarang.

3. Tanyai anak (bukan menginterogasi), seberapa dalam informasi yang dia ketahui. Jawaban anak bisa menjadi permulaan menjawab, dan seberapa banyak informasi yang bisa diberikan dan diklarifikasikan.

4. Jawab dengan jujur, jangan membohonginya. Jawaban jujur membuat anak percaya pada kita sebagai sumber informasi. Jangan sampai ia mencari sosok lain untuk menjawab keingintahuannya.

5. Jawab dengan ringkas, padat, tanpa memberi celah pada pertanyaan besar lainnya. Misalnya, “ML? Itu singkatan bahasa Inggris, make love. Make = membuat, love = cinta.”

6. Sabar dalam menajawab pertanyaan anak yang mungkin akan susul menyusul.

7. Jangan bosan jika ditanyakan secara berulang. Mengulang mungkin lebih menguatkan jawaban atau klarifikasi kembali jika ada penjelasan yang masih abstrak atau masih kurang.

Berbicara tentang isu berat sebenarnya menjadi bagian yang menyatu dalam proses mendidik anak. Tak perlu ditakuti atau dihindari. Jika ternyata belum, bisa membuat pencegahan. Misalnya saat menonton TV bersama dan ada iklan yang tidak bagus atau cerita sinetron favorit yang tidak mendidik– meskipun seharusnya kita tahu, bahwa sebaiknya tidak menonton TV bersama anak, apalagi sinetron.
1. Mulai sejak dini. Tanamkan pendidikan moral pada anak sesuai usianya. Jelaskan nilai moral yang dianut keluarga agar anak hapal dan paham. Mulailah sejak berusia 2 atau 3 tahun.
2. Memancing rasa ingin tahu anak. Beberapa isu memang harus dikenalkan, terutama yang berada di sekitar kita. Adakalanya anak tidak terlihat tertarik dengan suatu isu, padahal ia perlu tahu.
3. Buka peluang anak bertanya kapan saja. Buat anak percaya bahwa kita sumber informasi yang tepat dan bisa dipercaya. Hal ini menjadi sangat penting karena hanya kita yang paham, nilai keluarga apa yang kita ciptakan. Akan sangat berbahaya jika anak mencari informasi ‘penting’ dari sosok lain yang mungkin salah menjawab tetapi dipercayai anak.

Nah…
Ayah, Bunda… ternyata penting sekali bagi kita untuk menjadi sumber berita bagi anak. Dan penting sekali untuk menjawab pertanyaan anak dengan ringkas, padat, dan informatif sesuai usianya. Tentu kita perlu berlatih dan menyiapkan jawaban yang tepat. Mungkin lain waktu saya bisa menuliskan contoh pertanyaan dan jawaban yang sesuai usia. Tidak 100% benar karena saya juga masih belajar menjadi orangtua yang tepat bagi anak.

Jumat, 08 Desember 2017

Pre-Math Games dengan Jam

Desember 08, 2017 4 Comments

Hari ini Mami Susi suwibuk buk buk buk. Hehehe…
 
Alhamdulillah beberapa deadline tercapai – posting blog Cakrawala Susindra, membuat flyer kuliah parenting IIP Jepara di Perpusda, membaca buku SP Gustami tuk informasi yang saya cari, mengerjakan administrasi kecil tuk 2 komunitas. Semua dilakukan di Perpustakaan. Target membersihkan semua tanaman liar di kebun belakang juga selesai sebelum jam 8 pagi tadi, sebelum ke Perpusda. Sampai rumah sore, langsung nyemil gorengan, memasak sayur udang kuah oyong dan kolak setup pisang.Wuih.. kalau dijlentrehke kok berasa banyak ya. Hahaha… belum termasuk yang lain. Intinya, saya sudah cukup lelh dan terkantuk-kantuk saat mengerjakan tugas Math Around Us. Sudah hampir batas pengumpulan akhir dan saya baru sampai hari ke Sembilan. Semangat!

Karena sibuk itu, saya tak banyak main-main dengan anak. Kurang imaginasi dan kurang semangat. Hmm… bahaya ini. Saya sempat kepikiran bikin edisi false celebration atau mengakui gagal di hari ke Sembilan. Tapi saya selalu ingat kalimat:

Ojo kalah karo wegah

Dan jika saya ternyata kalah, rasa menyesalnya lebih berat. Karena saya selalu tahu bahwa saya bisa lebih baik dari itu jika tidak kalah oleh wegah. Makanya sering push harder & harder.

Lha… kok malah ke mana-mana ceritanya. Padahal Cuma cari alasan mengapa mala mini saya membagi permainan pre-matematika yang super sederhana untuk anak. Hahaha….


Maafkan saya, Aybund. Semoga tak sampai membuatmu menutup posting ini sebelum membaca sampai akhir. Maafkan juga saya yang kadang bercanda.

Pre-Math Games atau Pre-matematika malam ini adalah mengenai jam dan waktu. Alatnya sederhana sekali, yaitu jam digital, jam analog, kertas, dan pulpen. Semua mudah didapatkan.
1. Jam digital : pakai jam HP saja.
2. Jam analog: jam tangan/jam dinding, jika ada yang rusak, lebih baik.
3. Kertas dan pulpen untuk menulis

Jumlah pemain: minimal 2, maksimal 4.


Cara bermain:
1. Pemain A memegang jam analog, pemain B memegang jam digital.
2. Pemain A menentukan jam sebagai soalnya bagi lawannya. Pemain B menjawab dengan menggunakan jam analog yang dipegang.
3. Setelah dinyatakan benar, pemain B menuliskan waktunya dalam bentuk tulisan.
4. Tiap pemain mendapatkan 5 giliran.

Permainan ini akan lebih asyik jika kedua pemain mau sekaligus belajar menulis dalam bahasa Inggris/Perancis. Jadi tak hanya belajar angka dan jam dalam bahasanya sendiri tetapi juga mengembangkan kemampuan berbahasa lainnya.

Jujur saja, saya kepikiran game ini karena Binbin sedang semangat belajar kosakata bahasa Perancis dengan aplikasi game “French Fun Easy Learn”. Dia juga lumayan bahasa Inggrisnya meski masih sangat terbatas sesuai pelajaran di sekolahnya. Saya masih punya tantangan membuatnya mau belajar sedikit lebih banyak daripada pelajaran sekolah. Hobi bertualangnya sangat dominan. Jadi kadang perlu persuasif yang lebih memaksa. Beruntunglah AyBund yang punya anak-anak yang mau diam di rumah.


Ahahahaha…. Yah, begitulah. Semua sawang sinawang. Kadang anak tetangga lebih manis daripada anak sendiri.

Kali ini saya hanya bercanda, kok, beneran.

Kamis, 07 Desember 2017

Mengajarkan Anak Mengenal Nilai Uang Dengan Games Sederhana

Desember 07, 2017 0 Comments
Malam yang biasa banget di rumah Susindra. Kami berempat duduk di ruang depan yang kami pakai tuk kegiatan sehari-hari. Rumah kami memang tidak besar. Hanya 2 kamar tidur, 1 dapur dan satu ruang depan yang agak luas untuk kegiatan apapun.

Di rumah kami tak ada TV. Hiburan – jika dianggap demikian – adalah satu laptop tuk bergantian dan Android. Untuk anak-anak, ada sebuah tablet khusus bagi mereka untuk bermain game, belajar, berselancar dan belajar memakai media sosial. Ingat ini tiba-tiba ingat pengen bikin tulisan khusus tentang anak dan gadget. hehehe


Malam yang sangat biasa. Berempat memegang gawai masing-masing atau sedang mengerjakan PR. Terkadang kami melakukan forum komunikasi keluarga yang sederhana, sekadar bercerita bergantian. Yang terakhir ini agak jarang. Kesempatan kami benar-benar berempat hanya di malam hari. Tiba-tiba saya ingin mengajarkan anak tentang nilai uang.

Mengetahui nilai uang itu sangat penting. Karena anak-anak tak mungkin dihindarkan dari uang. Memberi mereka uang tanpa mengetahui nilainya juga sangat berbahaya. Banyak kan anak yang menangis kejer karena meminta uang? Atau saat diajak ke toko tiba-tiba meminta suatu benda yang harganya sangat mahal?

Beberapa dari AyBund mungkin akan berdalih bahwa uang masih bisa dicari, tetapi anak lebih utama. Maafkan saya jika tidak sependapat dan snedikit memberikan warning akan bahaya selalu menuruti keinginan anak tanpa mengajarkannya nilai angka yang tertera dalam label harga dan berapa peluh yang harus AyBund tebus untuk uang tersebut. Padahal, sejak usia 2 tahun anak sudah bisa pelan-pelan diajarkan tentang hal ini. Tentu saja menggunakan logika anak batita. Jadi, jika saya mengajarkan nilai uang pada Binbin di usia 9 tahun, sudah hampir terlambat, kan?

Jangan khawatir, ini salah satu bagian dari menjawab Tantangan 10 hari kuliah Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Saya sudah mengajarkannya dari kecil meski mungkin tak seintensif ini. Karena ditulis di blog, harus punya landasan teori agar bisa dicoba AyBund di rumah bersama anak.

Saya punya 2 pendapat tentang bahaya tidak mengajarkan nilai uang pada anak, yaitu:
1. Anak jadi konsumen yang buruk.
Disebut demikian karena kecenderungan berbelanja secara impulsif. Belanja setiap kali ingin atau melihat sesuatu yang menarik, tanpa memandang sedang butuh atau tidak. Terkadang hanya diletakkan begitu saja tanpa disentuh setelah sampai rumah. Jika ada uang, mungkin tantangannya tidak sebesar jika punya sedikit uang. Khawatirnya jika tak ada pengerem, sementara keinginan berbelanja terlanjur diliarkan, anak bisa bertindak nekat.
2. Mengambil uang yang bukan haknya.
Saya pernah mengalami hal ini. Anak tetangga yang sangat-sangat kaya mencuri uang Rp 100.000,- dalam dompet yang saya taruh dengan teledor di atas meja depan. Ketika saya berlari tuk mengambil dompet dan membukanya di situ lalu bertanya, “Ada yang lihat uang seratus ribu Mama?”, si anak melempar uang tersebut ke sudut dan pamit pulang. Antara senang dan prihatin.

Mengajarkan nilai uang bisa membuat anak lebih realistis dalam membelanjakan uang saku atau uang upah bekerjanya. Mereka juga bisa membedakan uang saku dan uang jajan. Saya sudah menulisnya di artikel Menetapkan uang saku yang paling pas buat anak  dan mengajarkan si kecil mengelola uang saku.

Cara mengajarkan nilai uang untuk anak kecil:
1. Bermain tebak harga. Missal,
Mas Destin membeli es tebu 4 porsi. Ia menyodorkan yang Rp 20.000,- dan diberi kembalian Rp 8000,-. Berapa harga es tebu per porsi?

2. Bermain matematika dengan soal yang realistis. Misal:
Mama ke pasar membeli satu kilo telur seharga Rp 18.000,- dan satu kilo jeruk seharga Rp 15.000,-. Satu kilo telur ayam berjumlah 15 butir sedangkan satu kilo jeruk berjumlah 8 butir. Mana yang lebih mahal?

3. Berbelanja sendiri.
Anak diberi uang Rp 10.000 (nominal bisa sangat berbeda), bebaskan anak membeli sesuatu yang sangat dia butuhkan atau membeli sesuatu yang sangat dia inginkan dan memintanya menjelaskan apa yang dia rasakan ketika memilih salah satu.

4. Memberi upah untuk beberapa ‘pekerjaan’ atau ‘kebaikan’ tertentu yang disepakati. Misalnya membantu menyiangi rumput atau menyiram tanaman. Antar anak berbelanja dengan uang upah yang didapatkannya.

5. Permainan simulasi nilai uang.
Tempel uang Rp 10.000 di kertas HVS/kertas buku. Di bawah uang beri tulisan berupa pilihan:


  1. Membeli sesuatu yang dia inginkan

  2. Membeli sesuatu yang sangat ia butuhkan

  3. Membeli sesuatu yang disukai sekeluarga

  4. Menyimpan uang di celengan/tabungan

  5. Memberikan ke pengemis di pasar

  6. Memberikan ke teman yang sedang sangat sedih karena kehilangan

  7. Menyumbang ke bencana yang terjadi di sekitar.
    Minta anak mengurutkan mana tindakan yang dia ambil terlebih dahulu dan penjelasannya. Setelah itu jelaskan mana urutan yang paling sesuai

Sebenarnya masih banyak cara mengajarkan anak mengenal nilai uang. Silakan di-ATM dan dikembangkan. Semoga anak kita menjadi anak yang shaleh dan shalekha dan senantiasa bersyukur dengan apapun miliknya, dan terutama sangat menghargai nilai uang. aamiiin

Senin, 04 Desember 2017

Matematika di Sekitar Anak

Desember 04, 2017 2 Comments
Kemarin saya bercerita tentang Tips Membuat Anak Suka Matematika dengan judul yang geje banget: Cara Saya Mencetak Ahli Matematika.

Semoga jadi doa yang diijabah, begitu pikiran saya selalu, selama proses mengedit dan membagikannya. Sampai sekarang pun masih. Doakan ya Bunda…


Nah, kali ini saya punya cerita sederhana lagi tentang Binbin dan matematika. Tema bulan ini, makanya saya fokuskan ke sini. Tugas saya adalah melaporkan apapun kegiatan saya membuat anak mengenal, akrab dan cinta matematika.

Seru, kan?

Oh ya, kami mengenalkan cara mengukur cepat menggunakan jumlah tegel. Daan… karena suami saya penjual mebel Jepara, tentu saja, meteran jadi teman ke mana-mana. Terang, anak-anak juga ikut memegangnya. Meteran yang lebih panjang – seperti meteran jalan – milik Papa Gondrong beberapa kali keluar ‘kandang’ karena Binbin penasaran dan ingin bermain mengukur benda yang ditemukannya. Kadang saya merasa euw... karena menggulung meteran super panjang itu. Tapi saya tidak melarangnya dengan kalimat terang. Beberapa teladan lebih baik diucapkan dengan tindakan. Saya khawatir jika melarang bisa membuatnya takut dan merasa berbuat salah.

Segitu dulu ya, cerita saya tentang ‘petualangan’ Binbin bersama angka sembari membumikan matematika dalam rumah dan lingkungannya. Lain kali akan saya sambung yang lebih serius. Hari ini laptop diinstall ulang dan baru bisa saya pakai jam 23.00 malam. Saya punya waktu kurang dari 60 menit sebelum Tantangan 10 Hari Kuliah Bunda Sayang Institut Ibu Profesional ditutup. Besok, saya akan menceritakan tentang permainan bentikan. InsyaAllah

Membumikan matematika mungkin istilah yang terlalu dipaksakan- meski ada benarnya. Betapa masih banyak sahabat saya yang merasa matematika adalah pelajaran sulit dan tidak terpakai di kehidupan sehari – hari. Pendapat itu salah besar. Matematika ada di sekitar kita. Setiap inchi rumah menggunakan matematika agar menjadi ADA.

Menyadari keberadaan matematika, memudahkan proses taaruf anak dengan pelajaran ini.

Contoh penggunaan matematika di rumah untuk Binbin.

“Nak, siapkan 4 perangkat makan ya,” pinta saya pada Binbin. Dengan sendirinya Binbin akan tahu bahwa ia harus mengambil 4 piring, 4 sendok, dan 4 gelas. 

Atau, saat saya sangat sibuk dan menawarkan pada si 9 tahun saya itu untuk memasakkan lauk sederhana berupa tempe dan tahu goreng. Anak lanang saya ini sudah pede memasak sendiri.

“Setiap orang 4, Ma?” tanyanya. Lalu dengan senang hati Binbin menggoreng 16 potong tempe/tahu goreng.


Yang cukup sering, menggunakan prosentase tertentu untuk mendeskripsikan level kepedasan. Meski masih memakai ilmu titen.
“Berapa persen pedasnya, Ma?” selalu ia bertanya sebelum ikut memakan sambel.


Jika saya menjawab di bawah 40%, Binbin akan ikut makan. Di atas itu ia tidak berani. Tentu saja, ukuran yang dipakai bukan satuan Scoville atau SHU. Hanya semacam kode boleh makan dan atau tidak boleh.


Percaya kan, kalau matematika ada di sekitar kita? Yuk... yuk... yuk... akrabkan anak dengan ilmu ini...

Minggu, 03 Desember 2017

Cara Saya Mencetak Ahli Matematika

Desember 03, 2017 9 Comments

Aku Suka Matematika!

Bicara matematika, saya termasuk ibu yang sangat beruntung. Kedua putra saya suka matematika dan menjadikannya pelajaran FAVORIT. Kebalikan dari saya yang tidak suka matematika,

Saya tidak suka matematika. Cenderung menghindari sebisa mungkin dengan berbagai alasan. Saya tidak suka, tidak suka, dan tidak suka. Saat SMA kelas tiga, saya merasa bebas karena tak ada pelajaran ini – meski 3 bulan sebelum ujian diberi les (tambahan) karena ternyata ada tes matematika di UAN. Bayangkan rasa saya saat itu, dipaksa pulang sore untuk pelajaran yang tak ada di jadwal, dan pelajaran itu tidak saya sukai. Dan bat Susierna harus tahu, bahwa saudari kembar saya suka banget dengan pelajaran matematika. Dia emah di pelajaran berbahasa asing – yang saya sangat bagus di situ.

Weits… saya memberi energi negatif tatkala hendak melukiskan rasa suka hati.


Saya masih sering terkagum-kagum dengan kemampuan DnB Susindra (Nama alias Destin dan Binbin, anak saya). Kedunya mudah memahami rumus matematika dan bias mengerjakannya dengan senang hati. Jika diminta bebas memilih belajar apa, pilihan utama selalu jatuh ke pelajaran ini. Bahkan jika besok tak ada matematika. Jadi… saya belikan saja buku matematika, selain buku dari sekolah. Terkhusus Binbin yang juga suka belajar bahasa Inggris, saya tambahkan buku pelajaran kesukaannya.

Bisa bayangkan rasa suka hati saya?

Ruth Champagne, Ph.D seorang guru sekaligus ahli matematika dari barat berkata, bahwa orangtua – terutama ibu – memiliki andil yang sangat besar dalam membuat anak suka atau tidak suka matematika. Setidaknya, mereka memiliki andil membentuk perasaan negatif dalam diri anak saat menghadapi matematika.

Saat orangtua tanpa sadar menyatakan ketidakmampuannya menguasai mata pelajaran matematika, bisa jadi anak akan diserbu rasa cemas dan takut jika ia mengalami ketidakmampuan yang sama. Dari sinilah ‘dosa turunan’ dimulai. Anak jadi merasa tidak suka matematika Karena sosok teladannya begitu.

Pertanyaan menggelitik saya adalah,

Jika saya tidak suka matematika, mengapa anak saya maah suka?

Hmm….
Mari ngunjuk kopi sebelum membahasnya.
Alasan saya tidak suka matematika adalah karena saya lamban dalam memahami rumus yang diberikan guru. Saya juga sering mengalami keraguan, benarkah hasil perkalian saya benar? Juga, karena saya tidak tahu ada cara penghitungan perkalian yang asyik. Setahu saya, matematika = menghapal hasil perkalian dan saya tidak suka menghapal secara membuta.

Berbeda dengan suami yang lebih beruntung, mengenal beberapa rumus singkat dan perkalian menggunakan jari sehingga tak perlu repot menghapal. Dan yang jelas, matematika adalah pelajaran favorit suami.
Sekarang sudah tahu kan dua rahasianya?


Meski papanya anak-anak sangat suka matematika, belum tentu anak serta-merta menyukai juga. Rupa-rupanya ada beberapa tindakan kami yang membumikan matematika. Membahasakan matematika dalam kehidupan sehari-hari saat anak-anak masih berada di masa emas. Misalnya:

1. mengajak anak menghitung jumah motor yang lewat sambil menunggu papanya pulang.
2. Di mana pun, bahkan saat ke brak kerja pengrajin, saya selalu menemukan balok-balok kecil untuk berhitung.
3. Menumpuk balok (limbah potongan mebel) menjadi salah satu permainan favorit anak-anak, dan media belajar berhitung.
4. Membuat kue bersama lalu memotong menjadi dua, empat, delapan, dan enam belas secara bertahap untuk mengenalkan pecahan.
5. Menghitung jumlah mangga yang tumbuh di kebun


Dan masih banyak lagi. Membumikan matematika ini, menjadikannya bagian dari hidup anak bias membuat mereka mencintai matematika. Sederhana, ya.



Mengapa saya tiba-tiba menulis ini?



Karena si bungsu membutuhkan bantuan mengerjakan matematika. Meski saya tak selalu bisa membantu mengerjakan soal kelas IV SD, tetapi menemaninya belajar bisa menjadi support yang sangat berharga. Yup… menemani di sebelahnya saja. Akan lebih baik jika plus membuatkan camilan. Waaah…. TERBAIK!

Tak susah mencetak ahli matematika di rumah. Apakah Bunda setuju?


Semua gambar foto pinjam dari pixabay

















[/et_pb_text][/et_pb_column_inner][/et_pb_row_inner][/et_pb_column][/et_pb_section]

Jumat, 01 Desember 2017

7 Kebiasaan yang Merusak Produktivitas

Desember 01, 2017 6 Comments
Duh… saya bingung dengan semua deadline yang menyerang saya. Makin saya panik, makin jauh dari selesai. Makin memforsir diri, makin sedikit produktif. Saya heran sekali. Biasanya, saatDL, saya bisa lancar menulis. Pikiran saya terbuka dan cepat beradaptasi dengan tema. Mengapa sekarang tidak bisa? Pertanyaan ini makin membuat saya grogi, dan tahu sendiri hasilnya.
Akhirnya, saya mencoba mencaritahu ada apa dengan cinta eh saya. Sementara ini, ada 7 kebiasaan yang merusak produktivitas saya.


Berikut kebiasaan yang menghambat dan merusak produktivitasmu

  1. Multitasking.1. Multitasking.Sulit dipercaya jika multitasking malah bisa merusak produktivitas. Multitasking sudah jadi bagian tak terpisahkan bagi saya. Saya yakin para ibu lain pun melakukan hal yang sama. Memasak sambil berselancar ke dunia maya, misalnya. Sebelum kamu protes, saya beritahu dulu, multitasking yang saya maksud adalah yang sama-sama membutuhkan konsentrasi. Kalau mencuci baju sambil membaca, menyetrika sambil nonton TV… multitasking yang ini beda. Meski bagi beberapa orang tetap tidak efektif, karena kurang fokus. Hahahaha…. Bagusnya sih, ambil satu pekerjaan, selesaikan dengan baik, baru ambil pekerjaan lain. Itulah sebabnya para kaum Mars – pria selalu fokus dan produktif.

  2. Meletakkan Android/Tablet/TV di sebelah.Guilty pleasure terbesar adalah menghabiskan waktu yang sangat banyak untuk mengecek media sosial, membaca berita secara daring, bermain game, atau asyik mengetik di WhatsApp, Telegram, BBM, Line dan semacamnya. Baru ingat setelah bermenit-menit berlalu. Saya sering kembali ke pekerjaan utama dengan rasa terkejut karena ternyata sudah menghabiskan waktu 60 menit untuk hal yang sesalnya mirip makan mi instant 10 cabai setan. Antara nagih dan menyesal karena jahat kepada ginjal. Pencegahan yang agak efektif adalah mematikan data/meletakkan Android jauh dari jangkauan/mematikan semua notifikasi/mencabut kabel (TV) dan bisa lebih kreatif dari itu.

  3. Duduk di kursi sepanjang hari.Sakit punggung dan kaki, saya cukup akrab dengan keduanya. Bahkan sekarang p*nt*t saya juga sakit sekali karena duduk sepanjang hari. Bisa 16 jam per hari dengan jeda rehat yang tak lama, karena kebutuhan. Saat sudah sakit, otomatis apapun yang saya lakukan jadi lebih lama.Posisi bekerja bagi para penulis seperti saya adalah berdiri. Atau, setidaknya,jika tetap duduk di kursi, sesekali berjalan-jalanlah ke sekitar untuk melancarkan darah dan membuat tubuh fit kembali.

  4. Begadang.Begadang tidak akan membuat produktivitas naik. Saat deadline mungkin memang lebih cepat menyelesaikan tulisan – karena ada bantuan hormone – tetapi setelah itu biasanya akan lebih lama dalam mengerjakan sesuatu karena tubuh juga perlu waktu untuk pulih. Tidur tepat waktu dan sesuai porsi akan membuat prouktivitas naik, karena kamu jadi lebih sehat, lebih bahagia, lebih cerdas, lebih teliti, dan bisa memperoleh ide-ide cemerlang.Jika memang waktunya tidur, jangan paksa tetap bekerja, apalagi begadang sampai tengah malam. Tidur tepat waktu dan bangun lebih awal lalu melanjutkan pekerjaan lebih baik daripada memaksa menyelesaikan sampai pagi.

  5. Perfeksionis. Pasti pernah menghabiskan waktu cukup banyak untuk membuat sesuatu lalu merombaknya lagi karena merasa kurang bagus dan berkali-kali melakukannya, saat sadar, sudah banyak waktu terbuang. Saya tipe perfeksionis dan pastinya sering tidak produktif karena fokus pada kesempurnaan, bukan penyelesaian. Contohnya saat menulis, saya sering merasa kurang membaca dan kurang informasi sehingga keasyikan membaca dan lupa menulis.

  6. Mengabaikan alarm dan kembali tidur.Dulu sih… dulu ya…. (catet), saya sering mematikan alarm lalu balik tidur. Kebisaan ini jamak banget di kalangan jomblo (maaf bawa-bawa jomblo). Setelah punya anak dan tanggungjawab besar, kebiasaan saya ini jauh berkurang. Tapi ada beberapa kali saya melakukan kebiasaan lama ini saat hari libur sekolah. Yup… karena jadwal sekolah anak. So… jika anak-anak libur dan saya mengabaikan alarm… saya bisa bablas tidur sampai jam 8 pagi. Badan tidak nyaman, uring-uringan, menyelesaikan pekerjaan domestik sekadarnya, daaan…. Sulit bekerja an berkonsentrasi. Rugi… rugi… rugi…Yang harus kamu lakukan: jam berapa pun alarm bunyi, langsung bangun, matikan alarm, dengarkan musik, senam kecil, dan bikin kopi.

  7. Tidak sarapan.Dengan alasan buru-buru, sering skip sarapan, kan? Atau Cuma minum kopi dan sekerat roti tanpa isi serat dan protein. Sarapan ibarat mesin bakar tubuh. Fungsinya sangat besar. Sarapan bukan hanya penghalau lapar tetapi juga memberikan tenaga untuk kebutuhan terbesar di pagi hari.Tips sarapan yang baik adalah sarapanlah dengan menu yang seimbang antara karbohidrat, serat dan proteinnya. Silakan googling contoh sarapan sehat dan sederhana – jika masih tahap mencoba membiasakan sarapan.

Nah... itu identifikasi saya sementara tentang kebiasaan yang merusak produktivitas. Mungkin kamu punya tambahan bagi saya?  Jangan ragu menuliskannya di komentar.