Follow Instagram @susierna1 ya

Minggu, 22 Juli 2018

Rabu, 18 Juli 2018

Belajar Memasak dari Cookpad

Juli 18, 2018 0 Comments
Saya termasuk ibu yang senang memasak sesuatu yang unik, dan Cookpad Indonesia adalah salah satu situs andalan saya dalam belajar memasak. Cookpad adalah salah satu situs mencari resep masakan yang menjadi andalan saya. Kebanyakan makanan tradisional saja, karena saya tak terbiasa dengan menu internasional. Terbukti, beberapa kali diner ala Barat, saya sulit mengapresiasi menunya. Lebih sering berputar pada steak dan steak. Menu ala Italia sudah saya tutup dari entah kapan karena sering tidak cocok dengan lidah saya.


Salah satu menu yang paling sering saya Tanya adalah cara membuat ayam goreng ala KFC. Ini menu kesukaan anak, tetapi saya belum menemukan resep yang pas dan mirip. Jadi, memang harus terus mencari dan mencoba. Demi anak-anak juga.

Menu lain yang sering saya akses adalah menu membuat jajanan sederhana. Yang tiba-tiba diminta anak, atau yang sedang banyak dijual di sekitar mereka. Itu salah satu cara agar menjadi ibu yang dirindukan anak dan suami.

Cookpad adalah layanan berbagi resep berbagi resep terbesar di dunia, menyediakan wadah bagi setiap orang di seluruh dunia untuk berbagi dan mencari resep dengan cara mudah, rapi dan menyenangkan. Bisa dikatakan, hampir semua resep ada di sana. Bahkan resep tradisional. Saya belum aktif di situs ini. Masih sebatas mencari resep dan praktik. Padahal, jika mau membuat usaha berbasis makanan, situs ini sangat cocok untuk dijelajah. Apalagi salah satu visi Cookpad Indonesia adalah untuk memberdayakan semua perempuan Indonesia melalui memasak. Visi yang bagus, kan?

Apa saja yang dapat kita peroleh di Cookpad?

  1. Mencari menu masakan lebih mudah berdasarkan kategori bahan dan tingkat kemudahan
  2. Bisa menulis resep, membaginya, atau recook (memasak resep teman dan menulis kembali resepnya)
  3. Jutaan menu Indonesia bisa dicoba, termasuk resep kekinian yang dijual di sekitar sekolah anak
  4. Tampilan antarmuka situs cookpad ramah pengguna
  5. Ada resep terpopler seperti layaknya blog dan media sosial
  6. Dashbor Cookpad ramah pengguna, sehingga mereka yang mengaku gaptekkers bisa tetap berbagi resep dengan bahagia.
  7. Jutaan pengunjung harian, karena sangat ramah SEO. Silakan coba cari resep tertentu, resep di Cookpad akan muncul di laman pertama dan biasanya paling atas.

Nah… apakah AyBund ingin ikut berkontribusi di Cookpad atau hanya jadi silent reader seperti saya? Monggo-monggo mawon. Yang jelas, belajar memasak dari Cookpad itu sangat menyenangkan.

Selasa, 17 Juli 2018

Google Translate: Menerjemahkan Bahasa Asing dengan Cara Asyik

Juli 17, 2018 0 Comments
Google Translate menjadi salah satu aplikasi belajar harian saya. Cara asyik bagi saya, yang sering menerjemahkan literatur berbahasa asing ke dalam bahasa Indonesia untuk studi pustaka. Ada saja buku-buku sejarah berbahasa nggris dan Belanda yang harus saya baca dan pahami. Menggeluti dunia sejarah, membuat saya harus banyak membaca. Buku-buku sejarah paling banyak berasal dari luar negeri. Wajar saja, karena saat itu, budaya menulis di nusantara belum be gitu besar. Bukan hanya sebagai negara terjajah, karena saat negara kita masih berupa nusantara dan belum kedatangan bangsa Eropa pun, bukti tertulis sangat sulit ditemukan. Beberapa babad yang bisa dijadikan sumber sejarah lokal pun, biasanya berupa roman dengan nama-nama yang disamarkan. Beberapa berupa Bahasa sanepo, dan dilagukan dengan rima tertentu. Belum lagi, penanggalan sangat jarang diberikan. Budaya animisme masih kental, sehingga adakalanya nama-nama tokoh disamarkan dengan nama binatang. Bahkan tulisan sejarawan kulit putih pun harus benar-benar disaring karena sudut pandang dan budaya kita berbeda. Yah, itulah tantangan sejarawan.

terjemahan Kartini: Feiten en ficties karya C. Vreede-De Stuers
Contoh literatur yang saya baca. Saya kombinasikan ketiga bahasa ini untuk lebih baik dalam memahami artikel yang sebagian besarsaya dapatkan dari e-resources.perpusnas.go.id. Tulisan lengkapnya dapat dibaca di artikel: Membaca Jutaan Buku Digital dari Seluruh Dunia? Bisa!

Sebagai salah satu aplikasi belajar harian, mau tak mau, saya harus menulisnya. Mungkin AyBund juga membutuhkannya. Bagi AyBund yang tidak butuh, harap jangan anggap sepele aplikasi ini. Tingkat akurasinya terus bertambah. Saya yang pendidikan Bahasa Inggrisnya hanya sampai SMA pada tahun 1997 sangat terbantu. Bagaimana dengan Bahasa Belanda?

Saya tak pernah belajar Belanda, sedangkan sebagian literature yang saya baca berbahasa Belanda. Itulah salah satu alasan terbesarnya. Saya bisa pusing tujuh keliling mencari cara menerjemahkan jika tak ada aplikasi ini. Menyewa tenaga penerjemah juga akan sangat mahal dan tak terjangkau.

Nah, saat menerjemahkan artikel berbahasa Belanda, saya menggunakan Google Translate dari Bahasa Belanda ke Bahasa Inggris. Akurasi penerjemahan bahasa Belanda ke Indonesia belum bagus. Berbeda dengan penerjemahan bahasa Belanda ke bahasa Inggris yang jauh lebih baik.

Nah.. inilah peran Google Translate bagi saya sebagai salah satu aplikasi belajar saya yang wajib dan sangat membantu. Semoga bermanfaat.

Senin, 16 Juli 2018

Tips Menjaga Anak Tetap Aman di Dunia Maya

Juli 16, 2018 0 Comments
Sebagai bagian dari keluarga multimedia, kami, suami istri Susindra tak bisa mencegah anak-anak masuk ke dalam dunia maya atau dunia digital. Sejak mereka baru lahir pun jejak mereka sudah ada di data kependudukan yang dititipkan pula di dunia digital. Apalagi, melihat kedua orangtuanya berada di dunia yang gemerlap ini. Maka yang dapat kami lakukan adalah menjaga anak-anak tetap aman di dunia maya.


Pada kisah sebelumnya, saya berkisah tentang bagaimana kami mengedukasi anak dalam bersosialisasi di dunia maya melalui Facebook. Kami menetapkan batasan-batasan. Tak hanya itu,, perjanjian online pun kami berlakukan. Bagaimanapun, saya menganggap cara ini lebih lentur dan mengikuti zaman.
Nah, di posting sebelumnya tentang Buku Digital Literasi pun, saya telah memberitahu tentang akses memiliki beberapa puluh buku digital mengenai literasi digital secara gratis. Nah, saya tertarik memasukkan salah satu isi buku Seri Literasi Digital berjudul INTERNET SEHAT: Pedoman Berinternet Aman, Nyaman, dan Bertanggungjawab karya Relawan TIK bernomor ISBN 987-602-51324-1-4. Buku ini dijual di toko buku dan telah digitalkan secara resmi untuk semua kalangan. Kali ini saya membuat mengambil intisarinya saja dan menyesuaikan dengan kebutuhan anak saya.

Ada 7 tips menjaga anak tetap aman di dunia maya yang dapat kita praktikkan bersama, yaitu
1. Masuklah ke dunia online mereka. Keterlibatan orangtua di dunia online anak sangat penting, seperti layaknya orangtua harus mengenal teman bermain anak dan lingkup gerak mereka.
2. Buat aturan. Tak ada kebebasan tanpa batas, meskipun dunia online memang tanpa batas. Justru karena itulah, maka orangtua perlu membuat batas yang jelas. Buat aturan bersama yang dipasang di dekat tempat anak mengakses internet.
3. Ajarkan tentang privasi di dunia maya. Mengajarkan privasi membuat anak tahu batas informasi yang dapat dibagi. Ajarkan anak untuk:
a. Tidak memberikan data pribadi: foto, nama lengkap, nomor telpon, alamat email, alamat rumah, alamat sekolah, dan privasi lainnya.
b. Tidak membuka email/inbox orang yang tidak dikenal.
c. Segera laporkan ke orangtua jika ada pesan yang mengganggu
d. Menolak bertemu teman yang belum dikenal
4. Area online anak haruslah di tempat terbuka di dalam rumah. Kami melarang keras anak membuka HP dan laptop di kamar, agar tetap dapat memantau aktivitas mereka.
5. Menjadi sahabat online anak. Saya selalu siap membantu anak menapaki dunia maya dan menggandeng mereka agar tidak tersesat di belantaranya. Anak yang tahu bahwa orangtuanya adalah sahabatnya baik di dunia nyata maupun maya, akan lebih percaya diri dan santun dalam menjalani kedua kehidupan ini.
6. Setting gawai ke mode pencarian aman. Setiap perangkat sebenarnya telah memiliki penyaring. Kita tinggal mengaktifkan saja mode pencarian amannya. Tetapi untuk berjaga-jaga, saya tetap memantau aktivitas online anak dan mengajarkannya agar tidak scroll ke bawah tetapi kreatif bertanya jika belum mendapatkan jawabannya.
7. Kenali situs dan aplikasi yang aman untuk usianya. Ini sangat penting. Bisa dikatakan, saya tak pernah mau tertinggal dari anak, untuk urusan peronlinenan. Mereka mengakses apa, saya harus punya jawaban dan sanggahan jika ternyata tidak cocok. Saya selalu mengupgrade diri agar anak tidak tersesat. Menjadi cahaya harus bisa tahu jalan di depan agar tidak menyesatkan. Bukankah begitu?

Nah… itulah beberapa tips dari saya dan buku Internet sehat untuk AyBund yang memiliki keluarga multimedia namun masih khawatir mencemplungkan diri dan keluarga ke dalam dunia maya. Mengenali medan adalah salah satu tips aman menjaga anak tetap aman di dunia maya. Karena internet aman dan nyaman bagi anak adalah sebuah keniscayaan.

Minggu, 15 Juli 2018

Buku-Buku Digital Literasi yang 100% Gratis

Juli 15, 2018 0 Comments
Alangkah senangnya jika punya buku-buku tentang digital literasi, ya. Aybund pastilah merasakan urgenitas memiliki buku-buku ini karena beberapa kejadian anak-anak menulis tentang sesuatu yang sangat menakutkan di beberapa media. Saya termasuk ibu yang sibuk menjawab apa itu “agama Bowo”, “bagaimana cara Bowo mendapatkan uang”, “kenapa membayar untuk foto dengan Bowo”, dan seputar dunia Tik Tok yang menarik minat anak-anak pra remaja saya. Bukan minat punya aplikasi ini atau terlibat di dalamnya, tapi kenapa bisa begitu.


“Agama Bowo… mungkinkah ada agama semacam itu dan bagaimana bisa terjadi” adalah titik kritis mereka. Anak-anak pra remaja saya itu melihat apa yang terjadi di dunia digital begitu wow dan memukau. DAN MEREKA INGIN MEMPUNYAI UANG TAMBAHAN DARI DUNIA DIGITAL seperti Bowo. Secara logika, wajar jika anak melihat kemudahan dan gelimang harta pada 'teman' seusia memantik semangat. Di sinilah peran saya sebagai orangtua yang harus jeli dan bisa pelan-pelan memasukkan value keluarga dan etika tak boleh berbenturan dengan mimpi yang sedang mereka rangkai.

Masuk dunia digital, siapa yang belum masuk ke dunia digital? Putra saya sudah berada di sana sejak kecil. Sudah punya Facebook entah sejak tahun kapan saya lupa, karena saat itu saya membolehkan mereka bermain game, dan Facebook menjadi salah satu penyedia games online yang aman versi saya dan suami. Tentu dengan aturan ketat yaitu hanya untuk games, penerimaan teman harus seizin kami, hak pantau akun 100% (kami boleh membukanya malam hari untuk mengecek aktivitas mereka, termasuk inbox dan grup) dan tak boleh menulis status atau menulis hal/kata kasar di sana.


Bagaimana pun kami menyadari bahwa dunia digital, sebagaimana dunia nyata, diakses dan digunakan oleh semua jenis manusia. Orang-orang jahat bisa menggunakan wajah asli atau berkedok. Dan itu sangat mengkhawatirkan. Terlebih, otak logika anak baru tersambung 100% di usia 25 tahun. Jadi, anak baik pun bisa ikut-ikutan menulis hal buruk karena tak menyadari apa yang ia lakukan. Contoh ternyata adalah kasus komentar anak-anak tanggung berbau kencur yang mendewakan sosok Bowo. Saya terkejut dengan perubahan batas malu anak-anak usia SMP yang menyatakan mau diper**sa Bowo, yang mau menjual harta termahalnya demi… dan bahkan mau menjual ibu/neneknya untuk Bowo. Di sinilah, peran orangtua sangat diperlukan. Namun orangtua saja tidaklah cukup. Sekolah, pemerintah, dan lingkungan harus membentuk kolaborasi yang indah. Perlu lebih banyak buku-buku digital literasi yang dapat dibaca anak. Dan mau tak mau, buku digital menjadi salah satu media membaca favorit mereka.

31 Januari 2018 lalu, beberapa stakeholder yang bekerja sama dalam pembentukan situs penyedia buku-buku digital literasi. Mereka telah lama merasa prihatin dengan pertumbuhan angka pengguna internet, yang tidak dibarengi dengan pengetahuan dasar. Ada 137 juta pengguna internet, 50%-nya adalah digital native, yang masuk tanpa persiapan, karena orangtuanya pun tak punya persiapan. Mereka menceburkan diri di dunia ini dan tersesat bersama. Beberapa di antara mereka melupakan kesantunan beretika. Maka, belasan series buku literasi digita untuk semua umur ini diharapkan dapat menambah pengetahuan semua pengguna internet. Mari kita manfaatkan bersama-sama. Silakan mengakses Literasi Digital ID dan bebas baca/unduh serta bagi ke masyarakat lainnya. Jika di HP sudah ada Google Drive, file akan terunduh di sana tanpa membebani penyimpanan/storage HP.




Kita orangtua sebagai generasi X, Y, atau Z, mungkin bisa mengatakan bahwa buku riil lebih nyaman. Bau buku lebh sedap. Mata lebih sehat. Posisi membaca bisa nyaman. Tapi anak-anak generasi Z yang kita lahirkan bukanlah makhluk yang sama. Mereka penghuni asli dunia digital, yang dengan sendirinya lebih nyaman dengan segala bentuk digital. Maka, situs LITERASI DIGITAL bisa menjadi solusi bagi mereka (dan kita Ayah Bundanya). Ada beberapa puluh buku tentang digital literasi yang dapat dipilih, diunduh dan dibaca. Semuanya gratis. Situs ini tidak hanya untuk anak-anak, karena ebook siap unduh juga untuk semua usia. Buku-buku dari penerbit mayor didigitalkan untuk kita belajar bersama. Beberapa buku ini bisa kita beli versi cetaknya di toko buku. Asyik, kan? Tunggu apalagi.

Kamis, 12 Juli 2018

Belajar Parenting dengan ahlinya di Chanel Dr Tiwi TV

Juli 12, 2018 1 Comments
Dr Tiwi TV adalah salah satu situs favorit saya dalam belajar ilmu parenting praktis. Biasanya saya save di Youtube Mobile (offline) sehingga bisa menonton beberapa kali ketika senggang atau sambil menyetrika. Saya tipe auditory, sehingga mendengar menjadi salah satu metode belajar. Selain Channel Dr Tiwi, saya juga sering menonton Chanel Indonesia Morning Show yang untuk parenting.
Porsi saya belajar parenting di sini cukup besar. Pada saat menyetrika, biasanya saya mengunduh beberapa video yang satu tema. 1 tema/parenting talk rata-rata memang dibagi 3. Cara ini cukup ampuh untuk membuat otak saya tetap belajar meski sedang menyetrika. Mungkin bisa dikatakan, inilah salah satu rahasia saya betah menyetrika seharian. Karena selain video parenting, juga diselingi video musik akustik untuk lagu-lagu tahun 1980, 1990, dan 2000-an.

Seberapa penting bagi saya, tetap belajar parenting, meski anak-anak sudah cukup besar? Jawaban termudahnya adalah agar saya tetap bisa belajar dan menularkan ilmu yang tak seberapa ini. Belajar dari para dokter anak dan psikolog di Chanel Dr Tiwi TV membuat saya selalu ingat cara mengasah, asih dan asuh anak dengan cinta. Dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi atau lebih dikenal sebagai Dr Tiwi, sangat senang berbagi ilmu. Melalui akun youtube, beliau ingin menjangkau lebih banyak orangtua untuk memberikan pengasuhan anak dengan baik agar semakin banyak anak sehat. Semua tema video sudah pernah saya tonton dan dengarkan, tetapi tetap sering saya ulang-ulang. Dokter Tiwi beralamat di Perumahan River Park, Jalan Perumahan River Park Blok GH7 No.9, Jurang Manggu Barat, Pondok Aren, Jurang Mangu Barat, Pd. Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten 15222, menurut sumber Google Map.
Dr Tiwi: sumber chanel beliau
Saya senang mengunduh video beliau dengan fasilitas ofline yang diberikan oleh Youtube. Video Youtube luring atau offline tetap memiliki batas. Beberapa video harus didownload ulang dalam sehari, ada yang dua hari, dan durasi lainnya, sesuai setelan yang diterapan pemilik akun Youtube. Maka, saya harus bijak memakai fasilitas ini. Dan saat benar-benar perlu serta punya waktu mendengarkan. Setelah usai, biasanya langsung saya hapus. Youtube offline bagi saya memang lebih menyenangkan daripada membuka Youtube secara luring/langsung. Tak ada iklan yang terselip. Juga, bisa ditonton saat senggang dan berulang.

Daftar video favorit saya di DrTiwiTV:
1. Pengaruh Gadget pada Anak
2. Lindungi Anak dari Kejahatan Seksual
3. Ayah Hebat, bersama Ibu, Optimalkan Anak
4. P3K untuk Anak di Rumah (Child First Aid)
5. Ibu adalah Dokter Terbaik untuk Anak
6. Dongeng Anak
7. Bicara dan Bahasa pada Anak

Saat ini saya sedang hamil, maka, saya sedang memfokuskan pada video:
1. Persiapan Kehamilan dan Persalinan
2. Nutrisi Ibu Hami dan Menyusui
3. Stimulasi Dini untuk Bayi
4. Breastfeeding 911
5. Kupas Tuntas Alergi pada Bayi

Masih banyak judul lain yang harus ditonton. Bisa dikatakan, chanel ini cukup lengkap membahas tentang ibu dan anak (serta ayah). Semoga tulisan ini bermanfaat, ya Aybund….
Selamat belajar kembali.

Rabu, 11 Juli 2018

Ipusnas: Aplikasi Membaca Buku Original Secara Gratis di Smartphone dan Dekstop

Juli 11, 2018 0 Comments
Halo! Kembali lagi, saya. Setelah beberapa hari piknik di Magelang, Yogyakarta dan Jepara sendiri, akhirnya saya punya waktu untuk mengerjakan tugas Keluarga Multimedia di Kuliah Bunda Sayang Ibu Profesional. Kali ini saya akan membagi informasi tentang Ipusnas, sebuah aplikasi membaca buku original secara gratis di Smartphone dan dekstop/personal computer.


Dahulu, saya sering mencari informasi atau membaca buku tertentu di Google Book. Kebanyakan mendownload preview, dan jika cocok atau ada diskon, saya akan membelinya. Asyik, sih, bisa membaca buku di mana saja. Saat menunggui anak sekolah (dulu), menunggu dijemput, antre dokter, atau malah sengaja santai di pantai sambil ngopi dan baca buku digital. Intinya sih, Google Book menjadi must installed application. Halah… saya kadang sok ngingglis.

Nah.. suatu hari, saya butuh buku-buku sejarah. Buku jenis ini, jujur saja, tak mudah didapatan di toko buku luring seperti Gramedia, misalnya. Saya lebih sering membeli di Bukukita atau Komunitas Bambu. Sebelum membeli, saya harus pastikan buku tersebut sesuai dengan yang saya cari, karena saya fokus pada sejarah Jepara pada era pra kolonial dan era kolonial. Makanya butuh Google Book. Dan memang sangat membantu. Namun, saya harus mengakui bahwa buku yang didownload akan meminta ruang penyimpanan dan saya perlu membuangnya secara manual.

Iya, buku pilihan yang kita pinjam tersebut akan hilang sendiri dalam waktu 7 hari. Jadi tak perlu khawatir lupa mengembalikan dan didenda seperti perpustakaan luring/konvensional.

Jelang akhir tahun lalu saya mengenal Ipusnas. Dan ternyata, banyak keuntungan yang saya dapatkan ketika mendaftar ke Ipusnas, yaitu:
1. Saya bisa mengakses e-resources.perpusnas.go,id yang menawarkan jutaan buku digital lokal dan beberapa puluh akses perpustakaan dunia yang sangat berharga. Saya sudah membagi kisahnya di posting Membaca jutaan buku digital dari seluruh dunia.
2. Syarat pendaftaran sangat mudah dan super cepat. Bisa menggunakan email atau akun facebook.
3. User friendly, tampilan menarik dan nyaman di mata.
4. Membaca buku dan bersosialisasi dengan sesama penggemar buku
5. Berbagi kutipan, review, rekomendasi, dan lainnya layaknya platform media sosial
6. Buku yang dipinjam di Ipusnas berbentuk ebook utuh sehingga nyaman dibaca.
7. Ada penanda bacaan dan bookmark
8. Aplikasi Ipusnas dapat diinstal di HP, Iphone dan di dekstop. Meski beda perangkat, ebook yang dipinjam tetap bisa sama dan diakses di keduanya.
9. Buku yang dipinjam akan secara otomatis kembali ke rak perpustakaan yang dipinjam sehingga tak perlu repot memikirkan sisa memori penyimpanan.

Nah, itulah keasyikan memiliki akun dan aplikasi Ipusnas di gawai kita.

Cara mendaftar Ipusnas sangat mudah.


Pertama, AyBund perlu mendaftarkan keanggotaan di http://keanggotaan.pnri.go.id/. Bonus dari keanggotaan ini adalah akses ke e-resources.perpusnas.go.id. Nomor anggota PNRI (Perpusnas RI) dan password akan dikirimkan melalui email yang didaftarkan.


Kedua, download aplikasi Ipusnas. Bisa memilih di smartphone atau dekstop. Bisa juga keduanya. Setelah terinstal, tinggal sign in dengan nomor keanggotaan perpusnas dan passwordnya. 



Ketiga, siap memilih jutaan buku digital yang disediakan. Ada banyak rak-rak buku dari instansi atau tokoh terkenal yang meminjamkan buku di sana. Download saja ebook yang dipilih. Maksimal 2 buku. Seminggu kemudian, buku tersebut akan kembali secara otomatis ke rak semula. Saya belum pernah mencoba perpanjang buku, jadi tak bisa menjawab yang ini.

Nah… itulah aplikasi membaca Ipusnas yang menawarkan cara membaca buku original secara gratis di Smartphone atau komputer/dekstop. Selamat mencoba, ya!
[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

Jumat, 06 Juli 2018

Membaca Jutaan Buku Digital dari Seluruh Dunia? Bisa!

Juli 06, 2018 9 Comments
Bagaimana rasanya memiliki seluruh buku dalam genggaman? Woaa... syurga di dunia! Berasa seperti bepergian ke seluruh pelosok bumi dan mempelajarinya. Tapi, saat ini, saya hanya baru bisa membaca jutaan buku dari hampir seluruh dunia, yang telah dimasukkan ke dalam dunia digital. Alhamdulillah. Saya sangat terbantu sekali dalam mencari literatur yang saya butuhkan sebagai peneliti sejarah awam yang masih pemula. Yuhui... bisa dikatakan, itu salah satu profesi saya setelah mengikuti pelatihan kompetensi kesejarahan untuk peserta non kesejarahan.



Sebelumnya, saya mau membagi sedikit kebahagiaan, ah...

Ih! Lebay banget!

Bunsay Level 12!

Yeay…. Bahagianya…. Itu artinya, selangkah lagi menuju akhir dari perkuliahan selama 1 tahun pertama di Institut Ibu Profesional. Materi kali ini adalah KELUARGA MULTIMEDIA. Dan yang lebih istimewa adalah, pada materi ke dua belas ini, saya tak lagi, saya bisa praktik untuk diri sendiri.

Seberapa penting bercerita tentang diri sendiri dibandingkan anak-anak?

Ah, berbahagialah para ibu dan ayah yang memiliki anak yang nyaman dikisahkan di dunia digital. Kedua putra saya marah, jika kisah mereka dibaca orang lain. Mereka ingin tetap berada di zona privasi mereka. Jangankan dikisahkan, untuk foto kenangan keluarga pun, saya harus membujuk dan meminta dengan sangat. Kecenderungan ini sebenarnya agak mirip dengan saya di zaman dahulu. Hanya mirip saja, tidak sama. Saya takut difoto. Takut hasilnya jelek. Tak tahu artinya foto pribadi. Ya… semacam itulah. Dan ketika anak-anak tak mau difoto, saya hanya bisa mengelus dada.

Nah, Tantangan 10 hari untuk Keluarga Digital kali ini adalah mencari aplikasi belajar dan mereviewnya. Ada banyak aplikasi yang saya gunakan untuk belajar atau mempermudah hidup saya. Meski telah berusia cukup untuk dipanggil Bunda oleh anak-anak muda, tapi saya tak gaptek-gaptek amat, dan sangat menikmati manfaat yang ditawarkan internet. Untuk memasak, saya ada aplikasi sendiri. Memantau kehamilan (uhuk... saya sedang hamil juga), ada aplikasinya. Mengatur keuangan pun ada. Juga aplikasi desain yang memang saya pakai dan pelajari untuk mengembangkan minat (saya tak berani menyebutnya bakat). Bahkan, kala senggang, saya punya aplikasi games belajar Bahasa asing.

Untuk tantangan pertama ini, saya ingin mereview aplikasi yang saya sering pakai harian, yaitu: E-RESOURCES PNRI!


Untuk mengaksesnya, AyBund bisa membuka http://e-resources.perpusnas.go.id/. Ikuti saja cara daftarnya ya! Mudah, kok. Dan sangat cepat. Mendaftar di sini juga berarti memiliki kartu anggota perpustakaan nasional. Saya bisa pinjam buku ke Perpustakaan di Jakarta.

Yang paling saya sukai adalah akses membuka buku digital seluruh dunia. Untuk buku di Indonesia, saya paka aplikasi Ipusnas yang lebih nyaman karena bukunya berbentuk ebook utuh. Kapan-kapan saya review lagi.

Nah... inilah mengapa saya membutuhkan aplikasi ini, yaitu akses ke perpustakaan digital dunia:

1. Alexander Street Press
2. Alexander Street Video
3. Balai Pustaka
4. Brill Online
5. Cambridge University Press
6. Cengage Learning
7. Ebrary
8. Ebsco Host
9. IGI Global 19. Science Direct (NEW)
10. [NELITI] Repositori Studi Kebijakan Indonesia11. Indonesia Heritage Digital Library
12. Digital Angkasa
13. Lexis Nexis
14. Myilibrary
15. Proquest
16. Sage Knowledge
17. Taylor & Francis
18. Carano Pustaka Universitas Andalas
20. Britannica Library (NEW)
21. IG Publishing
(IG Group mencakup koleksi American Library Association, American Society for Training & Development, Amsterdam University Press, Business Expert, Columbia University Press, Hawai, ISEAS, Liverpool University Press, Nias Press, Princeton University Press, RIBA Architecture, dan University Of California Press)
22. Westlaw (NEW)