Memahamkan Konsep Rezeki Itu Pasti Pada Anak


Memasuki hari kedua untuk Tantangan Kuliah Bunda Sayang Institut Ibu Profesional tentang Anak Cerdas Finansial. Kali ini saya lebih fokus pada diskusi saja ke anak. Mencoba memahamkan mereka pada konsep Rezeki Itu Pasti Kemuliaan yang Dicari. Harapan saya adalah, mereka lebih bijak dalam hal keuangan sekaligus meningkatkan ketaqwaan.



Anak-anak, seperti anak saya yang masih berusia 13 dan 9 tahun, memang belum mampu berlogika sempurna seperti orangtua. Apalagi Binbin yang masih 9 tahun. Tetapi setidaknya ketika saya menjelaskan tentang harapan, doa dan kenyataan, ia lebih mudah paham.

3 hari lalu, ia tiba-tiba mengatakan ingin tahu rasanya bermain salju. Saya sudah menceritakannya sekilas kemarin di posting Anak Cerdas Finansial Sejak Dini. Mungkinkah?

Mungkin ini yang namanya takdir. Ketika saya hendak memahamkan mereka akan 'konsep rezeki', bungsu saya ini mendadak ingin sesuatu yang ‘di luar kemampuan kami saat ini’. Bermain salju.

Secara cepat terbayang ia memakai jaket biru tebal penaham dingin dan bermain seperti anak-anak lain. Ia tampak ganteng sekali seperti anak-anak bule yang riang berlempar salju. Ada binar di matanya saat mengulurkan segenggam besar salju kepada saya yang sedang memotretnya.



Binbin - si bungsu yang ingin bermain salju. 
Sementara ke JOP Jepara dulu ya Nang


Cepat sekali bayangan tersebut buyar karena menyadari bahwa itu adalah sebuah kilas gambar. Tetapi kemudian saya menyadari bahwa memvisualkan harapan bisa menjadi doa yang mustajab. Saya segera menjelaskan pada Binbin tentang ini dan memintanya berdoa secara khusus kepada Allah di waktu-waktu mustajab.

“Kamu tahu waktu mustajab berdoa, Nak?” tanya saya.

Alhamdulillah ia bisa menyebutkan beberapa waktu yaitu selesai adzan, di antara azan dan iqomat, juga selesai salat Subuh dan Asar. Tentu saja ada waktu-waktu lainnya. Tetapi saya tak ingin memberondong si 9 tahun itu dengan banyak informasi sehingga ia sulit menyimpan semua. Waktu-waktu yang ia sebutkan di atas lebih mudah diingatnya.

“Minta pada Allah agar bisa ke Jakarta dan bermain salju di Snow World,” saran saya. “Bayangkan kamu sedang bermain salju saat berdoa.”

Bagi beberapa orang, pergi ke Snow World Jakarta sangatlah mudah. Bagi kami yang hidup pas-pasan dan jauh dari Jakarta, keinginan ini serasa melampaui batas. Bukan karena kami tak percaya Allah memampukan, tetapi jika ada dana segitu, kami bisa akan memilih kebutuhan yang lebih mendesak. Makanya, menyerahkan pada kuasa Allah adalah salah satu cara saya mengajarkan pada anak-anak tentang konsep rezeki.

Kita pasti bisa ke Jakarta sekeluarga. Yakin saja
Ini hari ketiga. Binbin masih memiliki harapan yang sama. "Dia bertanya apakah benar-benar bisa? Alangkah senangnya", katanya dengan polos dan masih dengan binar mata yang sama.

Mas Destin, saudaranya, beberapa kali menggoda dengan mengatakan, “Mengapa tidak memilih ke Amerika saja?” Kemudian ia bertanya-tanya tentang street food di Thailand dan Jepang. Kedua anak saya suka menonton video makanan ala jalanan di Youtube. Semoga kelak mereka bisa berjalan-jalan lebih banyak dan lebih jauh dari ibunya. Aamiin…

Adakalanya saya membebaskan keinginan anak-anak, bahkan menstimulasi mereka membaca majalah wisata dunia. Saya ingin mereka tertarik jalan-jalan ke seluruh nusantara dan luar negeri. Saya ingin mereka kelak sekolah yang tinggi. Dan… untuk jangka pendeknya adalah agar mereka mengenal keindahan dunia yang mereka tempati dan bisa menceritakan secara lisan atau tulisan. Saya ingin mereka kelak menjadi penulis. Atau setidaknya bisa menulis agar memiliki kenangan.

Anak-anak tahu berapa kisaran gaji ayah bundanya tak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh sekeluarga. Tetapi itu bukan berarti tak mungkin terjadi. Mereka sudah terbiasa saya tinggal jalan-jalan ke luar kota berhari-hari tanpa mengeluarkan biaya. Jadi secara umum mereka tahu konsep rezeki bukanlah gaji. Setiap kemudahan dan fasilitas yang mereka milikiadalah rezeki. Saat menengok orang sakit saya mengatakan, sehatmu adalah rezekimu. Yang membuat mereka takjub adalah, tetangga di rumah baru kami sangat baik. Mereka sering memberikan durian atau rambutan sehingga keduanya puas memakan buah-buahan khas desa kami. Saya tersenyum ketika mereka mengatakan hal ini.

Rezeki itu pasti, kemuliaan di mata Allah yang dicari.


Alhamdulillah praktik konsep 'rezeki itu pasti' menjadi lebih mudah. Mereka juga mulai kami pahamkan tentang ‘kemuliaan di mata Allah lebih utama daripada di mata manusia’. Alhamdulillah mereka menjawab positif dan menjawab dengan penolakan mereka pada korupsi, mencontek dan jual beli nilai di sekolah. Semoga semakin paham ya Nak….

Mama bangga pada kalian. Semoga proses awal ini memudahkanmu belajar Cerdas Finansial sejak masih usia anak-anak. Aamiin.

Komentar

  1. Mantab mbak, jadi anaknya besar dengan suasana islami ya mbak. Mereka yakin kalau rezeki itu pasti ada dan optimis dengan cita-citanya.

    BalasHapus
  2. senang dan bangga ya mba kalau anak paham akan konsep "rezeki itu pasti" dan tentang kondisi ayah bundanya

    BalasHapus
  3. klu sya mengajarkan konsep rezeki dengan mengajarkan anak tentang berbagi
    meski di sekolah ada catering, saya selalu beri bekal kue atau roti.
    sy selalu minta anak sy berbagi dengan teman temannya.
    kalau dia nanya mengapa harus dibagi saya jawab " berbagi itu bukan menghilangkan rezeki, tapi rezeki akan bertambah melalui tangan orang lain atas izin Allah "

    BalasHapus
  4. amin,, semoga nanti anak-anak mbak bisa benar-benar memahami maksud ayah-bunda. pondasi memang seuatu yang sangat menentukan kemana anak akan berkembang.

    BalasHapus
  5. wah selamat ya mba, penanaman pemahaman itu tidak mudah. Tapi seneng aku bisa belajar masalah penanaman pemahaman ini. Yakinlah suatu saat impianmu akan terwujud

    BalasHapus
  6. Saya doakan semoga bisa segera ke Jakarta dan main ke Snow World mba..
    Saya malah jadi kepingin kesana jg mba.. udh 3 thn merantau ke jkt tapi belum pernah ke snow world

    BalasHapus
  7. Kalau aku selalu ingat pesan mama, rezeki adalah hasil dari kerja keras, kebaikan hati pada orang lain dan sedekah. Jadi nanti ke anakku, aku mau ngajarin bahwa kalau mau rezeki lancar harus mau bekerja keras. Kalau mau rezeki mudah, harus baik hati pada orang lain, bayar hutang tepat waktu biar enggak menyusahkan. Dan yang terakhir, sedekahlah agar memudahkan rezeki datang dan menjadikan rezeki halal.

    BalasHapus
  8. berdoa kepada tuhan dan jangan lupa sebagai orang tua untuk terus menabung jangan boros tapi, kalo boros untuk anak sih gpp pasti rejeki engga kemana kok dan anak selalu ada aja rejekinya masing masing. Tapi, bagus juga sih memberikan pemahaman si anak sedari dini biar nanti meereka besarnya bisa memahami kita sebagai orang tua yang membesarkan mereka

    BalasHapus
  9. Pendar Bintang8 April 2018 18.09

    Keren, Mbak.
    Banyak belajar dari Mbak Susi langsung lebih mantaf 😍

    BalasHapus

Posting Komentar

Punya pengalaman serupa?
Berbagi kisah, yuk...