Follow Instagram @susierna1 ya

Sabtu, 24 Maret 2018

#ThinkCreative: Jangan Kesal Jika Anak Mengotori Rumah

Maret 24, 2018 1 Comments

Bunda.... Sehari membersihkan rumah berapa kali? Hihihi....

Kalau menuruti hati, bisa berkali-kali ya. Apalagi jika anaknya rajin bermain atau melakukan eksperimen. Tapi saya percaya bahwa di antara kekotoran yang dibuat anak, ada kreativitas di situ. Jadi, ubah pola pikir dulu. #ThinkCreative: Jangan kesal jika anak mengotori rumah.


Oh ya, ada artikel bagus unutk #ThinkCreative di Ubah Pola Pikir Ubah Dunia. Monggo ramaikan.

Namanya anak-anak, rasanya sulit untuk marah pada mereka. ya, kan Bund? mereka ahli sekali dalam memberantakin rumah. Ada saja tingkah laku mereka yang membuat hidup bundanya (dan ayah tentunya) menjadi seperti sedang menikmati permen Sacramento. Baru selesai membereskan satu sudut, sudut yang lain telah diberantakin.

Pasti pernah mengalami hal ini.

Sebelum masuk ke dalam konsep:

Ubah Pola Pikir, Ubah Dunia


Kita perlu melihat lebih jauh. Apa sih sebenarnya yang mereka lakukan?

Jangan malah marah-marah tak jelas.
Lebih seringnya, anak menunjukkan kreativitas ketika bermain kotor. Bisa jadi juga, karena Bunda belum tuntas mengajarkan anak cara membersihkan mainan jika usai. Sudah? Berarti hanya perlu pembiasaan saja. Jangan menyerah jika masih beberapa puluh kali. Pembiasaan perlu penguatan. Bahasa kerennya KOMITMEN & KONSISTEN. Hehehehe

Jujur saja, dahulu saya termasuk ibu yang cerewet. Rasanya tak rela hasil bertapa (membersihkan rumah) menjadi sia-sia dalam waktu sekejab. Tapi itu dulu... Sudah hampir dua tahun ini saya jadi ibu yang lebih fun bagi anak. Karena sudah agak lancar menahan hati, makanya saya berani pakai #IbuBahagia sebagai hashtag utama. Hashtag lainnya adalah #RisingKids #RisingLeader. Yaa.. sebenarnya ini cara saya lebih jeli dan legowo melihat polah anak. Namanya manusia..... Kadang perlu jampi-jampi semangat.

Foto ini, saya ambil kurang dari satu jam setelah saya merapikan. Tiba-tiba jadi arena track mobil. Hahahaha....

Sebenarnya Binbin sudah meminta dibelikan track mobil kemarin. Rupanya ini permainan ter-happening minggu ini. Karena belum kami belikan, jadinya, beberapa tempat di rumah menjadi lahan baru bermain. Malam ini sudah pindah di sebelah printer. Hehehe... Baiknya sih, di sana, tempatnya lebih tersembunyi daripada sebelumnya. Lagi pula... Itu tempat buku-buku kesayangan saya... Huhuhu.

Ups... malam ini saya banyakan curhatnya ya. Padahal sih, ada rasa bersyukur juga, karena, anak kedua saya ini kreatif memakai bahan di sekitarnya. Semoga saja selalu begitu.



Tak perlu mainan mahal, Nang... Nanti kamu bosan. Bikin saja sendiri, seperti itu.

Wkwkwk... Emak ngiriters garis keras!



Semoga bisa menjadi pengingat kecil kala akan merasa kesal dengan anak, ya Bund.



Sebenarnya saya sangat ingin mengutip jargon sebuah produk sabun deterjen. Tapi entah bagaimana, tangan saya kelu. Hehehe. You know what I mean, lah, produk apa itu.

Iya... Berani kotor itu baik versi Rinso. 

Selamat beraktivitas, Ayah Bunda kesayangan!

Jumat, 23 Maret 2018

#ThinkCreative: Ubah Pola Pikir, Ubah dunia

Maret 23, 2018 1 Comments
Halo Ayah Bunda... Kreativitas apa yang dibuat anak hari ini?

Alangkah bahagianya memiliki putra-putri. Mereka terlihat paling ganteng dan cantik. Mereka jadi kebanggaan kita. Wanginya lebih nyandu daripada apapun di dunia. Peluk, cium,….

Mereka makhluk paling mudah membuat ayah bundanya tertawa. Begitu lugu. Sampai terkadang jauh melebihi pemikiran kita. MasyaAllah indahnya menemani anak-anak ketika kecil.

Bukankah begitu?

Coba pandang tubuh mungilnya yang sedang terlelap. Terlupa sudah, semua payah kita bekerja. Terlupa sudah, kegaduhan yang ia buat. Rumah berantakan telah menjadi rapi. Kelelahan menjawab pertanyaan yang tak habis-habis mulai menipis. Rengekan yang memusingkan 30 menit lalu terasa jauh.


Anakku tersayang…

Rasanya dunia begitu sempurna dengan kehadiranmu.

Ubah pola pikirmu untuk mengubah hidupmu
Change your mind, change your world

Perasaan di atas, banyak dirasakan oleh orangtua yang berhasil menemukan pola kreativitas anak dan mensyukurinya. Mengapa saya berkata demikian? Karena ada banyak ayah dan bunda yang sering mengeluhkan anaknya nakal, untuk sesuatu yang sebenarnya normal.

Anak-anak, sebenarnya sama seperti orang dewasa dalam tubuh yang lebih kecil. Mereka sudah jadi seseorang. Mereka somebody who have desire. Jangan karena mereka masih muat di ketek kita lalu dikatakan masih bayi.

Tetangga saya, memiliki anak berusia 13 bulan. Orangtua dan kakek-neneknya sering kelepasan mengucapkan ‘nakal’. Sebut saja namanya Raja. Ia sering berteriak ketika menginginkan sesuatu. Ia juga selalu berteriak jika mainannya dipinjam sesama batita. Jika bisa berbicara, ia akan mengatakan, “INI MILIKKU!”

Bukankah lazim jika di usia berapa pun, kita takkan dengan teramat mudah membagi semua hal dengan orang lain?
Kemudian, ada pula kisah anak balita mematahkan lipstik baru bundanya. Apakah ia nakal? Ia hanya tak tahu jika sebelum memasukkan penutup lipstik, harus memutar rol dahulu. Atau…. Seperti anak laki-laki saya ketika usia 2 tahun, yang suatu hari sedemikian jenak bermain di pojok, dan ternyata mencoba bedak dan lipstik ibunya.

Tak ada yang salah di situ. Ia belum paham konsep hakiki laki-laki vs perempuan. Ia hanya anak kreatif. Daaan… sampai di usia hampir 10 tahun ini, saya harus banyak-banyak ikhlas karena proses kreatifnya masih berlangsung. Benda yang menarik hatinya akan dipakai bermain. Ia membuat eksperimen bahan apa saja yang direndam dalam botol. Tugas saya adalah sweeping botol aneka warna di kamarnya, hasil eksperimen. Hahahaha….. Mungkin saya punya seorang calon ilmuwan. Begitu pikir saya.

AyBund, mengapa saya bisa berpikir seperti itu?
Karena selalu ada alasan di setiap perilaku anak. Mereka makhluk pembelajar. mereka punya rasa ingin tahu yang sedemikian besar. Melebihi kita.

Mengapa?

Karena kita yang dahulunya sekreatif mereka, telah digiring ke dalam kotak tanpa tahu ada yang lebih luas di luar sana. Saya ingat guru menggambar saya (dan anak-anak mengalami juga di sekolah) mengarahkan, gunung berbentuk segitiga berwarna biru, awan berwarna putih, daun berwarna hijau, apel berwarna merah, dan lain-lain. Dan, dari entah kapan sampai kapan, gambar anak TK dan SD selalu ada pemandangan gunungnya. Selalu.

Saya tidak bermaksud mengatakan para guru TK/SD salah. MasyaAllah, beliau semua adalah orang-orang hebat yang sangat berjasa bagi semua umat manusia yang menjadi muridnya. Sodaqoh yang tak terputus. Saya hanya ingin menuliskan,

Ubah Pola Pikir, Ubah Dunia.


Biarkan anak keluar dari kotak yang disusun setara. Karena penemu takkan memiliki cara berpikir sama. Seorang calon penemu akan belajar melalui temuannya sendiri. Dan penemu… akan mengubah dunia. InsyaAllah.

Yuk, Ayah dan Bunda,
Kita coba keluar dari kotak yang menjadi dunia tinggal selama ini. Bebaskan diri .

To really be free, you need to be free in the mind (Alexander Loutsis)

Kamis, 22 Maret 2018

Workshop Cara Menghapus Konten Pornografi di HP Anak - 14 Maret 2018

Maret 22, 2018 2 Comments

Apa yang Bunda lakukan untuk melindungi si kecil dari bahaya pornografi?
Melarangnya menggunakan gawai yang tersambung internet, kah?
Memberi banyak nasihat dan wajangan seperti dosis obat agar selalu teringat?
Atau percaya saja, yang penting sudah diingatkan?
Atau… diawasi, duduk sebelah menyebelah dengan anak setiap ia online?



Senin lalu, saya kembali heboh. Saya berada di Semarang ketika mengecek history browser Mozilla yang digunakan anak. Ada beberapa link porno di YouTube yang dibuka. Bisa bayangkan hebohnya saya? 

Saya langsung konfirmasi pada suami. Apakah beliau yang membuka atau anak-anak? Saya screenshot buktinya. Diskusi dengan anak-anak dan orang dewasa tentu berbeda. Dari jam membuka, kami tahu, siapa yang membuka link tersebut, dan bukan anak atau pun suami. Seorang teman meminjam laptop kami saat dibawa suami ke rumahnya. 


Jadi… jangan abaikan proses konfirmasi ini. 

Perlu Bunda ketahui, bahwa ada banyak sekali cara predator dan pebisnis pornografi dalam usahanya menyebarkan kontennya. Daaan… biasanya, anak tahu pornografi dari luar rumah.

Di sekolah, di rumah tetangga, di rumah keluarga, atau lainnya. Media yang paling banyak digunakan adalah selipan iklan sekian detik di games online.

Sekian detik yang merusak. Anak memang kaget dan sempat tutup mata, tapi gambar tersebut sudah telanjur masuk ke otak anak, meskipun baru secepat kilat menyambar.

Pendidikan agama memiliki peran yang sangat besar. Saya sepakat dengan ahli parenting yang menyatakan, "pendidikan agama paling utama adalah di rumahnya.

Pendidikan seks kami mulai sejak bayi, dengan mengaktifkan beberapa benteng. Salah satu benteng seks perdana keluarga kami adalah RASA MALU. mengenalkan dan mengaktifkan rasa malu sejak bayi adalah cara kami memberi alarm kuat bagi anak. Salah satunya, bagian tubuh yang boleh terlihat dan tak boleh terlihat. HARUS sudah diberi batas jelas. Jika bingung cara memulainya, bisa mencari video Sentuhan Boleh di YouTube.

Saya tak berani menjamin, bahwa anak saya belum pernah melihat. Saya tak ada bersama mereka sepanjang hari. Tetapi saya menggunakan benteng lain yang tak diketahui anak. Apa itu? Akan saya bagi besok ya. InsyaAllah. Kali ini kita fokus pada cara menghilangkan konten pornografi yang telanjur menempel di HP anak atau murid Ayah Bunda


Cara Menghapus Konten Pornografi di HP

1. Secara umum:
a. Aktifkan internet filter bawaan HP. Ada juga aplikasi filtering atau internet filter pihak ketiga, misalnya: Block Websites, Peramban Aman Kontrol Orang Tua, Spin Safe Browser, Parental Control Light.
b. Di aplikasi HP (misal YouTube, Google Search), biasanya ada Parental Control. Silakan buka setting dan aktifkan.
c. Sering-sering buka history Browser HP dan Youtube anak dan hapus cache & cookies-nya.
d. Jangan pernah membuka situs yang menyerempet di HP yang digunakan bersama anak.
e. Tergoda dan tak tahan? Pakai Incognito di Chrome, dan atau Private Browsing di Mozilla. Tapi… jika ingin anak aman, mengapa menumpuk bahaya di jalur yang dilewatinya?

2. Jika HP sudah pernah membuka konten pornografi, ada 2 cara ekstrim, yaitu mengembalikan ke setting pabrik dan mengganti email utama yang digunakan. Ibarat noda, konten buruk ini memang tak bisa benar-benar dihapus kecuali menggunakan email dan setting baru



Selamat mencoba....

Jika ada yang belum jelas atau punya pendapat berbeda, silakan menulis di komentar ya....