Follow Instagram @susierna1 ya

Rabu, 27 Februari 2019

7 Alasan Mengapa Tidak Menyusui

Menyusui adalah kegiatan yang harus dilakukan para ibu setelah melahirkan bayunya. ASI merupakan cairan hidup yang memiliki banyak antibodi untuk imunitas anak sejak lahir sampai dewasa. ASI juga membuat bayi lebih cerdas karena memiliki formulasi terbaik bagi manusia. Dan, ASI juga membuat proses bonding ibu dan anak lebih kuat sehingga anak menjadi pribadi yang nyaman di mana saja, tidak rewel, serta memiliki empati yang tinggi. InsyaAllah.



Ada 7 alasan yang biasa digunakan para ibu untuk tidak menyusui:

1. Harus kembali bekerja - bukan alasan krn bisa pakai ASI perah. Kantor juga mulai menyadari peran penting ini dan memberikan waktu serta ruang khusus bagi busui untuk memerah. Asi bisa tahan di suhu ruang (ber-AC) selama 8 - 8 jam. Di suhu tanpa AC bisa tahan 4 jam.

2. ASI tidak keluar lagi. Sebenarnya makin sering dihisap, makin banyak ASI yang keluar. Jika produksi ASI menurun atau terhenti, bisa jadi salah teknik menyusui, dan atau jarang disusukan.

3. Bayi tidak mau menyusu. Biasanya terjadi karena bingung puting. Ibu sejak awal menggunakan dot sebagai media menyusukan. Hal ini bisa dicegah dengan tidak memberi dot. Bisa dengan cup feeder atau dengan sendok. Jika telanjur bingung luting, bisa diterapi dengan cara menghentikan penggunaan dot. Latih anak minum dengan sendok sampai setengah kenyang lalu susui anak. Bayi yang biasa meminum dengan dot akan kesulitan minum langsung dari outing ibunya. Makanya perlu dilatih. Susu yang keluar dari dot biasanya lebih deras dan mudah. ASI yang keluar dari puting ibu yang agak lama tidak menyusui, volumenya akan mengecil dan sedikit. Bayi juga perli dilatih meminum ASI sampai payudara ibunya kosong.

4. Puting ibu lecet dan kesakitan. Beberapa busui menghentikan memberi ASI ketika puting susunya lecet parah dan memberi obat. 1 hari masih bisa denhan risiko produksi ASI berkurang cukup tajam, tapi jika 2 atau 3 hari, biasanya payudara akan membengkak bahkan terjadi masitis sehingga semakin sakit. Berhenti menyusui juga biasanya disertai memberikan botol pada bayi dengan risiko bayi bingung puting dan memilih botol daripada ASI.

5. Hamil lagi. Menyusui saat hamil memiliki risiko ibu kehilangan banyak nutrisi yang seharusnya dibutuhkan oleh janin dan ibu yang sedang hamil. Bayi yang minum ASI juga bisa mengalami diare karena tidak kuat dengan tingginya hormon estrogen ibunya. Hal ini membuat beberapa dokter menyarankan berhenti memberi ASI, kecuali sang ibu dapat meminimalisir risiko di atas sehingga ibu, bayi dan janin sehat dan berkecukupan nutrisinya.

6. Takut bentuk payudara kendor dan turun. Beberapa perempuan sangat memperhatikan penampilan tubuhnya sehingga rela tidak menyusui agar tetap memiliki tubuh proporsional. Faktanya, menyusui tidak membuat payudara kendor dan turun. Bentuknya akan kembali lagi setelah selesai menyusui.

7. Menderita HIV atau Hepatitis B. Dua penyakit ini memang dilarang menyusui bayinya dan harus diganti dengan susu formula.

6 komentar:

  1. ASIku gak keluar, sdh paaki banyak cara dan ke dokter, jd anak dua itu gak pakai ASI, untungnya aku gak hidup jaman medsos spt sekarang bisa2 dinyinyirin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdullah ya Mbak.
      ASI adalah salah satu cara bonding dan memberi nutrisi terbaik. Masih ada cara lainnya.

      Hapus
  2. Aku pernah denger alasan yg nomor 6 mbk, katanya takut kendor. Jd lebih milih ngasih anaknya sufor ketimbang asi. Pilihan org, pendapat org, memang beda beda ya mbk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak. Tiap orang punya alasan masing-masing

      Hapus
  3. Jadi ingat pengalaman istri saya waktu menyusui.

    Saya bersyukur banget punya istri keras kepala. Di tengah 'godaan' untuk beralih ke susu formula, mulai keluarga hingga dokter anak sekalipun.

    Walaupun nggak sampai 2 tahun seperti cita-cita awal sih.

    Karenanya, selama menyusui belum dilarang (karena faktor medis misalnya) saya rasa setiap ibu perlu mengupayakan untuk hanya memberi ASI untuk anaknya.

    Tapi itu pendapat saya sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, ingin ASI ekslusif harus keras kepala, bahkan meskipun banyak bujukan

      Hapus

Punya pengalaman serupa?
Berbagi kisah, yuk...