Follow Instagram @susierna1 ya

Minggu, 22 Juli 2018

Bahan Belajar di Pendidikan.id

Juli 22, 2018 1 Comments
MasyaAllah hectic-nya akhir-akhir ini, membuat saya hampir lupa pada tugas mereview aplikasi atau media belajar untuk tema Kuliah Bunsay #12: Keluarga Multimedia. Tanpa terasa, 2 hari lagi tantangan 10 hari berakhir. Harus buru-buru menulis lagi, dan kali ini saya ingin menunjukkan sebuah situs bahan belajar di pendidikan.id.

Rabu, 18 Juli 2018

Belajar Memasak dari Cookpad

Juli 18, 2018 0 Comments
Saya termasuk ibu yang senang memasak sesuatu yang unik, dan Cookpad Indonesia adalah salah satu situs andalan saya dalam belajar memasak. Cookpad adalah salah satu situs mencari resep masakan yang menjadi andalan saya. Kebanyakan makanan tradisional saja, karena saya tak terbiasa dengan menu internasional. Terbukti, beberapa kali diner ala Barat, saya sulit mengapresiasi menunya. Lebih sering berputar pada steak dan steak. Menu ala Italia sudah saya tutup dari entah kapan karena sering tidak cocok dengan lidah saya.


Salah satu menu yang paling sering saya Tanya adalah cara membuat ayam goreng ala KFC. Ini menu kesukaan anak, tetapi saya belum menemukan resep yang pas dan mirip. Jadi, memang harus terus mencari dan mencoba. Demi anak-anak juga.

Menu lain yang sering saya akses adalah menu membuat jajanan sederhana. Yang tiba-tiba diminta anak, atau yang sedang banyak dijual di sekitar mereka. Itu salah satu cara agar menjadi ibu yang dirindukan anak dan suami.

Cookpad adalah layanan berbagi resep berbagi resep terbesar di dunia, menyediakan wadah bagi setiap orang di seluruh dunia untuk berbagi dan mencari resep dengan cara mudah, rapi dan menyenangkan. Bisa dikatakan, hampir semua resep ada di sana. Bahkan resep tradisional. Saya belum aktif di situs ini. Masih sebatas mencari resep dan praktik. Padahal, jika mau membuat usaha berbasis makanan, situs ini sangat cocok untuk dijelajah. Apalagi salah satu visi Cookpad Indonesia adalah untuk memberdayakan semua perempuan Indonesia melalui memasak. Visi yang bagus, kan?

Apa saja yang dapat kita peroleh di Cookpad?

  1. Mencari menu masakan lebih mudah berdasarkan kategori bahan dan tingkat kemudahan
  2. Bisa menulis resep, membaginya, atau recook (memasak resep teman dan menulis kembali resepnya)
  3. Jutaan menu Indonesia bisa dicoba, termasuk resep kekinian yang dijual di sekitar sekolah anak
  4. Tampilan antarmuka situs cookpad ramah pengguna
  5. Ada resep terpopler seperti layaknya blog dan media sosial
  6. Dashbor Cookpad ramah pengguna, sehingga mereka yang mengaku gaptekkers bisa tetap berbagi resep dengan bahagia.
  7. Jutaan pengunjung harian, karena sangat ramah SEO. Silakan coba cari resep tertentu, resep di Cookpad akan muncul di laman pertama dan biasanya paling atas.

Nah… apakah AyBund ingin ikut berkontribusi di Cookpad atau hanya jadi silent reader seperti saya? Monggo-monggo mawon. Yang jelas, belajar memasak dari Cookpad itu sangat menyenangkan.

Selasa, 17 Juli 2018

Google Translate: Menerjemahkan Bahasa Asing dengan Cara Asyik

Juli 17, 2018 0 Comments
Google Translate menjadi salah satu aplikasi belajar harian saya. Cara asyik bagi saya, yang sering menerjemahkan literatur berbahasa asing ke dalam bahasa Indonesia untuk studi pustaka. Ada saja buku-buku sejarah berbahasa nggris dan Belanda yang harus saya baca dan pahami. Menggeluti dunia sejarah, membuat saya harus banyak membaca. Buku-buku sejarah paling banyak berasal dari luar negeri. Wajar saja, karena saat itu, budaya menulis di nusantara belum be gitu besar. Bukan hanya sebagai negara terjajah, karena saat negara kita masih berupa nusantara dan belum kedatangan bangsa Eropa pun, bukti tertulis sangat sulit ditemukan. Beberapa babad yang bisa dijadikan sumber sejarah lokal pun, biasanya berupa roman dengan nama-nama yang disamarkan. Beberapa berupa Bahasa sanepo, dan dilagukan dengan rima tertentu. Belum lagi, penanggalan sangat jarang diberikan. Budaya animisme masih kental, sehingga adakalanya nama-nama tokoh disamarkan dengan nama binatang. Bahkan tulisan sejarawan kulit putih pun harus benar-benar disaring karena sudut pandang dan budaya kita berbeda. Yah, itulah tantangan sejarawan.

terjemahan Kartini: Feiten en ficties karya C. Vreede-De Stuers
Contoh literatur yang saya baca. Saya kombinasikan ketiga bahasa ini untuk lebih baik dalam memahami artikel yang sebagian besarsaya dapatkan dari e-resources.perpusnas.go.id. Tulisan lengkapnya dapat dibaca di artikel: Membaca Jutaan Buku Digital dari Seluruh Dunia? Bisa!

Sebagai salah satu aplikasi belajar harian, mau tak mau, saya harus menulisnya. Mungkin AyBund juga membutuhkannya. Bagi AyBund yang tidak butuh, harap jangan anggap sepele aplikasi ini. Tingkat akurasinya terus bertambah. Saya yang pendidikan Bahasa Inggrisnya hanya sampai SMA pada tahun 1997 sangat terbantu. Bagaimana dengan Bahasa Belanda?

Saya tak pernah belajar Belanda, sedangkan sebagian literature yang saya baca berbahasa Belanda. Itulah salah satu alasan terbesarnya. Saya bisa pusing tujuh keliling mencari cara menerjemahkan jika tak ada aplikasi ini. Menyewa tenaga penerjemah juga akan sangat mahal dan tak terjangkau.

Nah, saat menerjemahkan artikel berbahasa Belanda, saya menggunakan Google Translate dari Bahasa Belanda ke Bahasa Inggris. Akurasi penerjemahan bahasa Belanda ke Indonesia belum bagus. Berbeda dengan penerjemahan bahasa Belanda ke bahasa Inggris yang jauh lebih baik.

Nah.. inilah peran Google Translate bagi saya sebagai salah satu aplikasi belajar saya yang wajib dan sangat membantu. Semoga bermanfaat.

Senin, 16 Juli 2018

Tips Menjaga Anak Tetap Aman di Dunia Maya

Juli 16, 2018 0 Comments
Sebagai bagian dari keluarga multimedia, kami, suami istri Susindra tak bisa mencegah anak-anak masuk ke dalam dunia maya atau dunia digital. Sejak mereka baru lahir pun jejak mereka sudah ada di data kependudukan yang dititipkan pula di dunia digital. Apalagi, melihat kedua orangtuanya berada di dunia yang gemerlap ini. Maka yang dapat kami lakukan adalah menjaga anak-anak tetap aman di dunia maya.


Pada kisah sebelumnya, saya berkisah tentang bagaimana kami mengedukasi anak dalam bersosialisasi di dunia maya melalui Facebook. Kami menetapkan batasan-batasan. Tak hanya itu,, perjanjian online pun kami berlakukan. Bagaimanapun, saya menganggap cara ini lebih lentur dan mengikuti zaman.
Nah, di posting sebelumnya tentang Buku Digital Literasi pun, saya telah memberitahu tentang akses memiliki beberapa puluh buku digital mengenai literasi digital secara gratis. Nah, saya tertarik memasukkan salah satu isi buku Seri Literasi Digital berjudul INTERNET SEHAT: Pedoman Berinternet Aman, Nyaman, dan Bertanggungjawab karya Relawan TIK bernomor ISBN 987-602-51324-1-4. Buku ini dijual di toko buku dan telah digitalkan secara resmi untuk semua kalangan. Kali ini saya membuat mengambil intisarinya saja dan menyesuaikan dengan kebutuhan anak saya.

Ada 7 tips menjaga anak tetap aman di dunia maya yang dapat kita praktikkan bersama, yaitu
1. Masuklah ke dunia online mereka. Keterlibatan orangtua di dunia online anak sangat penting, seperti layaknya orangtua harus mengenal teman bermain anak dan lingkup gerak mereka.
2. Buat aturan. Tak ada kebebasan tanpa batas, meskipun dunia online memang tanpa batas. Justru karena itulah, maka orangtua perlu membuat batas yang jelas. Buat aturan bersama yang dipasang di dekat tempat anak mengakses internet.
3. Ajarkan tentang privasi di dunia maya. Mengajarkan privasi membuat anak tahu batas informasi yang dapat dibagi. Ajarkan anak untuk:
a. Tidak memberikan data pribadi: foto, nama lengkap, nomor telpon, alamat email, alamat rumah, alamat sekolah, dan privasi lainnya.
b. Tidak membuka email/inbox orang yang tidak dikenal.
c. Segera laporkan ke orangtua jika ada pesan yang mengganggu
d. Menolak bertemu teman yang belum dikenal
4. Area online anak haruslah di tempat terbuka di dalam rumah. Kami melarang keras anak membuka HP dan laptop di kamar, agar tetap dapat memantau aktivitas mereka.
5. Menjadi sahabat online anak. Saya selalu siap membantu anak menapaki dunia maya dan menggandeng mereka agar tidak tersesat di belantaranya. Anak yang tahu bahwa orangtuanya adalah sahabatnya baik di dunia nyata maupun maya, akan lebih percaya diri dan santun dalam menjalani kedua kehidupan ini.
6. Setting gawai ke mode pencarian aman. Setiap perangkat sebenarnya telah memiliki penyaring. Kita tinggal mengaktifkan saja mode pencarian amannya. Tetapi untuk berjaga-jaga, saya tetap memantau aktivitas online anak dan mengajarkannya agar tidak scroll ke bawah tetapi kreatif bertanya jika belum mendapatkan jawabannya.
7. Kenali situs dan aplikasi yang aman untuk usianya. Ini sangat penting. Bisa dikatakan, saya tak pernah mau tertinggal dari anak, untuk urusan peronlinenan. Mereka mengakses apa, saya harus punya jawaban dan sanggahan jika ternyata tidak cocok. Saya selalu mengupgrade diri agar anak tidak tersesat. Menjadi cahaya harus bisa tahu jalan di depan agar tidak menyesatkan. Bukankah begitu?

Nah… itulah beberapa tips dari saya dan buku Internet sehat untuk AyBund yang memiliki keluarga multimedia namun masih khawatir mencemplungkan diri dan keluarga ke dalam dunia maya. Mengenali medan adalah salah satu tips aman menjaga anak tetap aman di dunia maya. Karena internet aman dan nyaman bagi anak adalah sebuah keniscayaan.

Minggu, 15 Juli 2018

Buku-Buku Digital Literasi yang 100% Gratis

Juli 15, 2018 0 Comments
Alangkah senangnya jika punya buku-buku tentang digital literasi, ya. Aybund pastilah merasakan urgenitas memiliki buku-buku ini karena beberapa kejadian anak-anak menulis tentang sesuatu yang sangat menakutkan di beberapa media. Saya termasuk ibu yang sibuk menjawab apa itu “agama Bowo”, “bagaimana cara Bowo mendapatkan uang”, “kenapa membayar untuk foto dengan Bowo”, dan seputar dunia Tik Tok yang menarik minat anak-anak pra remaja saya. Bukan minat punya aplikasi ini atau terlibat di dalamnya, tapi kenapa bisa begitu.


“Agama Bowo… mungkinkah ada agama semacam itu dan bagaimana bisa terjadi” adalah titik kritis mereka. Anak-anak pra remaja saya itu melihat apa yang terjadi di dunia digital begitu wow dan memukau. DAN MEREKA INGIN MEMPUNYAI UANG TAMBAHAN DARI DUNIA DIGITAL seperti Bowo. Secara logika, wajar jika anak melihat kemudahan dan gelimang harta pada 'teman' seusia memantik semangat. Di sinilah peran saya sebagai orangtua yang harus jeli dan bisa pelan-pelan memasukkan value keluarga dan etika tak boleh berbenturan dengan mimpi yang sedang mereka rangkai.

Masuk dunia digital, siapa yang belum masuk ke dunia digital? Putra saya sudah berada di sana sejak kecil. Sudah punya Facebook entah sejak tahun kapan saya lupa, karena saat itu saya membolehkan mereka bermain game, dan Facebook menjadi salah satu penyedia games online yang aman versi saya dan suami. Tentu dengan aturan ketat yaitu hanya untuk games, penerimaan teman harus seizin kami, hak pantau akun 100% (kami boleh membukanya malam hari untuk mengecek aktivitas mereka, termasuk inbox dan grup) dan tak boleh menulis status atau menulis hal/kata kasar di sana.


Bagaimana pun kami menyadari bahwa dunia digital, sebagaimana dunia nyata, diakses dan digunakan oleh semua jenis manusia. Orang-orang jahat bisa menggunakan wajah asli atau berkedok. Dan itu sangat mengkhawatirkan. Terlebih, otak logika anak baru tersambung 100% di usia 25 tahun. Jadi, anak baik pun bisa ikut-ikutan menulis hal buruk karena tak menyadari apa yang ia lakukan. Contoh ternyata adalah kasus komentar anak-anak tanggung berbau kencur yang mendewakan sosok Bowo. Saya terkejut dengan perubahan batas malu anak-anak usia SMP yang menyatakan mau diper**sa Bowo, yang mau menjual harta termahalnya demi… dan bahkan mau menjual ibu/neneknya untuk Bowo. Di sinilah, peran orangtua sangat diperlukan. Namun orangtua saja tidaklah cukup. Sekolah, pemerintah, dan lingkungan harus membentuk kolaborasi yang indah. Perlu lebih banyak buku-buku digital literasi yang dapat dibaca anak. Dan mau tak mau, buku digital menjadi salah satu media membaca favorit mereka.

31 Januari 2018 lalu, beberapa stakeholder yang bekerja sama dalam pembentukan situs penyedia buku-buku digital literasi. Mereka telah lama merasa prihatin dengan pertumbuhan angka pengguna internet, yang tidak dibarengi dengan pengetahuan dasar. Ada 137 juta pengguna internet, 50%-nya adalah digital native, yang masuk tanpa persiapan, karena orangtuanya pun tak punya persiapan. Mereka menceburkan diri di dunia ini dan tersesat bersama. Beberapa di antara mereka melupakan kesantunan beretika. Maka, belasan series buku literasi digita untuk semua umur ini diharapkan dapat menambah pengetahuan semua pengguna internet. Mari kita manfaatkan bersama-sama. Silakan mengakses Literasi Digital ID dan bebas baca/unduh serta bagi ke masyarakat lainnya. Jika di HP sudah ada Google Drive, file akan terunduh di sana tanpa membebani penyimpanan/storage HP.




Kita orangtua sebagai generasi X, Y, atau Z, mungkin bisa mengatakan bahwa buku riil lebih nyaman. Bau buku lebh sedap. Mata lebih sehat. Posisi membaca bisa nyaman. Tapi anak-anak generasi Z yang kita lahirkan bukanlah makhluk yang sama. Mereka penghuni asli dunia digital, yang dengan sendirinya lebih nyaman dengan segala bentuk digital. Maka, situs LITERASI DIGITAL bisa menjadi solusi bagi mereka (dan kita Ayah Bundanya). Ada beberapa puluh buku tentang digital literasi yang dapat dipilih, diunduh dan dibaca. Semuanya gratis. Situs ini tidak hanya untuk anak-anak, karena ebook siap unduh juga untuk semua usia. Buku-buku dari penerbit mayor didigitalkan untuk kita belajar bersama. Beberapa buku ini bisa kita beli versi cetaknya di toko buku. Asyik, kan? Tunggu apalagi.

Kamis, 12 Juli 2018

Belajar Parenting dengan ahlinya di Chanel Dr Tiwi TV

Juli 12, 2018 1 Comments
Dr Tiwi TV adalah salah satu situs favorit saya dalam belajar ilmu parenting praktis. Biasanya saya save di Youtube Mobile (offline) sehingga bisa menonton beberapa kali ketika senggang atau sambil menyetrika. Saya tipe auditory, sehingga mendengar menjadi salah satu metode belajar. Selain Channel Dr Tiwi, saya juga sering menonton Chanel Indonesia Morning Show yang untuk parenting.
Porsi saya belajar parenting di sini cukup besar. Pada saat menyetrika, biasanya saya mengunduh beberapa video yang satu tema. 1 tema/parenting talk rata-rata memang dibagi 3. Cara ini cukup ampuh untuk membuat otak saya tetap belajar meski sedang menyetrika. Mungkin bisa dikatakan, inilah salah satu rahasia saya betah menyetrika seharian. Karena selain video parenting, juga diselingi video musik akustik untuk lagu-lagu tahun 1980, 1990, dan 2000-an.

Seberapa penting bagi saya, tetap belajar parenting, meski anak-anak sudah cukup besar? Jawaban termudahnya adalah agar saya tetap bisa belajar dan menularkan ilmu yang tak seberapa ini. Belajar dari para dokter anak dan psikolog di Chanel Dr Tiwi TV membuat saya selalu ingat cara mengasah, asih dan asuh anak dengan cinta. Dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi atau lebih dikenal sebagai Dr Tiwi, sangat senang berbagi ilmu. Melalui akun youtube, beliau ingin menjangkau lebih banyak orangtua untuk memberikan pengasuhan anak dengan baik agar semakin banyak anak sehat. Semua tema video sudah pernah saya tonton dan dengarkan, tetapi tetap sering saya ulang-ulang. Dokter Tiwi beralamat di Perumahan River Park, Jalan Perumahan River Park Blok GH7 No.9, Jurang Manggu Barat, Pondok Aren, Jurang Mangu Barat, Pd. Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten 15222, menurut sumber Google Map.
Dr Tiwi: sumber chanel beliau
Saya senang mengunduh video beliau dengan fasilitas ofline yang diberikan oleh Youtube. Video Youtube luring atau offline tetap memiliki batas. Beberapa video harus didownload ulang dalam sehari, ada yang dua hari, dan durasi lainnya, sesuai setelan yang diterapan pemilik akun Youtube. Maka, saya harus bijak memakai fasilitas ini. Dan saat benar-benar perlu serta punya waktu mendengarkan. Setelah usai, biasanya langsung saya hapus. Youtube offline bagi saya memang lebih menyenangkan daripada membuka Youtube secara luring/langsung. Tak ada iklan yang terselip. Juga, bisa ditonton saat senggang dan berulang.

Daftar video favorit saya di DrTiwiTV:
1. Pengaruh Gadget pada Anak
2. Lindungi Anak dari Kejahatan Seksual
3. Ayah Hebat, bersama Ibu, Optimalkan Anak
4. P3K untuk Anak di Rumah (Child First Aid)
5. Ibu adalah Dokter Terbaik untuk Anak
6. Dongeng Anak
7. Bicara dan Bahasa pada Anak

Saat ini saya sedang hamil, maka, saya sedang memfokuskan pada video:
1. Persiapan Kehamilan dan Persalinan
2. Nutrisi Ibu Hami dan Menyusui
3. Stimulasi Dini untuk Bayi
4. Breastfeeding 911
5. Kupas Tuntas Alergi pada Bayi

Masih banyak judul lain yang harus ditonton. Bisa dikatakan, chanel ini cukup lengkap membahas tentang ibu dan anak (serta ayah). Semoga tulisan ini bermanfaat, ya Aybund….
Selamat belajar kembali.

Rabu, 11 Juli 2018

Ipusnas: Aplikasi Membaca Buku Original Secara Gratis di Smartphone dan Dekstop

Juli 11, 2018 0 Comments
Halo! Kembali lagi, saya. Setelah beberapa hari piknik di Magelang, Yogyakarta dan Jepara sendiri, akhirnya saya punya waktu untuk mengerjakan tugas Keluarga Multimedia di Kuliah Bunda Sayang Ibu Profesional. Kali ini saya akan membagi informasi tentang Ipusnas, sebuah aplikasi membaca buku original secara gratis di Smartphone dan dekstop/personal computer.


Dahulu, saya sering mencari informasi atau membaca buku tertentu di Google Book. Kebanyakan mendownload preview, dan jika cocok atau ada diskon, saya akan membelinya. Asyik, sih, bisa membaca buku di mana saja. Saat menunggui anak sekolah (dulu), menunggu dijemput, antre dokter, atau malah sengaja santai di pantai sambil ngopi dan baca buku digital. Intinya sih, Google Book menjadi must installed application. Halah… saya kadang sok ngingglis.

Nah.. suatu hari, saya butuh buku-buku sejarah. Buku jenis ini, jujur saja, tak mudah didapatan di toko buku luring seperti Gramedia, misalnya. Saya lebih sering membeli di Bukukita atau Komunitas Bambu. Sebelum membeli, saya harus pastikan buku tersebut sesuai dengan yang saya cari, karena saya fokus pada sejarah Jepara pada era pra kolonial dan era kolonial. Makanya butuh Google Book. Dan memang sangat membantu. Namun, saya harus mengakui bahwa buku yang didownload akan meminta ruang penyimpanan dan saya perlu membuangnya secara manual.

Iya, buku pilihan yang kita pinjam tersebut akan hilang sendiri dalam waktu 7 hari. Jadi tak perlu khawatir lupa mengembalikan dan didenda seperti perpustakaan luring/konvensional.

Jelang akhir tahun lalu saya mengenal Ipusnas. Dan ternyata, banyak keuntungan yang saya dapatkan ketika mendaftar ke Ipusnas, yaitu:
1. Saya bisa mengakses e-resources.perpusnas.go,id yang menawarkan jutaan buku digital lokal dan beberapa puluh akses perpustakaan dunia yang sangat berharga. Saya sudah membagi kisahnya di posting Membaca jutaan buku digital dari seluruh dunia.
2. Syarat pendaftaran sangat mudah dan super cepat. Bisa menggunakan email atau akun facebook.
3. User friendly, tampilan menarik dan nyaman di mata.
4. Membaca buku dan bersosialisasi dengan sesama penggemar buku
5. Berbagi kutipan, review, rekomendasi, dan lainnya layaknya platform media sosial
6. Buku yang dipinjam di Ipusnas berbentuk ebook utuh sehingga nyaman dibaca.
7. Ada penanda bacaan dan bookmark
8. Aplikasi Ipusnas dapat diinstal di HP, Iphone dan di dekstop. Meski beda perangkat, ebook yang dipinjam tetap bisa sama dan diakses di keduanya.
9. Buku yang dipinjam akan secara otomatis kembali ke rak perpustakaan yang dipinjam sehingga tak perlu repot memikirkan sisa memori penyimpanan.

Nah, itulah keasyikan memiliki akun dan aplikasi Ipusnas di gawai kita.

Cara mendaftar Ipusnas sangat mudah.


Pertama, AyBund perlu mendaftarkan keanggotaan di http://keanggotaan.pnri.go.id/. Bonus dari keanggotaan ini adalah akses ke e-resources.perpusnas.go.id. Nomor anggota PNRI (Perpusnas RI) dan password akan dikirimkan melalui email yang didaftarkan.


Kedua, download aplikasi Ipusnas. Bisa memilih di smartphone atau dekstop. Bisa juga keduanya. Setelah terinstal, tinggal sign in dengan nomor keanggotaan perpusnas dan passwordnya. 



Ketiga, siap memilih jutaan buku digital yang disediakan. Ada banyak rak-rak buku dari instansi atau tokoh terkenal yang meminjamkan buku di sana. Download saja ebook yang dipilih. Maksimal 2 buku. Seminggu kemudian, buku tersebut akan kembali secara otomatis ke rak semula. Saya belum pernah mencoba perpanjang buku, jadi tak bisa menjawab yang ini.

Nah… itulah aplikasi membaca Ipusnas yang menawarkan cara membaca buku original secara gratis di Smartphone atau komputer/dekstop. Selamat mencoba, ya!
[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

Jumat, 06 Juli 2018

Membaca Jutaan Buku Digital dari Seluruh Dunia? Bisa!

Juli 06, 2018 9 Comments
Bagaimana rasanya memiliki seluruh buku dalam genggaman? Woaa... syurga di dunia! Berasa seperti bepergian ke seluruh pelosok bumi dan mempelajarinya. Tapi, saat ini, saya hanya baru bisa membaca jutaan buku dari hampir seluruh dunia, yang telah dimasukkan ke dalam dunia digital. Alhamdulillah. Saya sangat terbantu sekali dalam mencari literatur yang saya butuhkan sebagai peneliti sejarah awam yang masih pemula. Yuhui... bisa dikatakan, itu salah satu profesi saya setelah mengikuti pelatihan kompetensi kesejarahan untuk peserta non kesejarahan.



Sebelumnya, saya mau membagi sedikit kebahagiaan, ah...

Ih! Lebay banget!

Bunsay Level 12!

Yeay…. Bahagianya…. Itu artinya, selangkah lagi menuju akhir dari perkuliahan selama 1 tahun pertama di Institut Ibu Profesional. Materi kali ini adalah KELUARGA MULTIMEDIA. Dan yang lebih istimewa adalah, pada materi ke dua belas ini, saya tak lagi, saya bisa praktik untuk diri sendiri.

Seberapa penting bercerita tentang diri sendiri dibandingkan anak-anak?

Ah, berbahagialah para ibu dan ayah yang memiliki anak yang nyaman dikisahkan di dunia digital. Kedua putra saya marah, jika kisah mereka dibaca orang lain. Mereka ingin tetap berada di zona privasi mereka. Jangankan dikisahkan, untuk foto kenangan keluarga pun, saya harus membujuk dan meminta dengan sangat. Kecenderungan ini sebenarnya agak mirip dengan saya di zaman dahulu. Hanya mirip saja, tidak sama. Saya takut difoto. Takut hasilnya jelek. Tak tahu artinya foto pribadi. Ya… semacam itulah. Dan ketika anak-anak tak mau difoto, saya hanya bisa mengelus dada.

Nah, Tantangan 10 hari untuk Keluarga Digital kali ini adalah mencari aplikasi belajar dan mereviewnya. Ada banyak aplikasi yang saya gunakan untuk belajar atau mempermudah hidup saya. Meski telah berusia cukup untuk dipanggil Bunda oleh anak-anak muda, tapi saya tak gaptek-gaptek amat, dan sangat menikmati manfaat yang ditawarkan internet. Untuk memasak, saya ada aplikasi sendiri. Memantau kehamilan (uhuk... saya sedang hamil juga), ada aplikasinya. Mengatur keuangan pun ada. Juga aplikasi desain yang memang saya pakai dan pelajari untuk mengembangkan minat (saya tak berani menyebutnya bakat). Bahkan, kala senggang, saya punya aplikasi games belajar Bahasa asing.

Untuk tantangan pertama ini, saya ingin mereview aplikasi yang saya sering pakai harian, yaitu: E-RESOURCES PNRI!


Untuk mengaksesnya, AyBund bisa membuka http://e-resources.perpusnas.go.id/. Ikuti saja cara daftarnya ya! Mudah, kok. Dan sangat cepat. Mendaftar di sini juga berarti memiliki kartu anggota perpustakaan nasional. Saya bisa pinjam buku ke Perpustakaan di Jakarta.

Yang paling saya sukai adalah akses membuka buku digital seluruh dunia. Untuk buku di Indonesia, saya paka aplikasi Ipusnas yang lebih nyaman karena bukunya berbentuk ebook utuh. Kapan-kapan saya review lagi.

Nah... inilah mengapa saya membutuhkan aplikasi ini, yaitu akses ke perpustakaan digital dunia:

1. Alexander Street Press
2. Alexander Street Video
3. Balai Pustaka
4. Brill Online
5. Cambridge University Press
6. Cengage Learning
7. Ebrary
8. Ebsco Host
9. IGI Global 19. Science Direct (NEW)
10. [NELITI] Repositori Studi Kebijakan Indonesia11. Indonesia Heritage Digital Library
12. Digital Angkasa
13. Lexis Nexis
14. Myilibrary
15. Proquest
16. Sage Knowledge
17. Taylor & Francis
18. Carano Pustaka Universitas Andalas
20. Britannica Library (NEW)
21. IG Publishing
(IG Group mencakup koleksi American Library Association, American Society for Training & Development, Amsterdam University Press, Business Expert, Columbia University Press, Hawai, ISEAS, Liverpool University Press, Nias Press, Princeton University Press, RIBA Architecture, dan University Of California Press)
22. Westlaw (NEW)


Selasa, 03 April 2018

#ThinkCreative: Anak Belajar Zero Gravity dengan Balancing Art

April 03, 2018 2 Comments

Kata orang, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Apa yang dilakukan orangtua akan ditiru anaknya. Pepatah ini sangat tepat menggambarkan keadaan di Rumah Susindra. Saat sang ayah bermain balancing art, anak pun menirunya. Dan inilah kreasi si bungsu:



Lumayan, ya. Nah... saya punya yang sudah divideokan papanya:


Mungkin segitu dulu cerita saya. Mafa belum bisa banyak bercerita.

Sabtu, 24 Maret 2018

#ThinkCreative: Jangan Kesal Jika Anak Mengotori Rumah

Maret 24, 2018 1 Comments

Bunda.... Sehari membersihkan rumah berapa kali? Hihihi....

Kalau menuruti hati, bisa berkali-kali ya. Apalagi jika anaknya rajin bermain atau melakukan eksperimen. Tapi saya percaya bahwa di antara kekotoran yang dibuat anak, ada kreativitas di situ. Jadi, ubah pola pikir dulu. #ThinkCreative: Jangan kesal jika anak mengotori rumah.


Oh ya, ada artikel bagus unutk #ThinkCreative di Ubah Pola Pikir Ubah Dunia. Monggo ramaikan.

Namanya anak-anak, rasanya sulit untuk marah pada mereka. ya, kan Bund? mereka ahli sekali dalam memberantakin rumah. Ada saja tingkah laku mereka yang membuat hidup bundanya (dan ayah tentunya) menjadi seperti sedang menikmati permen Sacramento. Baru selesai membereskan satu sudut, sudut yang lain telah diberantakin.

Pasti pernah mengalami hal ini.

Sebelum masuk ke dalam konsep:

Ubah Pola Pikir, Ubah Dunia


Kita perlu melihat lebih jauh. Apa sih sebenarnya yang mereka lakukan?

Jangan malah marah-marah tak jelas.
Lebih seringnya, anak menunjukkan kreativitas ketika bermain kotor. Bisa jadi juga, karena Bunda belum tuntas mengajarkan anak cara membersihkan mainan jika usai. Sudah? Berarti hanya perlu pembiasaan saja. Jangan menyerah jika masih beberapa puluh kali. Pembiasaan perlu penguatan. Bahasa kerennya KOMITMEN & KONSISTEN. Hehehehe

Jujur saja, dahulu saya termasuk ibu yang cerewet. Rasanya tak rela hasil bertapa (membersihkan rumah) menjadi sia-sia dalam waktu sekejab. Tapi itu dulu... Sudah hampir dua tahun ini saya jadi ibu yang lebih fun bagi anak. Karena sudah agak lancar menahan hati, makanya saya berani pakai #IbuBahagia sebagai hashtag utama. Hashtag lainnya adalah #RisingKids #RisingLeader. Yaa.. sebenarnya ini cara saya lebih jeli dan legowo melihat polah anak. Namanya manusia..... Kadang perlu jampi-jampi semangat.

Foto ini, saya ambil kurang dari satu jam setelah saya merapikan. Tiba-tiba jadi arena track mobil. Hahahaha....

Sebenarnya Binbin sudah meminta dibelikan track mobil kemarin. Rupanya ini permainan ter-happening minggu ini. Karena belum kami belikan, jadinya, beberapa tempat di rumah menjadi lahan baru bermain. Malam ini sudah pindah di sebelah printer. Hehehe... Baiknya sih, di sana, tempatnya lebih tersembunyi daripada sebelumnya. Lagi pula... Itu tempat buku-buku kesayangan saya... Huhuhu.

Ups... malam ini saya banyakan curhatnya ya. Padahal sih, ada rasa bersyukur juga, karena, anak kedua saya ini kreatif memakai bahan di sekitarnya. Semoga saja selalu begitu.



Tak perlu mainan mahal, Nang... Nanti kamu bosan. Bikin saja sendiri, seperti itu.

Wkwkwk... Emak ngiriters garis keras!



Semoga bisa menjadi pengingat kecil kala akan merasa kesal dengan anak, ya Bund.



Sebenarnya saya sangat ingin mengutip jargon sebuah produk sabun deterjen. Tapi entah bagaimana, tangan saya kelu. Hehehe. You know what I mean, lah, produk apa itu.

Iya... Berani kotor itu baik versi Rinso. 

Selamat beraktivitas, Ayah Bunda kesayangan!

Jumat, 23 Maret 2018

#ThinkCreative: Ubah Pola Pikir, Ubah dunia

Maret 23, 2018 1 Comments
Halo Ayah Bunda... Kreativitas apa yang dibuat anak hari ini?

Alangkah bahagianya memiliki putra-putri. Mereka terlihat paling ganteng dan cantik. Mereka jadi kebanggaan kita. Wanginya lebih nyandu daripada apapun di dunia. Peluk, cium,….

Mereka makhluk paling mudah membuat ayah bundanya tertawa. Begitu lugu. Sampai terkadang jauh melebihi pemikiran kita. MasyaAllah indahnya menemani anak-anak ketika kecil.

Bukankah begitu?

Coba pandang tubuh mungilnya yang sedang terlelap. Terlupa sudah, semua payah kita bekerja. Terlupa sudah, kegaduhan yang ia buat. Rumah berantakan telah menjadi rapi. Kelelahan menjawab pertanyaan yang tak habis-habis mulai menipis. Rengekan yang memusingkan 30 menit lalu terasa jauh.


Anakku tersayang…

Rasanya dunia begitu sempurna dengan kehadiranmu.

Ubah pola pikirmu untuk mengubah hidupmu
Change your mind, change your world

Perasaan di atas, banyak dirasakan oleh orangtua yang berhasil menemukan pola kreativitas anak dan mensyukurinya. Mengapa saya berkata demikian? Karena ada banyak ayah dan bunda yang sering mengeluhkan anaknya nakal, untuk sesuatu yang sebenarnya normal.

Anak-anak, sebenarnya sama seperti orang dewasa dalam tubuh yang lebih kecil. Mereka sudah jadi seseorang. Mereka somebody who have desire. Jangan karena mereka masih muat di ketek kita lalu dikatakan masih bayi.

Tetangga saya, memiliki anak berusia 13 bulan. Orangtua dan kakek-neneknya sering kelepasan mengucapkan ‘nakal’. Sebut saja namanya Raja. Ia sering berteriak ketika menginginkan sesuatu. Ia juga selalu berteriak jika mainannya dipinjam sesama batita. Jika bisa berbicara, ia akan mengatakan, “INI MILIKKU!”

Bukankah lazim jika di usia berapa pun, kita takkan dengan teramat mudah membagi semua hal dengan orang lain?
Kemudian, ada pula kisah anak balita mematahkan lipstik baru bundanya. Apakah ia nakal? Ia hanya tak tahu jika sebelum memasukkan penutup lipstik, harus memutar rol dahulu. Atau…. Seperti anak laki-laki saya ketika usia 2 tahun, yang suatu hari sedemikian jenak bermain di pojok, dan ternyata mencoba bedak dan lipstik ibunya.

Tak ada yang salah di situ. Ia belum paham konsep hakiki laki-laki vs perempuan. Ia hanya anak kreatif. Daaan… sampai di usia hampir 10 tahun ini, saya harus banyak-banyak ikhlas karena proses kreatifnya masih berlangsung. Benda yang menarik hatinya akan dipakai bermain. Ia membuat eksperimen bahan apa saja yang direndam dalam botol. Tugas saya adalah sweeping botol aneka warna di kamarnya, hasil eksperimen. Hahahaha….. Mungkin saya punya seorang calon ilmuwan. Begitu pikir saya.

AyBund, mengapa saya bisa berpikir seperti itu?
Karena selalu ada alasan di setiap perilaku anak. Mereka makhluk pembelajar. mereka punya rasa ingin tahu yang sedemikian besar. Melebihi kita.

Mengapa?

Karena kita yang dahulunya sekreatif mereka, telah digiring ke dalam kotak tanpa tahu ada yang lebih luas di luar sana. Saya ingat guru menggambar saya (dan anak-anak mengalami juga di sekolah) mengarahkan, gunung berbentuk segitiga berwarna biru, awan berwarna putih, daun berwarna hijau, apel berwarna merah, dan lain-lain. Dan, dari entah kapan sampai kapan, gambar anak TK dan SD selalu ada pemandangan gunungnya. Selalu.

Saya tidak bermaksud mengatakan para guru TK/SD salah. MasyaAllah, beliau semua adalah orang-orang hebat yang sangat berjasa bagi semua umat manusia yang menjadi muridnya. Sodaqoh yang tak terputus. Saya hanya ingin menuliskan,

Ubah Pola Pikir, Ubah Dunia.


Biarkan anak keluar dari kotak yang disusun setara. Karena penemu takkan memiliki cara berpikir sama. Seorang calon penemu akan belajar melalui temuannya sendiri. Dan penemu… akan mengubah dunia. InsyaAllah.

Yuk, Ayah dan Bunda,
Kita coba keluar dari kotak yang menjadi dunia tinggal selama ini. Bebaskan diri .

To really be free, you need to be free in the mind (Alexander Loutsis)

Kamis, 22 Maret 2018

Workshop Cara Menghapus Konten Pornografi di HP Anak - 14 Maret 2018

Maret 22, 2018 2 Comments

Apa yang Bunda lakukan untuk melindungi si kecil dari bahaya pornografi?
Melarangnya menggunakan gawai yang tersambung internet, kah?
Memberi banyak nasihat dan wajangan seperti dosis obat agar selalu teringat?
Atau percaya saja, yang penting sudah diingatkan?
Atau… diawasi, duduk sebelah menyebelah dengan anak setiap ia online?



Senin lalu, saya kembali heboh. Saya berada di Semarang ketika mengecek history browser Mozilla yang digunakan anak. Ada beberapa link porno di YouTube yang dibuka. Bisa bayangkan hebohnya saya? 

Saya langsung konfirmasi pada suami. Apakah beliau yang membuka atau anak-anak? Saya screenshot buktinya. Diskusi dengan anak-anak dan orang dewasa tentu berbeda. Dari jam membuka, kami tahu, siapa yang membuka link tersebut, dan bukan anak atau pun suami. Seorang teman meminjam laptop kami saat dibawa suami ke rumahnya. 


Jadi… jangan abaikan proses konfirmasi ini. 

Perlu Bunda ketahui, bahwa ada banyak sekali cara predator dan pebisnis pornografi dalam usahanya menyebarkan kontennya. Daaan… biasanya, anak tahu pornografi dari luar rumah.

Di sekolah, di rumah tetangga, di rumah keluarga, atau lainnya. Media yang paling banyak digunakan adalah selipan iklan sekian detik di games online.

Sekian detik yang merusak. Anak memang kaget dan sempat tutup mata, tapi gambar tersebut sudah telanjur masuk ke otak anak, meskipun baru secepat kilat menyambar.

Pendidikan agama memiliki peran yang sangat besar. Saya sepakat dengan ahli parenting yang menyatakan, "pendidikan agama paling utama adalah di rumahnya.

Pendidikan seks kami mulai sejak bayi, dengan mengaktifkan beberapa benteng. Salah satu benteng seks perdana keluarga kami adalah RASA MALU. mengenalkan dan mengaktifkan rasa malu sejak bayi adalah cara kami memberi alarm kuat bagi anak. Salah satunya, bagian tubuh yang boleh terlihat dan tak boleh terlihat. HARUS sudah diberi batas jelas. Jika bingung cara memulainya, bisa mencari video Sentuhan Boleh di YouTube.

Saya tak berani menjamin, bahwa anak saya belum pernah melihat. Saya tak ada bersama mereka sepanjang hari. Tetapi saya menggunakan benteng lain yang tak diketahui anak. Apa itu? Akan saya bagi besok ya. InsyaAllah. Kali ini kita fokus pada cara menghilangkan konten pornografi yang telanjur menempel di HP anak atau murid Ayah Bunda


Cara Menghapus Konten Pornografi di HP

1. Secara umum:
a. Aktifkan internet filter bawaan HP. Ada juga aplikasi filtering atau internet filter pihak ketiga, misalnya: Block Websites, Peramban Aman Kontrol Orang Tua, Spin Safe Browser, Parental Control Light.
b. Di aplikasi HP (misal YouTube, Google Search), biasanya ada Parental Control. Silakan buka setting dan aktifkan.
c. Sering-sering buka history Browser HP dan Youtube anak dan hapus cache & cookies-nya.
d. Jangan pernah membuka situs yang menyerempet di HP yang digunakan bersama anak.
e. Tergoda dan tak tahan? Pakai Incognito di Chrome, dan atau Private Browsing di Mozilla. Tapi… jika ingin anak aman, mengapa menumpuk bahaya di jalur yang dilewatinya?

2. Jika HP sudah pernah membuka konten pornografi, ada 2 cara ekstrim, yaitu mengembalikan ke setting pabrik dan mengganti email utama yang digunakan. Ibarat noda, konten buruk ini memang tak bisa benar-benar dihapus kecuali menggunakan email dan setting baru



Selamat mencoba....

Jika ada yang belum jelas atau punya pendapat berbeda, silakan menulis di komentar ya....

Minggu, 18 Februari 2018

False Celebration dan Tips Jika Gagal Mengajarkan Anak Tentang Sesuatu

Februari 18, 2018 1 Comments
Hari terakhir mengajarkan literasi keuangan untuk anak dan keluarga. MasyaAllah, bulan ini tantangannya luar biasa. Semakin semangat saya mengerjakan, ternyata ada saja yang membuat saya sulit menyelesaikan dengan sempurna. Setidaknya ini terjadi beberapa kali sejak menggunakan media blog sebagai pusat laporan tantangan harian.



Pasca jalan-jalan selama 6 hari ke Jakarta dan Bandung, kondisi saya belum pulih sepenuhnya. 6 hari lalu ibarat liburan, saya bisa sedikit menyingkirkan target harian. Begitu kembali pulang, semua mendesak ingin diselesaikan. Hahahaha…. Duh, kapok deh. Meskipun memang salah saya juga, karena membawa laptop yang ternyata error keyboard dan mousepad-nya. Terbayang sia-sianya membawa laptop 14 inch yang berat itu. Makin pengen tertawa jadinya.

Ketika saya tinggal ke Jakarta dan Bandung, Destin dan Binbin menikmati kehidupan tanpa mama yang cerewet memberitahu. Papa memang kadang mengingatkan, tetapi dia lebih slow dalam mengasuh anak. Tak ada Mama juga berarti sebagian menu makan membeli di warung. Jadi… selama 3 hari ini pekerjaan saya membenahi kembali ‘pelajaran’ yang terputus. Jadi… posting kali ini adalah posting false celebration saja. Sayang sekali, ya, kebiasaan yang belum menetap langsung berantakan karena pengawasan yang kurang. Tapi ini bisa jadi pelajaran berharga.

Meskipun false celebration, saya tak mau membuat Ayah Bunda kecewa karena telah datang kemari tetapi tak membawa oleh-oleh khusus. Jadi, saya berikan tips jika gagal mengajarkan anak tentang ilmu/kebiasaan baru:
1. Jangan menampakkan kekecewaan apalagi kemarahan.
2. Observasi dahulu apa penyebabnya
3. Buat pertanyaan kecil dan minta anak menjawabnya agar tahu dari pandangan anak
4. Tanyakan apa harapannya
5. Tanyakan apa kesulitannnya
6. Diskusikan bersama langkah selanjutnya.
7. Perbaiki teknik lama dan buat lebih kreatif
8. Libatkan anak dalam proses belajar maupun menyiapan alat belajar
9. Berikan reward khusus jika berhasil
10. Jelaskan manfaat yang didapat
11. Latih disiplin dengan cara lembut

Itulah beberapa cara saya jika gagal memahamkan anak tentang sesuatu. Saya mengambil dari sudut pandang anak. Karena, jika saya gagal, bisa jadi bukan anaknya yang tak bisa, tetapi mungkin saat membuatnya saya kurang memasukkan kepentingan anak.

Jumat, 16 Februari 2018

3 Pelajaran Utama Cerdas Finansial Untuk Anak

Februari 16, 2018 0 Comments

Jelang akhir tantangan Kuliah Bunda Sayang, dan saya makin tidak semangat. Bukan karena kelelahan pasca bepergian selama 6 hari di Jakarta dan Bandung lalu. Meski memang sangat melelahkan. Jadi, posting tentang cerdas finansial kali ini akan sangat singkat.


Beberapa hal terjadi sekaligus dan sangat menghancurkan mood. Laptop yang rusak dan belum diperbaiki, disturbing behaviour partner X, hantu masa lalu yang tiba-tiba muncul, dan seakan melengkapi; pompa air terendam air sumur yang meluap, gas habis selama 2 hari, dan sekering yang terbakar pada malam hari. Jika menghendaki drama, rasanya sudah cukup dramatis.

MasyaAllah. Rasanya saya perlu breakdown dulu.



Tapi tak mau menyerah, saya ingin tetap melanjutkan literasi finansial untuk anak-anak saya. Saya tulis di sini, mungkin memberi manfaat bagi anak dan orangtua lainnya.

Mengajarkan konsep rezeki sudah saya lakukan. Kali ini tentang pelajaran utama mengenainya.

Ada tiga pelajaran utama yang perlu diberitahukan kepada anak agar konsep sebelumnya lebih matang.

  1. Membedakan kebutuhan dan keinginan. Dasar ini harus sangat kuat pijakannya. Masih banyak orang dewasa yang belum lulus tes sederhana ini. Mereka mengaku butuh dan butuh padahal cuma ingin dan ingin. Bahkan menempuh jalan riba pun asyik saja yang penting keinginan terpenuhi. Saya khawatir anak-anak saya melakukan kesalahan yang sama. Maka, pijakan yang saya siapkan harus kokoh.

  2. Uang tidak tumbuh dari pohon. Mungkin ini menjadi konsep yang sulit diterima anak. Tentu saja, karena ini hanyalah kiasan saja. Maskudnya adalah, memberitahukan anak sumber pendapatan. Jika perlu plus angka-angkanya (tidak wajib, hanya untuk membuat lebih nyata).

  3. Bijak memilih sesuai prioritas. Anak perlu sesekali dihadapkan pada realita ingin A, B, dan C, namun hanya punya uang untuk membeli salah satunya. Di sini, kita perlu memperkenalkan anak pada teknik menjadi smart shopper yang tahu cara menentukan prioritas belanjaannya.

Semoga bermanfaat Ayah Bunda….
Mohon maaf jikalau sangat singkat.

Sabtu, 10 Februari 2018

Anak Pandai Jajan? Siasati Dengan Ini

Februari 10, 2018 26 Comments
Duh, anak saya pandai jajan! Diberi uang berapa pun habis. Keluh seorang ibu pada saya.
Kalau dengar keluhan seperti ini, saya jadi pengen senyum dan meringis. Saya juga belum meluluskan anak perihal mengatur keuangan dan uang hariannya. Belum menjadikan anak  yang pandai jajan agar bisa mengatur keuangannya sendiri. So.. yuk ah belajar bareng



Kita manusia memang pandai berencana, tetapi Allah juga yang bisa berkehendak lain. Misalnya membelokkan hati saya dengan banyak tumpukan DL sehingga rencana menulis 17 artikel menjadi beberapa belas artikel. Saya sudah skip dua kali. Kali ini berniat meneruskan lagi posting Cerdas Finansial semampunya sebagai bagian dari upaya memperkaya tulisan Literasi Finansial Anak melalui games di Kuliah Bunda Sayang Institut Ibu Profesional.

Al kisah, siang tadi, sebelum berangkat ke Jakarta, saya memberi anak-anak uang tambahan. Tak seberapa jumlahnya, tetapi sangat membahagiakan bagi mereka yang sederhana. Mas Destin langsung memasukkan ke dalam laci. Si sulung ini sudah pandai mengatur keuangannya sejak kecil.

Binbin, tak berapa lama kemudian langsung mengayuh sepeda. Oaaa…. Anak saya ini.

Binbin memang belum ‘pandai jajan’. Dia sering banget jajan, tetapi tidak pandai mengatur jajan mana yang akan dibeli dan kapan sebaiknya tidak. Jadi… ini akan menjadi konsern saya selama dua minggu ke depan dan lebih ketat mengawasi.

Bulan lalu, kami sudah bercakap-cakap cukup lama. Saya mengatakan padanya bahwa jajanan yang ia beli rasanya seperti itu saja. Kenapa tidak eksplorasi jajanan baru saja, yang lama tak usah beli?

Si kecil ini langsung sepakat dan menjawab dia bosen jajan itu-itu saja.

Gotcha! Pikir saya bahagia.

Senang banget pastinya. Daaan… ternyata… uang hariannya mulai terkumpul. Dua minggu uang celengannya sudah lumayan. Minggu ketiga saya sudah lengah. Minggu keempat semua uang sudah terbang entah ke mana karena dia jadi jajan terus. Mungkin jajanan anak-anak memang nyandu banget ya. Jadi setelah tiga minggu ia kangen dan langsung jajan terus. Huhuhu… Saatnya kembali mengajarkan anak pandai jajan.

Tapi saya tidak patah arang. Saatnya mendiskusikan kembali dan kali ini pendampingan lebih lama dan kalau bisa digabung dengan mini budget sheet. Yang satu ini akan coba saya buat nanti malam dan menjadi bahan besok. Saat ini sampai Selasa ke depan saya masih di luar kota. Jadi hanya bisa menyiap-nyiapkan bahan dahulu.

Mengajarkan anak pandai jajan sebenarnya ambigu banget, ya. Hihihi…. Bisa jadi alasan kontroversi. Saya mau bilang pandai belanja, tapi anak segitu belanja apa. Dan bisa jadi ambigu juga. Mungkin kalau bilang mendidik anak agar jadi smart shopper lebih halus kali ya? Karena kita memang suka yang berbau linggis eh Inggris. Padahal intinya sama saja.

Tips mengajari anak pandai jajan:

1. Beri contoh/teladan. Pertama sekali, Ayah Bunda harus memberi teladan belanja yang cerdas. Jangan sampai ketahuan anak sedang kalap belanja karena diskon. Ketika akan belanja, buat list belanja dan patuhi. Jadikan anak manager persediaan rumah tangga. Mereka akan dengan senang melakukannya dan jadi kita punya polisi yang sangat baik melakukan pengawasan.

2. Biarkan anak tahu post sedekah/tabungan kita. Ajak dan mereka saat membagikannya. Ini sebuah contoh yang baik untuk mengajarkan anak, ada uang yang memang bukan miliknya dan harus dititipkan ke orang lain. Cara ini masih sangat jarang saya lakukan dan harus dibiasakan dahulu.

3. Minta anak menulis kebutuhan yang harus ia beli hari itu dan diskusikan sumber pendanaannya. Bisa lihat di posting cara mengajari anak membedakan kebutuhan dan keinginannya.

4. Beritahu anak agar tidak jajan makanan yang sama berulang-ulang. Lebih baik eksplorasi rasa dan jajan baru. Cara ini cukup ampuh. Teknis memberitahu harus sangat kreatif ya. Bebaskan imajinasi Ayah Bunda saat melakukannya. Batasannya, jangan mengancam, menakuti apalagi membentak. Lakukan dengan cara menyenangkan.

Semoga bermanfaat ya Ayah Bunda….

Semua materi mengajarkan anak cerdas finansial bisa dibaca di kategori Cerdas Finansial/

Rabu, 07 Februari 2018

Cara Tepat Mengajarkan Anak Menabung - Jangan salah lagi ya AyBund!

Februari 07, 2018 1 Comments

Halo AyBund! Masih setiap mencari artikel cara mengajarkan anak belajar finansial? Kali ini saya bagi tips keenam saya yaitu Cara Mengajarkan Anak Menabung. Artikel lain tentang Anak Cerdas Finansial dan Finansial Literasi bisa diakses kapan saja. Tinggal klik saja. InsyaAllah akan ada 17 artikel agar tantangan tuntas


Menabung atau menyimpan? Sejak anak-anak, memang diajarkan. Bahkan saat di PAUD dan TK pun. Ayah Bunda tentu mengalami masa anak PAUD/TK dan anak belajar menabung pada guru di sekolah. Cara ini terbukti sangat bagus.

Namun sayang, beberapa ayah bunda (atau mungkin guru juga punya peran sama) yang salah memahami konsep aslinya. Karena di masa ini, biasanya anak menabung dari uang orangtuanya. Tahun 2008 lalu, di sekolah TK si sulung, ada beberapa belas anak yang tabungan sekolahnya mencapai Rp 25.000.000,-. Cara semacam ini akan memahamkan anak pada konsep uang instan yang mudah didapatkan, tanpa usaha sedikit pun.

See…. Tanpa sadar, ayah bunda malah mencederai fitrah yang berhubungan dengan cerdas finansial karena mencegah semangatnya menyimpan uang dari uang sakunya sendiri. Padahal di masa ini, anak bisa berlatih membagi uang sakunya menjadi 3 bagian, yaitu ditabung, dibelanjakan dan diberikan pada orang yang membutuhkan.


Jangan Salah Mengajarkan Konsep Menabung Ketika Anak Masih TK

Nah, cara mengajarkan anak menabung (ala saya) sebenarnya tidaklah sulit. Begini caranya:
a. Jelaskan pada anak mengapa ia harus menabung.
b. Bantu anak memproyeksikan target jumlah uang yang akan disimpan dalam jangka panjang dan pendek serta tujuan men
c. Sarankan bagi uang harian menjadi 3 bagian, yaitu ditabung, dibelanjakan, disedekahkan. Prosentasenya bisa disepakati dengan anak
d. Siapkan 3 wadah berbeda. Uang tabungan dititipkan ke bank atau sekolah, uang jajan dimasukkan ke dalam dompet jajan, dan uang sedekah dimasukkan ke wadah bekas selai/susu/botol/lainnya. Bisa juga dibelikan wadah celengan dalam bentuk yang lebih disukai anak.
e. Minta anak mencatat uang yang disimpan.
f. Ajari anak menghitung jumlah uang yang disimpan berdasarkan catatan.

Selamat mencoba, Ayah Bunda...

Selasa, 06 Februari 2018

Tips Mengajari Anak Membuat Anggaran Belanja

Februari 06, 2018 0 Comments
Kemarin saya sudah membagi beberapa tips membuat anak CERDAS FINANSIAL. Kali ini, saya mencoba mengenalkan tentang anggaran dan cara membuatnya.



Pasca belajar mengenali mana kebutuhan dan mana keinginan, saatnya latihan. Yang sederhana-sederhana saja dulu. Bolehlah dikatakan mini budgeting. Intinya untuk membuat Destin dan BInbin bisa membuat skala prioritas saat membelanjakan uang.

Mengajarkan sesaatu akan lebih mudah jika sekaligus praktik. Jadi ada teladan yang bisa dilihat anak. Seperti ini cara saya. Lumayan sederhana dan bisa dicoba

1. Diskusikan anggaran minggu ini dengan anak.
2. Jangan anggap tabu saat membicarakan keuangan keluarga
3. Jujur tentang kondisi keuangan
4. Ajarkan anak menjadi pembeli yang cerdas atau smart shopper
5. Kenalkan pada uang peluang atau opportunity moner
6. Kenalkan melalui permainan. Pilih yang paling sesuai dengan keadaan keluarga.
a. Game online: anak saya memiliki 1 game yang dimainkan. Saya menyelipkan nasihat keuangan di sana.
b. Game ofline : monopoli. Monopoli mengajarkan anak menyimpan, membelanjakan uang, dan investasi. Juga risikonya. Jadi bukan hanya sekadar beli… beli… beli.

Tak terlalu ribet kan AyBund?

Ajarkan cerdas finansial sejak dini akan membuat anak percaya diri mengelola keuangannya di masa depan.

Minggu, 04 Februari 2018

(Free Printable) Cara Mengajari Anak Perbedaan Kebutuhan dan Keinginan

Februari 04, 2018 3 Comments
Masih di tema ANAK CERDAS FINANSIAL, dan masih di subtema Literasi keuangan untuk anak. Kali ini, saya akan menuliskan tentang cara mengajari anak perbedaan kebutuhan dan keinginan. Tema dan subtema ini menjadi menarik karena sebagai ibu, saya merasa perlu belajar kembali tentang cara cerdas mengatur uang sembari mengajarkannya pada anak. Ini adalah bagian dari apa yang disebut teaching by doing.


Saya bukan ibu atau orangtua yang serba tahu. Saya malah lebih sering menantang diri sendiri untuk mempelajari sebuah pengetahuan tematik di satu waktu untuk menambah pengetahuian. Bahasa kerennya adalah menambah jam terbang.



Pada pembuka tema saya menuliskan tentang cara mengajarkan anak kecerdasan finansial sejak dini. Saya mengutip 5 cara/tips dari materi kuliah Bunda Sayang, dan memecah setiap poin ke dalam satu postingan sambil memahamkan anak tentangnya. 2 hari lalu saya sudah menulis tips pertama, yaitu cara memahamkan anak pada konsep rezeki itu pasti, kali ini saya mengajarkan tips kedua yaitu Berdialog tentang kebutuhan dan keinginan dengan anak sebagai ikhtiar lanjutan. Ada sebuah pengayaan yaitu mengajari anak 6 konsep uang.


Perbedaan antara kebutuhan dan keinginan sebenarnya tidaklah sulit. Hanya saja, beberapa dari kita, ayah bunda, gagal mengajarkan melalui perilaku harian. Bisa jadi karena kita begitu mencintai anak, sampai lupa bahwa perilaku kita ditiru. Mengajarkannya pun menjadi sedikit ragu. Saya merasakan hal itu. Ketika saya mencari kata untuk menjelaskannya, terbayang beberapa kesalahan finansial yang saya perbuat di depan anak. Mungkin Ayah Bunda juga merasakannya nanti. Tetapi jangan sampai mencegah diri untuk tidak melakukannya. Ingat:
Anak yang cerdas finansialnya akan menjadi orang dewasa yang pandai melihat peluang ekonomi di masa mendatang
Jadi… saya pun memulai dengan definisi kebutuhan dan keinginan.

Kebutuhan adalah sesuatu yang harus ada. Adakalanya kita bisa menunda memiliki beberapa waktu, tetapi tanpanya kita akan mengalami beberapa kesulitan. Contohnya adalah rumah, makanan pokok, pakaian penutup tubuh, tas dan alat sekolah, alas tidur, dan perlengkapan tugas sekolah yang harus dipenuhi agar tidak dihukum di sekolah. Ketika menjelaskan ini, anak mungkin akan membuat terperangah karena membayangkan benda sama dengan kualitas berbeda.

Diskusi lebih intens dibutuhkan di sini. Perlu dijelaskan antara fungsi dan dekorasi. Rumah kita lebih utama daripada rumah tetangga yang bertingkat, misalnya, lol. Layani pertanyaan atau pernyataan anak yang mungkin membuat Ayah Bunda lelah.

Biarkan anak benar-benar paham konsep ini. Jangan sampai ‘keinginan’ ikut masuk ke ranah kebutuhan, misalnya seperti, “Mama, aku butuh makan ayam goreng crispy siang ini,” padahal lauk yang saya adalah ayam kecap. Meskipun, ini bisa menjadi awal yang baik untuk menjelaskan apa itu ‘keinginan’.

Definisi Keinginan adalah sesuatu yang kita inginkan tetapi pemenuhannya bisa ditunda atau malah tidak perlu dituruti.

Misalnya,
1. Ingin jalan-jalan ke kota Semarang.
2. Ingin makan pizza
3. Ingin membeli baju baru
4. Ingin bermain game online di HP
5. Ingin menonton TV
6. Dll

Saya menjelaskan ke anak bahwa 6 contoh di atas bisa ditunda dalam tempo yang disepakati atau malah tidak perlu dituruti sama sekali karena beberapa pertimbangan.

Jiks ingin memberikan pengayaan pada anak, silakan simpan dan cetak tes sederhana di bawah ini. Semoga cukup membantu.


Mengajarkan anak mengenali perbedaan keinginan dan kebutuhan tidak memerlukan waktu yang khusus karena bisa dilakukan sewaktu-waktu. Tetapi akan lebih mudah jika anak praktik langsung di saat itu juga. Bisa melalui lisan, bisa juga dengan tulisan.

Sabtu, 03 Februari 2018

6 Konsep Uang yang Perlu Diajarkan Kepada Anak Usia 3 - 15 Tahun

Februari 03, 2018 0 Comments
Masih di tema ‘Cerdas Finansial’, kali ini saya ingin membagi sedikit pengetahuan tentang 6 konsep uang yang harus diketahui oleh anak usia 3 - 15 tahun. Ternyata konsep ini juga belum sepenuhnya diketahui oleh para remaja, orangtua dan dewasa. Setidaknya bagi saya yang mengenalnya baru-baru ini saat akan mengajarkan anak tentang kecerdasan finansial. Ini adalah bagian dari artikel Anak Cerdas Finansial yang telah saya mulai 2 hari lalu. Silakan baca Mengajarkan anak cerdas finansial sejak dini, mungkinkah? dan Mengajarkan anak pada konsep 'Rezeki itu pasti' Jika ditanya kapan konsep uang sebaiknya diajarkan, saya ingin menjawab sejak sedini mungkin. Sebelum konsep uang di atas dikenalkan. Sejak bayi berusia satu tahun. Tentu dengan cara yang berbeda dan tanpa banyak kata. Di usia ini yang mereka hapal adalah perilaku orang-orang terdekatnya.


Tetangga saya memiliki seorang anak yang baru berusia 1 tahun bulan Januari lalu. Dan rupanya, anak-anak milenial memang memiliki kecerdasan yang berbeda dengan masa sebelumnya, karena si mungil ini sudah tahu konsep jajan. Di jam tertentu ia akan menunggu seorang bakul belanjaan karena ingin makan telur puyuh. Jam atau alarm biologis-nya belum sempurna, tapi ia hapal kebiasaan mendatangi seseorang di jam bermain pasca mandi. See… itulah sebabnya saya katakan sedini mungkin adalah usia 1 tahun.

Bagaimana cara mengajarkannya? Tentu saja dengan tidak mengenalkannya pada pola belanja di jam tertentu sehingga anak menjadi lebih menuntut.

Ini prolog yang kepanjangan, ya. Tambahan informasi yang lebih terkini dan mungkin terjadi di sekitar Ayah Bunda.


Sebaiknya saya segera memulai meminjam 6 konsep uang dari sebuah perusahaan finance di luar negeri. Saya tulis ulang dengan pemahaman saya yang mungkin agak terbatas karena tidak secara khusus mempelajarinya.

1. Konsep Menabung atau menyimpan uang. Konsep ini bisa dikenalkan sejak berusia 3 – 6 tahun. Caranya cukup mudah.
a. Jelaskan pada anak bahwa uang harian bukanlah uang yang harus dibelanjakan setiap hari sampai habis.
b. Ajarkan anak membagi uangnya menjadi 3 bagian yaitu uang simpanan, uang jajan, dan uang kebaikan (sedekah)
c. Jika ingin membeli sesuatu, ajarkan anak membeli menggunakan uang jajannya sendiri. Jika melebihi jumlah, latih kesabarannya dengan menangguhkan beberapa hari sampai uang jajannya cukup
d. Bantu anak menghitung ‘kekayaannya’ dan puji-semangati terus.
e. Ajarkan perbedaan keinginan dan kebutuhan

2. menghasilkan uang dengan melakukan pekerjaan tertentu di rumah pada usia 5 – 8 tahun
a. Tetapkan bersama, pekerjaan rumah apa yang bisa menghasilkan uang untuknya, dengan syarat dan ketentuan berlaku. Cara ini bisa melatih kemandirian anak jika dilakukan dengan benar.
b. Masukkan uang penghasilannya ke dalam wadah celengan


3. Berbelanja cerdas pada usia 6 – 10 tahun
a. Ajarkan anak berbelanja sendiri (menggunakan uang pribadinya) di toko/swalayan/minimarket/deptstore dan lainnya untuk memahamkan konsep jual beli.
b. Ajak belanja mingguan (atau bulanan) dan beri extra uang (misalnya Rp 10.000,-) untuk belanja pribadinya
c. Di rumah, diskusikan perbedaan harga suatu produk beda merk dan mengapa demikian.


4. Kenalkan pada Biaya Peluang atau Opportinity Cost di usia 7 – 11 tahun
Konsep Biaya Peluang atau Biaya Kesempatan (ada yang meyatakan Pilihan ekonomi) adalah keputusan sadar menggunakan sejumlah uang yang ada. Ketika anak memiliki sejumlah uang, minta ia membuat 2 atau 3 kemungkinan membelanjakan uang tersebut. Semisal ia memiliki uang RP 10.000,-, apakah akan membeli Kinderjoy atau yang lainnya. Tanyakan mengapa. Keputusan sadar anak akan melatih logikanya.

5. Kenalkan pada anggaran atau budgetting di usia 11 – 13 tahun. Membuat anggaran sederhana akan lebih memahamkan anak mengenai kekayaan yang dia miliki dan kemungkinan apa yang bisa dia raih dengan uangnya tersebut. Latih anak menganggarkan sejumlah uang untuk aktivitas week end. Misalnya, dana week end minggu ini adalah Rp 200.000,-. Ajak anak membuat list belanjanya dan ajak ia praktik langsung.

6. Kenalkan pada investasi sederhana pada usia 13 – 15 tahun. Misalnya menjadikan sejumlah uang simpanannya sebagai modal usaha tertentu yang bisa dijual pada teman-teman di sekolahnya.

Naaah... itulah 6 konsep uang yang perlu diketahui oleh anak mulai usia 3 - 15 tahun. Semoga bermanfaat, Ayah Bunda

Foto: Canva & Freepik

Jumat, 02 Februari 2018

Memahamkan Konsep Rezeki Itu Pasti Pada Anak

Februari 02, 2018 9 Comments

Memasuki hari kedua untuk Tantangan Kuliah Bunda Sayang Institut Ibu Profesional tentang Anak Cerdas Finansial. Kali ini saya lebih fokus pada diskusi saja ke anak. Mencoba memahamkan mereka pada konsep Rezeki Itu Pasti Kemuliaan yang Dicari. Harapan saya adalah, mereka lebih bijak dalam hal keuangan sekaligus meningkatkan ketaqwaan.



Anak-anak, seperti anak saya yang masih berusia 13 dan 9 tahun, memang belum mampu berlogika sempurna seperti orangtua. Apalagi Binbin yang masih 9 tahun. Tetapi setidaknya ketika saya menjelaskan tentang harapan, doa dan kenyataan, ia lebih mudah paham.

3 hari lalu, ia tiba-tiba mengatakan ingin tahu rasanya bermain salju. Saya sudah menceritakannya sekilas kemarin di posting Anak Cerdas Finansial Sejak Dini. Mungkinkah?

Mungkin ini yang namanya takdir. Ketika saya hendak memahamkan mereka akan 'konsep rezeki', bungsu saya ini mendadak ingin sesuatu yang ‘di luar kemampuan kami saat ini’. Bermain salju.

Secara cepat terbayang ia memakai jaket biru tebal penaham dingin dan bermain seperti anak-anak lain. Ia tampak ganteng sekali seperti anak-anak bule yang riang berlempar salju. Ada binar di matanya saat mengulurkan segenggam besar salju kepada saya yang sedang memotretnya.



Binbin - si bungsu yang ingin bermain salju. 
Sementara ke JOP Jepara dulu ya Nang


Cepat sekali bayangan tersebut buyar karena menyadari bahwa itu adalah sebuah kilas gambar. Tetapi kemudian saya menyadari bahwa memvisualkan harapan bisa menjadi doa yang mustajab. Saya segera menjelaskan pada Binbin tentang ini dan memintanya berdoa secara khusus kepada Allah di waktu-waktu mustajab.

“Kamu tahu waktu mustajab berdoa, Nak?” tanya saya.

Alhamdulillah ia bisa menyebutkan beberapa waktu yaitu selesai adzan, di antara azan dan iqomat, juga selesai salat Subuh dan Asar. Tentu saja ada waktu-waktu lainnya. Tetapi saya tak ingin memberondong si 9 tahun itu dengan banyak informasi sehingga ia sulit menyimpan semua. Waktu-waktu yang ia sebutkan di atas lebih mudah diingatnya.

“Minta pada Allah agar bisa ke Jakarta dan bermain salju di Snow World,” saran saya. “Bayangkan kamu sedang bermain salju saat berdoa.”

Bagi beberapa orang, pergi ke Snow World Jakarta sangatlah mudah. Bagi kami yang hidup pas-pasan dan jauh dari Jakarta, keinginan ini serasa melampaui batas. Bukan karena kami tak percaya Allah memampukan, tetapi jika ada dana segitu, kami bisa akan memilih kebutuhan yang lebih mendesak. Makanya, menyerahkan pada kuasa Allah adalah salah satu cara saya mengajarkan pada anak-anak tentang konsep rezeki.

Kita pasti bisa ke Jakarta sekeluarga. Yakin saja
Ini hari ketiga. Binbin masih memiliki harapan yang sama. "Dia bertanya apakah benar-benar bisa? Alangkah senangnya", katanya dengan polos dan masih dengan binar mata yang sama.

Mas Destin, saudaranya, beberapa kali menggoda dengan mengatakan, “Mengapa tidak memilih ke Amerika saja?” Kemudian ia bertanya-tanya tentang street food di Thailand dan Jepang. Kedua anak saya suka menonton video makanan ala jalanan di Youtube. Semoga kelak mereka bisa berjalan-jalan lebih banyak dan lebih jauh dari ibunya. Aamiin…

Adakalanya saya membebaskan keinginan anak-anak, bahkan menstimulasi mereka membaca majalah wisata dunia. Saya ingin mereka tertarik jalan-jalan ke seluruh nusantara dan luar negeri. Saya ingin mereka kelak sekolah yang tinggi. Dan… untuk jangka pendeknya adalah agar mereka mengenal keindahan dunia yang mereka tempati dan bisa menceritakan secara lisan atau tulisan. Saya ingin mereka kelak menjadi penulis. Atau setidaknya bisa menulis agar memiliki kenangan.

Anak-anak tahu berapa kisaran gaji ayah bundanya tak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh sekeluarga. Tetapi itu bukan berarti tak mungkin terjadi. Mereka sudah terbiasa saya tinggal jalan-jalan ke luar kota berhari-hari tanpa mengeluarkan biaya. Jadi secara umum mereka tahu konsep rezeki bukanlah gaji. Setiap kemudahan dan fasilitas yang mereka milikiadalah rezeki. Saat menengok orang sakit saya mengatakan, sehatmu adalah rezekimu. Yang membuat mereka takjub adalah, tetangga di rumah baru kami sangat baik. Mereka sering memberikan durian atau rambutan sehingga keduanya puas memakan buah-buahan khas desa kami. Saya tersenyum ketika mereka mengatakan hal ini.

Rezeki itu pasti, kemuliaan di mata Allah yang dicari.


Alhamdulillah praktik konsep 'rezeki itu pasti' menjadi lebih mudah. Mereka juga mulai kami pahamkan tentang ‘kemuliaan di mata Allah lebih utama daripada di mata manusia’. Alhamdulillah mereka menjawab positif dan menjawab dengan penolakan mereka pada korupsi, mencontek dan jual beli nilai di sekolah. Semoga semakin paham ya Nak….

Mama bangga pada kalian. Semoga proses awal ini memudahkanmu belajar Cerdas Finansial sejak masih usia anak-anak. Aamiin.