Follow Instagram @susierna1 ya

Minggu, 18 Februari 2018

False Celebration dan Tips Jika Gagal Mengajarkan Anak Tentang Sesuatu

Februari 18, 2018 1 Comments
Hari terakhir mengajarkan literasi keuangan untuk anak dan keluarga. MasyaAllah, bulan ini tantangannya luar biasa. Semakin semangat saya mengerjakan, ternyata ada saja yang membuat saya sulit menyelesaikan dengan sempurna. Setidaknya ini terjadi beberapa kali sejak menggunakan media blog sebagai pusat laporan tantangan harian.



Pasca jalan-jalan selama 6 hari ke Jakarta dan Bandung, kondisi saya belum pulih sepenuhnya. 6 hari lalu ibarat liburan, saya bisa sedikit menyingkirkan target harian. Begitu kembali pulang, semua mendesak ingin diselesaikan. Hahahaha…. Duh, kapok deh. Meskipun memang salah saya juga, karena membawa laptop yang ternyata error keyboard dan mousepad-nya. Terbayang sia-sianya membawa laptop 14 inch yang berat itu. Makin pengen tertawa jadinya.

Ketika saya tinggal ke Jakarta dan Bandung, Destin dan Binbin menikmati kehidupan tanpa mama yang cerewet memberitahu. Papa memang kadang mengingatkan, tetapi dia lebih slow dalam mengasuh anak. Tak ada Mama juga berarti sebagian menu makan membeli di warung. Jadi… selama 3 hari ini pekerjaan saya membenahi kembali ‘pelajaran’ yang terputus. Jadi… posting kali ini adalah posting false celebration saja. Sayang sekali, ya, kebiasaan yang belum menetap langsung berantakan karena pengawasan yang kurang. Tapi ini bisa jadi pelajaran berharga.

Meskipun false celebration, saya tak mau membuat Ayah Bunda kecewa karena telah datang kemari tetapi tak membawa oleh-oleh khusus. Jadi, saya berikan tips jika gagal mengajarkan anak tentang ilmu/kebiasaan baru:
1. Jangan menampakkan kekecewaan apalagi kemarahan.
2. Observasi dahulu apa penyebabnya
3. Buat pertanyaan kecil dan minta anak menjawabnya agar tahu dari pandangan anak
4. Tanyakan apa harapannya
5. Tanyakan apa kesulitannnya
6. Diskusikan bersama langkah selanjutnya.
7. Perbaiki teknik lama dan buat lebih kreatif
8. Libatkan anak dalam proses belajar maupun menyiapan alat belajar
9. Berikan reward khusus jika berhasil
10. Jelaskan manfaat yang didapat
11. Latih disiplin dengan cara lembut

Itulah beberapa cara saya jika gagal memahamkan anak tentang sesuatu. Saya mengambil dari sudut pandang anak. Karena, jika saya gagal, bisa jadi bukan anaknya yang tak bisa, tetapi mungkin saat membuatnya saya kurang memasukkan kepentingan anak.

Jumat, 16 Februari 2018

3 Pelajaran Utama Cerdas Finansial Untuk Anak

Februari 16, 2018 0 Comments

Jelang akhir tantangan Kuliah Bunda Sayang, dan saya makin tidak semangat. Bukan karena kelelahan pasca bepergian selama 6 hari di Jakarta dan Bandung lalu. Meski memang sangat melelahkan. Jadi, posting tentang cerdas finansial kali ini akan sangat singkat.


Beberapa hal terjadi sekaligus dan sangat menghancurkan mood. Laptop yang rusak dan belum diperbaiki, disturbing behaviour partner X, hantu masa lalu yang tiba-tiba muncul, dan seakan melengkapi; pompa air terendam air sumur yang meluap, gas habis selama 2 hari, dan sekering yang terbakar pada malam hari. Jika menghendaki drama, rasanya sudah cukup dramatis.

MasyaAllah. Rasanya saya perlu breakdown dulu.



Tapi tak mau menyerah, saya ingin tetap melanjutkan literasi finansial untuk anak-anak saya. Saya tulis di sini, mungkin memberi manfaat bagi anak dan orangtua lainnya.

Mengajarkan konsep rezeki sudah saya lakukan. Kali ini tentang pelajaran utama mengenainya.

Ada tiga pelajaran utama yang perlu diberitahukan kepada anak agar konsep sebelumnya lebih matang.

  1. Membedakan kebutuhan dan keinginan. Dasar ini harus sangat kuat pijakannya. Masih banyak orang dewasa yang belum lulus tes sederhana ini. Mereka mengaku butuh dan butuh padahal cuma ingin dan ingin. Bahkan menempuh jalan riba pun asyik saja yang penting keinginan terpenuhi. Saya khawatir anak-anak saya melakukan kesalahan yang sama. Maka, pijakan yang saya siapkan harus kokoh.

  2. Uang tidak tumbuh dari pohon. Mungkin ini menjadi konsep yang sulit diterima anak. Tentu saja, karena ini hanyalah kiasan saja. Maskudnya adalah, memberitahukan anak sumber pendapatan. Jika perlu plus angka-angkanya (tidak wajib, hanya untuk membuat lebih nyata).

  3. Bijak memilih sesuai prioritas. Anak perlu sesekali dihadapkan pada realita ingin A, B, dan C, namun hanya punya uang untuk membeli salah satunya. Di sini, kita perlu memperkenalkan anak pada teknik menjadi smart shopper yang tahu cara menentukan prioritas belanjaannya.

Semoga bermanfaat Ayah Bunda….
Mohon maaf jikalau sangat singkat.

Sabtu, 10 Februari 2018

Anak Pandai Jajan? Siasati Dengan Ini

Februari 10, 2018 26 Comments
Duh, anak saya pandai jajan! Diberi uang berapa pun habis. Keluh seorang ibu pada saya.
Kalau dengar keluhan seperti ini, saya jadi pengen senyum dan meringis. Saya juga belum meluluskan anak perihal mengatur keuangan dan uang hariannya. Belum menjadikan anak  yang pandai jajan agar bisa mengatur keuangannya sendiri. So.. yuk ah belajar bareng



Kita manusia memang pandai berencana, tetapi Allah juga yang bisa berkehendak lain. Misalnya membelokkan hati saya dengan banyak tumpukan DL sehingga rencana menulis 17 artikel menjadi beberapa belas artikel. Saya sudah skip dua kali. Kali ini berniat meneruskan lagi posting Cerdas Finansial semampunya sebagai bagian dari upaya memperkaya tulisan Literasi Finansial Anak melalui games di Kuliah Bunda Sayang Institut Ibu Profesional.

Al kisah, siang tadi, sebelum berangkat ke Jakarta, saya memberi anak-anak uang tambahan. Tak seberapa jumlahnya, tetapi sangat membahagiakan bagi mereka yang sederhana. Mas Destin langsung memasukkan ke dalam laci. Si sulung ini sudah pandai mengatur keuangannya sejak kecil.

Binbin, tak berapa lama kemudian langsung mengayuh sepeda. Oaaa…. Anak saya ini.

Binbin memang belum ‘pandai jajan’. Dia sering banget jajan, tetapi tidak pandai mengatur jajan mana yang akan dibeli dan kapan sebaiknya tidak. Jadi… ini akan menjadi konsern saya selama dua minggu ke depan dan lebih ketat mengawasi.

Bulan lalu, kami sudah bercakap-cakap cukup lama. Saya mengatakan padanya bahwa jajanan yang ia beli rasanya seperti itu saja. Kenapa tidak eksplorasi jajanan baru saja, yang lama tak usah beli?

Si kecil ini langsung sepakat dan menjawab dia bosen jajan itu-itu saja.

Gotcha! Pikir saya bahagia.

Senang banget pastinya. Daaan… ternyata… uang hariannya mulai terkumpul. Dua minggu uang celengannya sudah lumayan. Minggu ketiga saya sudah lengah. Minggu keempat semua uang sudah terbang entah ke mana karena dia jadi jajan terus. Mungkin jajanan anak-anak memang nyandu banget ya. Jadi setelah tiga minggu ia kangen dan langsung jajan terus. Huhuhu… Saatnya kembali mengajarkan anak pandai jajan.

Tapi saya tidak patah arang. Saatnya mendiskusikan kembali dan kali ini pendampingan lebih lama dan kalau bisa digabung dengan mini budget sheet. Yang satu ini akan coba saya buat nanti malam dan menjadi bahan besok. Saat ini sampai Selasa ke depan saya masih di luar kota. Jadi hanya bisa menyiap-nyiapkan bahan dahulu.

Mengajarkan anak pandai jajan sebenarnya ambigu banget, ya. Hihihi…. Bisa jadi alasan kontroversi. Saya mau bilang pandai belanja, tapi anak segitu belanja apa. Dan bisa jadi ambigu juga. Mungkin kalau bilang mendidik anak agar jadi smart shopper lebih halus kali ya? Karena kita memang suka yang berbau linggis eh Inggris. Padahal intinya sama saja.

Tips mengajari anak pandai jajan:

1. Beri contoh/teladan. Pertama sekali, Ayah Bunda harus memberi teladan belanja yang cerdas. Jangan sampai ketahuan anak sedang kalap belanja karena diskon. Ketika akan belanja, buat list belanja dan patuhi. Jadikan anak manager persediaan rumah tangga. Mereka akan dengan senang melakukannya dan jadi kita punya polisi yang sangat baik melakukan pengawasan.

2. Biarkan anak tahu post sedekah/tabungan kita. Ajak dan mereka saat membagikannya. Ini sebuah contoh yang baik untuk mengajarkan anak, ada uang yang memang bukan miliknya dan harus dititipkan ke orang lain. Cara ini masih sangat jarang saya lakukan dan harus dibiasakan dahulu.

3. Minta anak menulis kebutuhan yang harus ia beli hari itu dan diskusikan sumber pendanaannya. Bisa lihat di posting cara mengajari anak membedakan kebutuhan dan keinginannya.

4. Beritahu anak agar tidak jajan makanan yang sama berulang-ulang. Lebih baik eksplorasi rasa dan jajan baru. Cara ini cukup ampuh. Teknis memberitahu harus sangat kreatif ya. Bebaskan imajinasi Ayah Bunda saat melakukannya. Batasannya, jangan mengancam, menakuti apalagi membentak. Lakukan dengan cara menyenangkan.

Semoga bermanfaat ya Ayah Bunda….

Semua materi mengajarkan anak cerdas finansial bisa dibaca di kategori Cerdas Finansial/

Rabu, 07 Februari 2018

Cara Tepat Mengajarkan Anak Menabung - Jangan salah lagi ya AyBund!

Februari 07, 2018 1 Comments

Halo AyBund! Masih setiap mencari artikel cara mengajarkan anak belajar finansial? Kali ini saya bagi tips keenam saya yaitu Cara Mengajarkan Anak Menabung. Artikel lain tentang Anak Cerdas Finansial dan Finansial Literasi bisa diakses kapan saja. Tinggal klik saja. InsyaAllah akan ada 17 artikel agar tantangan tuntas


Menabung atau menyimpan? Sejak anak-anak, memang diajarkan. Bahkan saat di PAUD dan TK pun. Ayah Bunda tentu mengalami masa anak PAUD/TK dan anak belajar menabung pada guru di sekolah. Cara ini terbukti sangat bagus.

Namun sayang, beberapa ayah bunda (atau mungkin guru juga punya peran sama) yang salah memahami konsep aslinya. Karena di masa ini, biasanya anak menabung dari uang orangtuanya. Tahun 2008 lalu, di sekolah TK si sulung, ada beberapa belas anak yang tabungan sekolahnya mencapai Rp 25.000.000,-. Cara semacam ini akan memahamkan anak pada konsep uang instan yang mudah didapatkan, tanpa usaha sedikit pun.

See…. Tanpa sadar, ayah bunda malah mencederai fitrah yang berhubungan dengan cerdas finansial karena mencegah semangatnya menyimpan uang dari uang sakunya sendiri. Padahal di masa ini, anak bisa berlatih membagi uang sakunya menjadi 3 bagian, yaitu ditabung, dibelanjakan dan diberikan pada orang yang membutuhkan.


Jangan Salah Mengajarkan Konsep Menabung Ketika Anak Masih TK

Nah, cara mengajarkan anak menabung (ala saya) sebenarnya tidaklah sulit. Begini caranya:
a. Jelaskan pada anak mengapa ia harus menabung.
b. Bantu anak memproyeksikan target jumlah uang yang akan disimpan dalam jangka panjang dan pendek serta tujuan men
c. Sarankan bagi uang harian menjadi 3 bagian, yaitu ditabung, dibelanjakan, disedekahkan. Prosentasenya bisa disepakati dengan anak
d. Siapkan 3 wadah berbeda. Uang tabungan dititipkan ke bank atau sekolah, uang jajan dimasukkan ke dalam dompet jajan, dan uang sedekah dimasukkan ke wadah bekas selai/susu/botol/lainnya. Bisa juga dibelikan wadah celengan dalam bentuk yang lebih disukai anak.
e. Minta anak mencatat uang yang disimpan.
f. Ajari anak menghitung jumlah uang yang disimpan berdasarkan catatan.

Selamat mencoba, Ayah Bunda...

Selasa, 06 Februari 2018

Tips Mengajari Anak Membuat Anggaran Belanja

Februari 06, 2018 0 Comments
Kemarin saya sudah membagi beberapa tips membuat anak CERDAS FINANSIAL. Kali ini, saya mencoba mengenalkan tentang anggaran dan cara membuatnya.



Pasca belajar mengenali mana kebutuhan dan mana keinginan, saatnya latihan. Yang sederhana-sederhana saja dulu. Bolehlah dikatakan mini budgeting. Intinya untuk membuat Destin dan BInbin bisa membuat skala prioritas saat membelanjakan uang.

Mengajarkan sesaatu akan lebih mudah jika sekaligus praktik. Jadi ada teladan yang bisa dilihat anak. Seperti ini cara saya. Lumayan sederhana dan bisa dicoba

1. Diskusikan anggaran minggu ini dengan anak.
2. Jangan anggap tabu saat membicarakan keuangan keluarga
3. Jujur tentang kondisi keuangan
4. Ajarkan anak menjadi pembeli yang cerdas atau smart shopper
5. Kenalkan pada uang peluang atau opportunity moner
6. Kenalkan melalui permainan. Pilih yang paling sesuai dengan keadaan keluarga.
a. Game online: anak saya memiliki 1 game yang dimainkan. Saya menyelipkan nasihat keuangan di sana.
b. Game ofline : monopoli. Monopoli mengajarkan anak menyimpan, membelanjakan uang, dan investasi. Juga risikonya. Jadi bukan hanya sekadar beli… beli… beli.

Tak terlalu ribet kan AyBund?

Ajarkan cerdas finansial sejak dini akan membuat anak percaya diri mengelola keuangannya di masa depan.

Minggu, 04 Februari 2018

(Free Printable) Cara Mengajari Anak Perbedaan Kebutuhan dan Keinginan

Februari 04, 2018 3 Comments
Masih di tema ANAK CERDAS FINANSIAL, dan masih di subtema Literasi keuangan untuk anak. Kali ini, saya akan menuliskan tentang cara mengajari anak perbedaan kebutuhan dan keinginan. Tema dan subtema ini menjadi menarik karena sebagai ibu, saya merasa perlu belajar kembali tentang cara cerdas mengatur uang sembari mengajarkannya pada anak. Ini adalah bagian dari apa yang disebut teaching by doing.


Saya bukan ibu atau orangtua yang serba tahu. Saya malah lebih sering menantang diri sendiri untuk mempelajari sebuah pengetahuan tematik di satu waktu untuk menambah pengetahuian. Bahasa kerennya adalah menambah jam terbang.



Pada pembuka tema saya menuliskan tentang cara mengajarkan anak kecerdasan finansial sejak dini. Saya mengutip 5 cara/tips dari materi kuliah Bunda Sayang, dan memecah setiap poin ke dalam satu postingan sambil memahamkan anak tentangnya. 2 hari lalu saya sudah menulis tips pertama, yaitu cara memahamkan anak pada konsep rezeki itu pasti, kali ini saya mengajarkan tips kedua yaitu Berdialog tentang kebutuhan dan keinginan dengan anak sebagai ikhtiar lanjutan. Ada sebuah pengayaan yaitu mengajari anak 6 konsep uang.


Perbedaan antara kebutuhan dan keinginan sebenarnya tidaklah sulit. Hanya saja, beberapa dari kita, ayah bunda, gagal mengajarkan melalui perilaku harian. Bisa jadi karena kita begitu mencintai anak, sampai lupa bahwa perilaku kita ditiru. Mengajarkannya pun menjadi sedikit ragu. Saya merasakan hal itu. Ketika saya mencari kata untuk menjelaskannya, terbayang beberapa kesalahan finansial yang saya perbuat di depan anak. Mungkin Ayah Bunda juga merasakannya nanti. Tetapi jangan sampai mencegah diri untuk tidak melakukannya. Ingat:
Anak yang cerdas finansialnya akan menjadi orang dewasa yang pandai melihat peluang ekonomi di masa mendatang
Jadi… saya pun memulai dengan definisi kebutuhan dan keinginan.

Kebutuhan adalah sesuatu yang harus ada. Adakalanya kita bisa menunda memiliki beberapa waktu, tetapi tanpanya kita akan mengalami beberapa kesulitan. Contohnya adalah rumah, makanan pokok, pakaian penutup tubuh, tas dan alat sekolah, alas tidur, dan perlengkapan tugas sekolah yang harus dipenuhi agar tidak dihukum di sekolah. Ketika menjelaskan ini, anak mungkin akan membuat terperangah karena membayangkan benda sama dengan kualitas berbeda.

Diskusi lebih intens dibutuhkan di sini. Perlu dijelaskan antara fungsi dan dekorasi. Rumah kita lebih utama daripada rumah tetangga yang bertingkat, misalnya, lol. Layani pertanyaan atau pernyataan anak yang mungkin membuat Ayah Bunda lelah.

Biarkan anak benar-benar paham konsep ini. Jangan sampai ‘keinginan’ ikut masuk ke ranah kebutuhan, misalnya seperti, “Mama, aku butuh makan ayam goreng crispy siang ini,” padahal lauk yang saya adalah ayam kecap. Meskipun, ini bisa menjadi awal yang baik untuk menjelaskan apa itu ‘keinginan’.

Definisi Keinginan adalah sesuatu yang kita inginkan tetapi pemenuhannya bisa ditunda atau malah tidak perlu dituruti.

Misalnya,
1. Ingin jalan-jalan ke kota Semarang.
2. Ingin makan pizza
3. Ingin membeli baju baru
4. Ingin bermain game online di HP
5. Ingin menonton TV
6. Dll

Saya menjelaskan ke anak bahwa 6 contoh di atas bisa ditunda dalam tempo yang disepakati atau malah tidak perlu dituruti sama sekali karena beberapa pertimbangan.

Jiks ingin memberikan pengayaan pada anak, silakan simpan dan cetak tes sederhana di bawah ini. Semoga cukup membantu.


Mengajarkan anak mengenali perbedaan keinginan dan kebutuhan tidak memerlukan waktu yang khusus karena bisa dilakukan sewaktu-waktu. Tetapi akan lebih mudah jika anak praktik langsung di saat itu juga. Bisa melalui lisan, bisa juga dengan tulisan.

Sabtu, 03 Februari 2018

6 Konsep Uang yang Perlu Diajarkan Kepada Anak Usia 3 - 15 Tahun

Februari 03, 2018 0 Comments
Masih di tema ‘Cerdas Finansial’, kali ini saya ingin membagi sedikit pengetahuan tentang 6 konsep uang yang harus diketahui oleh anak usia 3 - 15 tahun. Ternyata konsep ini juga belum sepenuhnya diketahui oleh para remaja, orangtua dan dewasa. Setidaknya bagi saya yang mengenalnya baru-baru ini saat akan mengajarkan anak tentang kecerdasan finansial. Ini adalah bagian dari artikel Anak Cerdas Finansial yang telah saya mulai 2 hari lalu. Silakan baca Mengajarkan anak cerdas finansial sejak dini, mungkinkah? dan Mengajarkan anak pada konsep 'Rezeki itu pasti' Jika ditanya kapan konsep uang sebaiknya diajarkan, saya ingin menjawab sejak sedini mungkin. Sebelum konsep uang di atas dikenalkan. Sejak bayi berusia satu tahun. Tentu dengan cara yang berbeda dan tanpa banyak kata. Di usia ini yang mereka hapal adalah perilaku orang-orang terdekatnya.


Tetangga saya memiliki seorang anak yang baru berusia 1 tahun bulan Januari lalu. Dan rupanya, anak-anak milenial memang memiliki kecerdasan yang berbeda dengan masa sebelumnya, karena si mungil ini sudah tahu konsep jajan. Di jam tertentu ia akan menunggu seorang bakul belanjaan karena ingin makan telur puyuh. Jam atau alarm biologis-nya belum sempurna, tapi ia hapal kebiasaan mendatangi seseorang di jam bermain pasca mandi. See… itulah sebabnya saya katakan sedini mungkin adalah usia 1 tahun.

Bagaimana cara mengajarkannya? Tentu saja dengan tidak mengenalkannya pada pola belanja di jam tertentu sehingga anak menjadi lebih menuntut.

Ini prolog yang kepanjangan, ya. Tambahan informasi yang lebih terkini dan mungkin terjadi di sekitar Ayah Bunda.


Sebaiknya saya segera memulai meminjam 6 konsep uang dari sebuah perusahaan finance di luar negeri. Saya tulis ulang dengan pemahaman saya yang mungkin agak terbatas karena tidak secara khusus mempelajarinya.

1. Konsep Menabung atau menyimpan uang. Konsep ini bisa dikenalkan sejak berusia 3 – 6 tahun. Caranya cukup mudah.
a. Jelaskan pada anak bahwa uang harian bukanlah uang yang harus dibelanjakan setiap hari sampai habis.
b. Ajarkan anak membagi uangnya menjadi 3 bagian yaitu uang simpanan, uang jajan, dan uang kebaikan (sedekah)
c. Jika ingin membeli sesuatu, ajarkan anak membeli menggunakan uang jajannya sendiri. Jika melebihi jumlah, latih kesabarannya dengan menangguhkan beberapa hari sampai uang jajannya cukup
d. Bantu anak menghitung ‘kekayaannya’ dan puji-semangati terus.
e. Ajarkan perbedaan keinginan dan kebutuhan

2. menghasilkan uang dengan melakukan pekerjaan tertentu di rumah pada usia 5 – 8 tahun
a. Tetapkan bersama, pekerjaan rumah apa yang bisa menghasilkan uang untuknya, dengan syarat dan ketentuan berlaku. Cara ini bisa melatih kemandirian anak jika dilakukan dengan benar.
b. Masukkan uang penghasilannya ke dalam wadah celengan


3. Berbelanja cerdas pada usia 6 – 10 tahun
a. Ajarkan anak berbelanja sendiri (menggunakan uang pribadinya) di toko/swalayan/minimarket/deptstore dan lainnya untuk memahamkan konsep jual beli.
b. Ajak belanja mingguan (atau bulanan) dan beri extra uang (misalnya Rp 10.000,-) untuk belanja pribadinya
c. Di rumah, diskusikan perbedaan harga suatu produk beda merk dan mengapa demikian.


4. Kenalkan pada Biaya Peluang atau Opportinity Cost di usia 7 – 11 tahun
Konsep Biaya Peluang atau Biaya Kesempatan (ada yang meyatakan Pilihan ekonomi) adalah keputusan sadar menggunakan sejumlah uang yang ada. Ketika anak memiliki sejumlah uang, minta ia membuat 2 atau 3 kemungkinan membelanjakan uang tersebut. Semisal ia memiliki uang RP 10.000,-, apakah akan membeli Kinderjoy atau yang lainnya. Tanyakan mengapa. Keputusan sadar anak akan melatih logikanya.

5. Kenalkan pada anggaran atau budgetting di usia 11 – 13 tahun. Membuat anggaran sederhana akan lebih memahamkan anak mengenai kekayaan yang dia miliki dan kemungkinan apa yang bisa dia raih dengan uangnya tersebut. Latih anak menganggarkan sejumlah uang untuk aktivitas week end. Misalnya, dana week end minggu ini adalah Rp 200.000,-. Ajak anak membuat list belanjanya dan ajak ia praktik langsung.

6. Kenalkan pada investasi sederhana pada usia 13 – 15 tahun. Misalnya menjadikan sejumlah uang simpanannya sebagai modal usaha tertentu yang bisa dijual pada teman-teman di sekolahnya.

Naaah... itulah 6 konsep uang yang perlu diketahui oleh anak mulai usia 3 - 15 tahun. Semoga bermanfaat, Ayah Bunda

Foto: Canva & Freepik

Jumat, 02 Februari 2018

Memahamkan Konsep Rezeki Itu Pasti Pada Anak

Februari 02, 2018 9 Comments

Memasuki hari kedua untuk Tantangan Kuliah Bunda Sayang Institut Ibu Profesional tentang Anak Cerdas Finansial. Kali ini saya lebih fokus pada diskusi saja ke anak. Mencoba memahamkan mereka pada konsep Rezeki Itu Pasti Kemuliaan yang Dicari. Harapan saya adalah, mereka lebih bijak dalam hal keuangan sekaligus meningkatkan ketaqwaan.



Anak-anak, seperti anak saya yang masih berusia 13 dan 9 tahun, memang belum mampu berlogika sempurna seperti orangtua. Apalagi Binbin yang masih 9 tahun. Tetapi setidaknya ketika saya menjelaskan tentang harapan, doa dan kenyataan, ia lebih mudah paham.

3 hari lalu, ia tiba-tiba mengatakan ingin tahu rasanya bermain salju. Saya sudah menceritakannya sekilas kemarin di posting Anak Cerdas Finansial Sejak Dini. Mungkinkah?

Mungkin ini yang namanya takdir. Ketika saya hendak memahamkan mereka akan 'konsep rezeki', bungsu saya ini mendadak ingin sesuatu yang ‘di luar kemampuan kami saat ini’. Bermain salju.

Secara cepat terbayang ia memakai jaket biru tebal penaham dingin dan bermain seperti anak-anak lain. Ia tampak ganteng sekali seperti anak-anak bule yang riang berlempar salju. Ada binar di matanya saat mengulurkan segenggam besar salju kepada saya yang sedang memotretnya.



Binbin - si bungsu yang ingin bermain salju. 
Sementara ke JOP Jepara dulu ya Nang


Cepat sekali bayangan tersebut buyar karena menyadari bahwa itu adalah sebuah kilas gambar. Tetapi kemudian saya menyadari bahwa memvisualkan harapan bisa menjadi doa yang mustajab. Saya segera menjelaskan pada Binbin tentang ini dan memintanya berdoa secara khusus kepada Allah di waktu-waktu mustajab.

“Kamu tahu waktu mustajab berdoa, Nak?” tanya saya.

Alhamdulillah ia bisa menyebutkan beberapa waktu yaitu selesai adzan, di antara azan dan iqomat, juga selesai salat Subuh dan Asar. Tentu saja ada waktu-waktu lainnya. Tetapi saya tak ingin memberondong si 9 tahun itu dengan banyak informasi sehingga ia sulit menyimpan semua. Waktu-waktu yang ia sebutkan di atas lebih mudah diingatnya.

“Minta pada Allah agar bisa ke Jakarta dan bermain salju di Snow World,” saran saya. “Bayangkan kamu sedang bermain salju saat berdoa.”

Bagi beberapa orang, pergi ke Snow World Jakarta sangatlah mudah. Bagi kami yang hidup pas-pasan dan jauh dari Jakarta, keinginan ini serasa melampaui batas. Bukan karena kami tak percaya Allah memampukan, tetapi jika ada dana segitu, kami bisa akan memilih kebutuhan yang lebih mendesak. Makanya, menyerahkan pada kuasa Allah adalah salah satu cara saya mengajarkan pada anak-anak tentang konsep rezeki.

Kita pasti bisa ke Jakarta sekeluarga. Yakin saja
Ini hari ketiga. Binbin masih memiliki harapan yang sama. "Dia bertanya apakah benar-benar bisa? Alangkah senangnya", katanya dengan polos dan masih dengan binar mata yang sama.

Mas Destin, saudaranya, beberapa kali menggoda dengan mengatakan, “Mengapa tidak memilih ke Amerika saja?” Kemudian ia bertanya-tanya tentang street food di Thailand dan Jepang. Kedua anak saya suka menonton video makanan ala jalanan di Youtube. Semoga kelak mereka bisa berjalan-jalan lebih banyak dan lebih jauh dari ibunya. Aamiin…

Adakalanya saya membebaskan keinginan anak-anak, bahkan menstimulasi mereka membaca majalah wisata dunia. Saya ingin mereka tertarik jalan-jalan ke seluruh nusantara dan luar negeri. Saya ingin mereka kelak sekolah yang tinggi. Dan… untuk jangka pendeknya adalah agar mereka mengenal keindahan dunia yang mereka tempati dan bisa menceritakan secara lisan atau tulisan. Saya ingin mereka kelak menjadi penulis. Atau setidaknya bisa menulis agar memiliki kenangan.

Anak-anak tahu berapa kisaran gaji ayah bundanya tak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh sekeluarga. Tetapi itu bukan berarti tak mungkin terjadi. Mereka sudah terbiasa saya tinggal jalan-jalan ke luar kota berhari-hari tanpa mengeluarkan biaya. Jadi secara umum mereka tahu konsep rezeki bukanlah gaji. Setiap kemudahan dan fasilitas yang mereka milikiadalah rezeki. Saat menengok orang sakit saya mengatakan, sehatmu adalah rezekimu. Yang membuat mereka takjub adalah, tetangga di rumah baru kami sangat baik. Mereka sering memberikan durian atau rambutan sehingga keduanya puas memakan buah-buahan khas desa kami. Saya tersenyum ketika mereka mengatakan hal ini.

Rezeki itu pasti, kemuliaan di mata Allah yang dicari.


Alhamdulillah praktik konsep 'rezeki itu pasti' menjadi lebih mudah. Mereka juga mulai kami pahamkan tentang ‘kemuliaan di mata Allah lebih utama daripada di mata manusia’. Alhamdulillah mereka menjawab positif dan menjawab dengan penolakan mereka pada korupsi, mencontek dan jual beli nilai di sekolah. Semoga semakin paham ya Nak….

Mama bangga pada kalian. Semoga proses awal ini memudahkanmu belajar Cerdas Finansial sejak masih usia anak-anak. Aamiin.

Kamis, 01 Februari 2018

Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini. Mungkinkah?

Februari 01, 2018 2 Comments
Tak terasa sudah tanggal 1 Februari 2018 saja. Sudah saatnya menjawab tantangan di Kuliah Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Alhamdulillah sudah level 8. Horeeee….. Sudah 2/3 materi terlampaui. InsyaAllah lulus dan wisuda. Aamiiin!


Tantangan bulan ini adalah mengajarkan pada anak tentang Cerdas Finansial Sejak Dini. Saat mendapat bahan pertama kali langsung, “Waduh!”

Ini akan menjadi tantangan yang sangat berat bagi saya. Destin dan Binbin mulai sulit mengatur uang saku mereka. Mulai boros karena sering menganggarkan ke kolam renang Alamoya bareng teman-teman geng mereka. Hadah….

Etapi ya… sebenarnya mereka sudah melakukan saving jangka pendek. Kalau sesuai teori, sih. Karena mereka menyisakan uang saku untuk bisa berenang di kolam renang berbayar. Saya jarang menambah uang saku ke sana. Lebih sering pakai uang simpanan mereka sendiri. Hmm… Ada yang perlu sedikit diubah agar mereka juga memikirkan rencana keuangan jangka panjang.

Anak cerdas finansial dari kebiasaan keluarga (sumber foto: freepik)

Pinjam dari materi Cerdas Finansial Kelas Bunda Sayang ya… Saya tulis ulang sepemahaman saya sebagai ikhtiar belajar membuat publikasi copy paste yang bermartabat.

Begini cara memberi stimulasi agar anak Cerdas Finansial:

1. Paling dasar adalah anak perlu paham bahwa rezeki berasal dari Allah.
Bentuknya bermacam-macam, dan gaji orangtuanya adalah SEBAGIAN KECIL DARI REZEKI. Di sini saya menjelaskan bahwa sehat, perut nyaman, lidah menyecap makanan lezat, adalah bagian dari rezeki. Termasuk, mereka adalah rezeki, karena setiap orang yang lahir membawa sepaket rezeki mereka. Jadi… jika ingin sesuatu yang melebihi kemampuan orangtuanya, mintalah pada Allah. 

Saya ajari memvisualisasikan harapan dan doa, dengan cara sederhana. Kebetulan, tiba-tiba kemarin Binbin mengatakan ia ingin tahu rasanya bermain salju. Pas banget dengan game kali ini. Siapa tahu, kan... dapat undangan ke Jakarta sekeluarga dan bisa bermain salju di Snow World International? Tak ada yang tak mungkin. Terpenting jangan membatasi keinginan anak hanya karena rezeki orangtua yang tak seberapa


2. Berdialog tentang arti KEBUTUHAN dan KEINGINAN. Anak-anak harus tahu bahwa ada kebutuhan yang harus dipenuhi dan ada kenginan yang bisa ditunda atau malah tak perlu dituruti. Nah.. rencananya, seminggu ini saya akan ajak anak brainstorming tentang skala prioritas kebutuhan hidup mereka. Perjalanan masih panjang… perlu siapkan banyak amunisi.

3. Melatih membuat mini budget dari uang saku. Mereka sudah kenal ini meski dengan cara sederhana yaitu menyisakan uang saku. Tetapi perlu juga dikenalkan pada target bulanan dan tahunan. Dan yang jelas, perlu ditegaskan agar tidak menghabiskan semua sisa celengan mereka seperti biasanya.

4. Melatih mengelola pendapatan dengan lebih serius. Di sini kami perlu belajar bersama untuk disiplin dengan perencanaan keuangan. Sudah saatnya anak dikenalkan dengan konsep baru, yaitu hak atas rezeki yang mereka dapatkan. Kenalkan mereka pada:
Hak Allah : 2,5 - 10% pendapatan
Hak orang lain : max 30% pendapatan
Hak masa depan : min 20% pendapatan
Hak diri sendiri : 40-60% pendapatan

5. Latih… latih… latih… dan selalu apresiasi jika anak berhasil.

Latih - percayai-jalani-supervisi-latih lagi.

Bismillah…. Kami mencoba berubah bersama-sama. Menuju keluarga Susindra yang lebih baik di tahun 2018. Aamiiin…

Bagaimana proses kami menciptakan anak yang cerdas finansial? Jangan lupa kembali besok. InsyaAllah sudah ada laporan kegiatan yang baru.